Kalau tidak salah Pak Ariel sudah lama hijrah dari Salatiga (Satya Wacana,
CMIIW) ke Australia, sebelum tahun 1997.
Pandangan beliau juga mirip-mirip dengan George Junus Aditjondro dan Arief
Budiman, keduanya juga sudah lama hijrah ke Australia.
Mungkin ini sebabnya tulisan-tulisan Pak Ariel kurang "membumi" karena sudah
terlalu lama tidak pulang kampung, dan hanya memantau Indonesia dari jauh?
Salam.
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau Anda baca lagi, Bapak Ariel ini tidak sedang berbicara soal
peminggiran, Pak Manneke. Dia sedang mencoba menganalisis mengapa
masyarakat kita dari dulu suka memilih jalan kekerasan.
Cuma entah kenapa analisisnya harus muter-muter dulu ke
urusan "seksisme anti perempuan" dan "bangkitnya murka maskulin".
Seakan-akan menjadi maskulin identik dengan anti perempuan,
militeristik, dan penuh kekerasan, dan lebih parah lagi, dipandang
seperti wabah. Siapa yang sekarang sedang berstereotip-jender ria?
Kalau zamannya membela perempuan belum musim, mungkin masalah budaya
kekerasan kita itu akan dilihat dari sudut pandang militerisme,
keterpasungan politik, atau gagalnya pendidikan budi pekerti. Cuma
kan belakangan Kompas seperti kesetanan memuat artikel tentang
perempuan. Hampir tiada hari tanpa artikel sejenis; jadi peristiwa
Mei 1998 pun sepertinya sah saja dibelokkan untuk topik kesayangan
Kompas itu.
Sama saja umpamanya kalau saya menulis bahwa kepemimpinan SBY itu
lelet dan terlalu berbasis konsensus, maka orang-orang akan
mengangguk-angguk. Tapi apa perlu umpamanya saya lanjutkan dengan
beranalisis bahwa hal itu adalah akibat "politik kita yang makin
feminin", karena kebetulan saya punya stereotipe bahwa yang berpaham
konsensus di atas segalanya itu adalah perempuan?
Jadi komentar saya persis seperti yang Anda harapkan. Pak Ariel ini
cuma berteori saja. Tidak berbasis realitas.
Andi