Ini dia masalahnya: konsep dari masa ribuan tahun lalu masih terus di bawa ke
masa kini. Di banyak negara Barat kini, para laki-laki sudah belajar untuk tak
hanya membukakan pintu buat perempuan, tapi juga buat siapa saja. mendahulukan
orang lain masuk ke pintu juga sudah mulai dilakukan untuk siapa saja, tak
hanya untuk perempuan. Jadi, sudah mulai ada perubahan wawasan rupanya. Hanya
Hollywood saja yang masih demen bawa citraan purba ke masa kini.
Tapi, apa betul sangkaan Anda bahwa para ibu-ibu yang nyeret suaminya nonton
Titanic itu disebabkan karena mereka mau liat Leonardo Di Caprio mengurbankan
jiwa buat Kate Winslet? Jangan-jangan ini asumsi yang mengandung bias? Bisa
saja mereka mau nonton Titanic karena ini memang film tentang sebuah tragedi
besar di masa lalu? Kisahnya juga sudah sangat terkenal. Apakah jika tak ada
adegan Di Caprio menyelamatkan Winslet maka ibu-ibu tak mau nonton? Kita nggak
tau. dan sebaiknya tak berandai-andai.
Juga sebaliknya, apakah jika yang selamat Di Caprio sementara yang mati
Winslet, maka tak ada ibu-ibu yang mau nonton? Saya tak berani menduga-duga.
Jika Anda sudah berani menyimpulkan bahwa demikianlah adanya, saya curiga
jangan-jangan ini penyakit bias gender Anda yang lagi-lagi muncul.
Seperti yang dibilang Pak Haniwar, laki-laki juga demen kok nonton dirinya
tampil sebagai hero dalam film. Supaya bisa ngerasa hebat. Kok Bung Andi nggak
ngomong apa-apa soal positioning penonton laki-laki dalam kasus ini? Apa betul
sih mereka itu nonton karena diseret-seret istrinya atau pacarnya?
Kedengarannya mirip keledai ya jika memang betul...
manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Konsep mengutamakan keselamatan perempuan sudah ada sejak ribuan
tahun lalu, Pak. Bukan karena perempuan itu lemah, tapi lebih karena
peranan perempuan dalam proses reproduksi.
Bayangkanlah ratusan ribu tahun yang lalu ketika manusia cuma
berjumlah ribuan orang. Kalau ada bencana melanda satu kampung, mana
yang lebih baik untuk keberlangsungan penduduk kampung tersebut:
menyelamatkan sepuluh perempuan dan satu laki-laki atau
menyelamatkan sepuluh laki-laki dan satu perempuan?
Jawaban yang benar yang pertama: sepuluh perempuan dan satu laki-
laki. Dengan sepuluh perempuan dan satu laki-laki, penduduk kampung
tersebut bisa kembali berkembang biak dengan cepat. Sebaliknya kalau
hanya ada satu perempuan, pertumbuhan mereka terbatas dari kemampuan
si perempuan untuk hamil dan melahirkan setiap tahun.
Konsep seperti ini kemudian berkembang dengan segala turunannya
seperti mendahulukan, membukakan pintu, menarikkan kursi, dan lain-
lain.
Logikanya hal seperti ini harusnya sudah tidak berlaku lagi seiring
dengan terjadinya ledakan populasi manusia. Tidak penting apakah
yang diselamatkan itu laki-laki atau perempuan, toh di lain
kampung "It's raining women, Halleluja".
Salahnya, banyak yang mengartikan tindakan seperti ini sebagai
bentuk "kepahlawanan" atau chivalry dalam bahasa Aceh.
James Cameron (dan penjaja budaya pop lainnya) sadar benar bahwa
tatanan sosial dari ratusan ribu tahun lalu itu masih terpatri di
kepala manusia baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Makanya
kisah fiktif kepahlawanan Jack Dawson itu dijadikan tema utama
filmnya. Jadilah para ibu-ibu berbondong-bondong terharu-biru
(sambil menyeret suaminya/pacarnya) menyaksikan Jack dengan gagahnya
mati demi Rose sambil menyumbang 1.8 miliar dolar Amerika ke pundi-
pundi Paramount Pictures.
Saya sangsi apakah film James Cameron (produksi 1997) itu akan sama
lakunya seandainya Rose yang berkorban mati kena hipotermia di
samudera Atlantik dan Jack yang selamat sampai ke daratan.
Andi