Dalam konteks buku murah, pada sekitar tahun 90-an saya pernah ditugaskan perusahaan saya di Pakistan selama 3 tahun dan saya masih ingat betapa harga buku-buku ilmu pengetahuan (termasuk text books) dan novels di negeri ini sangatlah murah sekali, termasuk terbitan dalam bahasa Inggris. Tapi memang sebagian kualitas kertasnya ada yang tidak begitu baik. Bagi saya isu kertas itu bukan nomer satu . jadi waktu itu oleh-oleh terpenting saya setiap pulang ke Indonesia adalah membawa satu dus buku murah sebatas cukup memenuhi quota maximum berat bawaan dalam tiket pesawat saya. Buku-buku ini banyak menolong keponakan saya juga dalam menyelesaikan studi kedokteran di tanah air karena kebetulan saya banyak beli text books kedokteran di sana.
Ketika saya kuliah, saya pun banyak membeli buku-buku sains dan teknologi terbitan India yang terkenal murah tapi cukup untuk sekedar menambah ilmu. Nah dari cerita buku di Pakistan dan India saya melihat mereka sudah mampu mencetak banyak buku murah dari sejak dulu. Sayang hingga saat ini saya tidak pernah menyelidiki kenapa mereka bisa menjadikan harga buku penting itu sebegitu murah padahal saya yakin tingkat ekonomi sebagian besar rakyat Pakistan dan India pun tidak secerah warga Indonesia. Mungkin kalau memang kita ada komitmen terhadap mutu pendidikan rakyat sebaiknya bisa belajar dari India, Pakistan atau Cina yang sama-sama berpenduduk besar dalam hal bagaimana meyediakan pengadaan buku murah . Disamping itu sebaiknya pemerintah kalaupun belum sanggup menggratiskan biaya sekolah maka segera bisa merealisasikan subsidi harga buku dan membebas-pajakkan buku. Itu sudah suatu lompatan penting bagi bangsa ini menuju pintu kompetisi global. Diharap dengan murahnya buku akan ada akselerasi perbaikan status dari "bangsa KULI" lambat laun menjadi benar-benar "bangsa KULI-ah" baik kuliah di sekolah formal atau kuliah mandiri/ otodidak. SH On 5/9/07, chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Akhirnya saya tergelitik juga untuk urun rembug masalah minat baca ini, > menurut saya yang pasti menurunnya minat baca diutamakan oleh harga buku > yang tidak terjangkau dibandingkan oleh faktor-faktor lainnya. > Saya ingat pada tahun tujuh puluhan saja semasa masih kuliah hal itu sudah > terasa mulai memberatkan bagi para mahasiswa untuk membeli buku / textbook > yang perlu di baca untuk referensi atau bahan belajar karena harganya telah > mencapai 15 rb sampai 40 rb untuk buku bekas dan 2 sampai 3 kali lipatnya > untuk buku baru, (bandingkan dengan biaya hidup yang masih sangat murah > untuk mahasiswa pendatang di yogya yang hanya berkisar 50 rb sampai 150 rb). > Pada masa itu pun sebenarnya sudah umum beredar dikalangan mahasiswa untuk > mensiasatinya dengan sistim copy referensi bacaan / hal yang dicari atau > dengan membeli buku / textbook terbitan INDIA yang sangat murah bahkan bisa > lebih rendah dari harga buku / textbook asli yang bekas. > Menurut desas-desus pada masa itu bahwa buku made in INDIA itu adalah > BAJAKAN dan memang menggunakan kertas yang relatif jelek sehingga ada trik > tertentu dalam peletakannya saat tidak di baca di rak buku. > Indonesia sudah di cap jadi negara pembajak nomor > wahid..............kepalang basah kenapa tidak sekalian saja membajak > buku-buku pinter demi kemajuan bangsa...........toh sudah terbukti dengan > kemajuan yang dicapai oleh INDIA saat ini dengan perlakuan mereka terhadap > kebutuhan buku-buku pinter yang dapat dimiliki secara murah. > Saya tidak tahu apakah saat ini strategi INDIA tersebut masih relevan > dilaksanakan atau masih bisa dijalankan atau tidak, sudah tentu dengan > sedikit nilai tambah dengan alih bahasa ke bahasa Indonesia, mengingat > kemampuan bahasa asing yang masih minim sekali dikuasai oleh para student > bangsa kita. > > salam, > csd > >
