Bu Ratih, membaca tulisan Ibu, saya jadi ikut prihatin melihat anak-anak 
sekarang, yang sejak usia 4 tahunan sudah diikutkan play group, usia 5 atau 6 
tahun sudah dijejali berbagai macam les (les renang, bahasa Inggris, piano, 
kumon dll), suatu hal yang tak pernah terbayangkan pada masa kecil saya.
   
  Tapi di sisi lain saya juga melihat banyak sekali orang yang sukses (dalam 
karir), karena sejak usia dini sudah mendapat pendidikan secara intensif. Dalam 
dunia hiburan misalnya Michael Jackson (artis, USA), Sherina (artis, Indonesia).
  Dalam dunia olahraga misalnya Ian Thorpe (renang, Australia) atau Juergen 
Klinsmann (sepakbola, Jerman).
  Dalam dunia politik misalnya keluarga Gandhi (India) atau Kennedy (USA).
   
  Jadi bagaimana sebaiknya  Bu Ratih, solusi yang pas buat pendidikan anak usia 
dini?
   
  Salam.
   
    

Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dear rekan2 FPK,

Betul Mbak Nikensaya juga setuju dengan pernataan
rekan dari e_k....kalo mo bicara pandai atau tidaknya
tentang anak, kita tidak bisa memebawa
negara....karena hampir semua anak yang dilahirkan
dimanapun sepertinya tidak ada yang tidak pandai.

Hanya saja asupan pada anak Indonesia yang terbalik,
mereka dijejali ilmu se-banyak-banyaknya saat usia
dini dengan menggunakan metoda teoritis. Itu yang
membuat mereka pada usia mapan menjadi jenuh, membuat
tingkatan untuk menyerap mata pelajaran menjadi
berkurang.

Sebagai seorang pendidik saya lihat fenomena ini
awalanya bukan merupakan se-matamata kesalahan dari
pihak pendidik. Justru rata-rata itu masalah
penjejalan ilmu datang dari "Selera" orang tua murid.

Yang merupakan permintaan dari orangtua yang kurang
percaya diri bahwa anak-mereka pada dasarnya pandai
dan memohon kepada para guru agar menjejali anak-anak
mereka dengan ilmu yang se banyak-banyaknya. 

Ini juga disebabkan karena kurang pengetahuan
masyarakat kita mengenai permasalahan pada
perkembangan anak. Kurangnya Informasi mengenai
perkembangan anak. Usia berapa mereka baru mampu
belajar membaca dan menulis, usia berapa anak bisa
duduklama dan berkonsentrasi dengan benar, usia berapa
anak dapat menghafal. Dan lagi metoda pendidikan anak
di Indonesia juga meninggalkan metoda pemahaman.

Dan lagi dinegri kita ini, anak diasuh dengan
"steril", mereka dijauhkan dari pengalaman-pengalaman
motorik yang menyebabkan anak kurang intuitif, tidak
kreativ, sulit mengungkapkan secara verbal apa yang
mereka rasakan. Dan ini semua membuat banyak anak
(Juga Orang dewasa) di Indonesia menjadi pasif, kurang
berani mengungkapkan pendapatnya, kurang bisa
memutuskan benar atau salah. Takut sekali untuk
mengeluarkan pendapatnya. 

Belum lagi sikap para pejabat pemerintahan kita, yang
selalu bersikap merekalah yang paling benar. Enggan
berdiskusi dengan para pakar pendidikan yang "real"
maksud saya yang benar2 memahami permasalahan
perkembangan anak. Masalah pendidikan merupakan
sesuatu yang rumit, yang harus selalu ada pemmikiran
secara team work oleh para pakar pendidikan, tidak
hanya melulu pendidik saja, juga harus melibatkan para
psikolog pendidikan, psikolog perkembangan anak,
Sosiolog, sosialworker, ahli2 hukum dll..dll...

Yang membuat saya bingung adalah sikap para pejabat
Diknas....mungkin agak kurang PD juga atau tidak
mempunyai prinsip yang mendasar dan benar dalam
membuat aturan mendidik anak.....aturan pemerintah
saat ini lebih mengikuti permintaan Khalayak yang sama
sekali buta akan masalah psikologi anak, terutama
masalah perkembangan anak.Ketidak tegasan ini membuat
masalah pendidikan di negri ini semakin rumit saja,
dan jelas sekarang yang menjadi korbannya adalah
anak....seperti yang ditangisi oleh Mbak Niken tadi.

Saya disini bisa memberikan secara garis besar, apa
yang kira -kira harus menjadi pemikiran para pejabat
pendidikan.
1. Anak dibawah usia 6 th harus mempunyai waktu untuk
bermain sebanyak 80 %
2. Anak sampai usia 8 th harus mempunyai waktu bermain
sebanyak 60%
3. Anak sampai usia 12 th harus mempunyai waktu
bermain sebanyak 40%
4. Dan selebihnya secara normal kita semua membutuhkan
waktu untuk diri sendiri sebesar 20%.

Bermain bukan berarti anak tidak belajar, dari anak
banyak meng"Eksplor" dunianya membuat mereka mempunyai
banyak pengalaman yang baik dan buruk. Dan pengalaman2
ini membuat mereka menjadi sadar diri, paham akan
dunianya, membuat mereka menjadi aktif,mempunyai
intuisi yang tinggi, mau bertanya, rajin membaca,
nalar dan logikanya jalan, bisa cepat mengambil
keputusan, bisa mengatur strategi juga strategi untuk
belajar. Juga membuat mereka malas untuk mencontek,
ikut tawuran atau membuat onar dijalanan.

Ya mudah2an tulisan ini bisa menjadi masukan bagi
siapapun yang ingin membuat agar anak-anak Indonesia
bisa berpikir Bebas dab Aktif sehingga merekapun tidak
kalah dalam dunia Internasional.

Salam dari Ratih 

Kirim email ke