Dear rekan2 FPK, Betul Mbak Nikensaya juga setuju dengan pernataan rekan dari e_k....kalo mo bicara pandai atau tidaknya tentang anak, kita tidak bisa memebawa negara....karena hampir semua anak yang dilahirkan dimanapun sepertinya tidak ada yang tidak pandai.
Hanya saja asupan pada anak Indonesia yang terbalik, mereka dijejali ilmu se-banyak-banyaknya saat usia dini dengan menggunakan metoda teoritis. Itu yang membuat mereka pada usia mapan menjadi jenuh, membuat tingkatan untuk menyerap mata pelajaran menjadi berkurang. Sebagai seorang pendidik saya lihat fenomena ini awalanya bukan merupakan se-matamata kesalahan dari pihak pendidik. Justru rata-rata itu masalah penjejalan ilmu datang dari "Selera" orang tua murid. Yang merupakan permintaan dari orangtua yang kurang percaya diri bahwa anak-mereka pada dasarnya pandai dan memohon kepada para guru agar menjejali anak-anak mereka dengan ilmu yang se banyak-banyaknya. Ini juga disebabkan karena kurang pengetahuan masyarakat kita mengenai permasalahan pada perkembangan anak. Kurangnya Informasi mengenai perkembangan anak. Usia berapa mereka baru mampu belajar membaca dan menulis, usia berapa anak bisa duduklama dan berkonsentrasi dengan benar, usia berapa anak dapat menghafal. Dan lagi metoda pendidikan anak di Indonesia juga meninggalkan metoda pemahaman. Dan lagi dinegri kita ini, anak diasuh dengan "steril", mereka dijauhkan dari pengalaman-pengalaman motorik yang menyebabkan anak kurang intuitif, tidak kreativ, sulit mengungkapkan secara verbal apa yang mereka rasakan. Dan ini semua membuat banyak anak (Juga Orang dewasa) di Indonesia menjadi pasif, kurang berani mengungkapkan pendapatnya, kurang bisa memutuskan benar atau salah. Takut sekali untuk mengeluarkan pendapatnya. Belum lagi sikap para pejabat pemerintahan kita, yang selalu bersikap merekalah yang paling benar. Enggan berdiskusi dengan para pakar pendidikan yang "real" maksud saya yang benar2 memahami permasalahan perkembangan anak. Masalah pendidikan merupakan sesuatu yang rumit, yang harus selalu ada pemmikiran secara team work oleh para pakar pendidikan, tidak hanya melulu pendidik saja, juga harus melibatkan para psikolog pendidikan, psikolog perkembangan anak, Sosiolog, sosialworker, ahli2 hukum dll..dll... Yang membuat saya bingung adalah sikap para pejabat Diknas....mungkin agak kurang PD juga atau tidak mempunyai prinsip yang mendasar dan benar dalam membuat aturan mendidik anak.....aturan pemerintah saat ini lebih mengikuti permintaan Khalayak yang sama sekali buta akan masalah psikologi anak, terutama masalah perkembangan anak.Ketidak tegasan ini membuat masalah pendidikan di negri ini semakin rumit saja, dan jelas sekarang yang menjadi korbannya adalah anak....seperti yang ditangisi oleh Mbak Niken tadi. Saya disini bisa memberikan secara garis besar, apa yang kira -kira harus menjadi pemikiran para pejabat pendidikan. 1. Anak dibawah usia 6 th harus mempunyai waktu untuk bermain sebanyak 80 % 2. Anak sampai usia 8 th harus mempunyai waktu bermain sebanyak 60% 3. Anak sampai usia 12 th harus mempunyai waktu bermain sebanyak 40% 4. Dan selebihnya secara normal kita semua membutuhkan waktu untuk diri sendiri sebesar 20%. Bermain bukan berarti anak tidak belajar, dari anak banyak meng"Eksplor" dunianya membuat mereka mempunyai banyak pengalaman yang baik dan buruk. Dan pengalaman2 ini membuat mereka menjadi sadar diri, paham akan dunianya, membuat mereka menjadi aktif,mempunyai intuisi yang tinggi, mau bertanya, rajin membaca, nalar dan logikanya jalan, bisa cepat mengambil keputusan, bisa mengatur strategi juga strategi untuk belajar. Juga membuat mereka malas untuk mencontek, ikut tawuran atau membuat onar dijalanan. Ya mudah2an tulisan ini bisa menjadi masukan bagi siapapun yang ingin membuat agar anak-anak Indonesia bisa berpikir Bebas dab Aktif sehingga merekapun tidak kalah dalam dunia Internasional. Salam dari Ratih --- e_k <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mbak Niken ... koq kedengarannya sedih banget ya? > Jangan sedih dong Mbak. Siapa sih orang yang bilang > bahwa anak Indonesia itu tidak pintar dan lemah > dalam menyerap suatu pembelajaran? Orang itu koq > bodoh banget ya?? > > Tidak ada seorangpun yang terlahir tidak pintar. > Jika semua anak Indonesia mendapat kesempatan yang > optimal, pastilah pintarnya akan mengalahkan yang > paling pintar (hehehe). Coba mbak bayangkan anak > Indonesia yang di tepi pantai, mereka sering makan > ikan, pasti asupan untuk otak mereka pun bagus > (dalam segi kesehatan). Namun jika itu tidak > didukung kesempatan dalam hal pendidikan, ya tetap > saja pintarnya tidak bisa optimal. > > Saya pikir kelemahan anak Indonesia hanyalah tidak > pandai berbicara mengungkapkan pendapat diri. > Padahal jika mereka memiliki kemampuan berkomunikasi > yang baik, pasti kepintaran yang ada di otak mereka > itu dapat terkeluarkan dengan baik. > > Kelemahan kedua (dan memang hanya dua menurut > saya) adalah mereka selalu ingin duduk di belakang. > Mereka kurang berani tampil, mereka kurang aktif. > Dari pemikiran itulah saya ingin rutin > menyelenggarakan lomba pidato untuk anak-anak di > desa saya, agar mereka berani dan mampu mengeluarkan > isi kepala mereka. Mungkin ada stasiun TV yang mau > menyelenggarakan ini?? Hal ini dapat membuka > kesempatan bagi anak-anak yang bersuara kurang bagus > (jadi tidak bisa ikut AFI atau Indonesian Idol) juga > yang berwajah kurang komersil (jadi tidak bisa ikut > ajang putri-putrian). Berilah kesempatan kepada > anak-anak lain yang mampu di bidang lain. Bukankah > Howard Gardner mengatakan ada tujuh kecerdasan? > Bagaimana jika stasiun televisi membuat tujuh macam > ajang itu?? > Bagaimana pendapatnya Pak Satrio Arismunandar - > Trans TV?? > > Hal yang sama pula pada kesehatan. > Semua orang bisa sehat. Sang Pencipta telah > menciptakan sistem tubuh untuk keseimbangan diri > dalam menghadapi kondisi apapun. > > Pemulung sampah makan dengan tangan kotor tidak > sakit perut. Pengemis berjalan tanpa alas kaki tidak > masalah. Orang eskimo hidup di hawa yang sangat > sangat dingin tidak masalah. > > Namun begitu pola makan dan pola hidup kita salah > (tubuh tidak tegap, makan tidak teratur, tidak gerak > badan, makan terlalu pedas, diet mati-matian, makan > berlebih, sering marah, sering memaki, kurang minum, > banyak makan lemak, dll), itulah kesehatan mulai > tidak terjaga. > > Jadi mbak Niken, tidak ada satupun anak Indonesia > yang tidak pintar. Jika mbak bisa memberikan > kesempatan kepada anak pemulung yang ada di wilayah > mbak untuk bisa sekolah, maka pasti ia bisa menjadi > seperti kawannya yang lulusan dari Santa Ursula atau > Pelita Harapan. Boleh diuji kebenaran pendapat aku > ini mbak. > > Salam sukses untuk semua anak Indonesia.
