Hehehe Pak Manneke, Anda kok jadi tidak pede begitu. Obrolan kita 
soal tulisan ini saja belum selesai Anda sudah mau membahas 
pandangan saya; pakai ngajak-ngajak Pak Ariel dan semua miliser 
lagi. Kalau mau mengajak semua orang, kita santap dululah teori 
militerisme supermaskulin Anda itu (keriting lidah saya membacanya). 
Gimana sih? Kok tiba-tiba masyarakat kita tahu-tahu Anda kasih 
stempel yang panjang itu?

Andi

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> He he, saya salah alamat? Mungkin Mas Agus perlu mengundang Ariel 
Heryanto ke FPK ini. Tapi, ngomong-ngomong Bung Andi ini jadinya 
pendapatnya sendiri apa sih? Dia bilang bahwa Ariel sedang bicara 
tentang Budaya Kekerasan di negeri ini, dan MENGAPA terjadi 
peristiwa Mei 1998. Ariel melacak sumbernya ke militerisme yang 
supermaskulin. Kalo ini pijakannya, bukankah tak keliru jika saya 
bilang bahwa militerisme yang membawa murka maskulin ke permukaan 
ini dampak utamanya paling terasa pada perempuan sebagai mahkluk 
yang selalu diposisikan sekunder oleh maskulinisme? 
>    
>   Sila tak setuju dengan Ariel, tapi jelaskan dong pijakan Anda 
sendiri apa dan relasinya dengan Mei 1998 apa? nanti, biar para 
miliser FPK yang berpendapat apakah kajian Anda lebih afdol daripada 
punya Ariel. Gampang, kan? 
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Saya sangat menangkap apa yang disampaikan Pak Manneke, 
Pak 
> Rahadian. Dalam tanggapannya beliau membaca tulisan Pak Ariel 
> sebagai masalah peminggiran terhadap perempuan dan menduga bahwa 
> banyak yang akan membantah premis peminggiran perempuan ini.
> 
> Sayangnya sarkasme Pak Manneke salah alamat. Ariel tidak sedang 
> bicara tentang perempuan. Beliau sedang bicara tentang budaya 
> kekerasan di negara kita, mengapa terjadi tragedi Mei 1998. Tapi 
> analisis Pak Ariel ini, terus terang, tidak saya setujui. Itu yang 
> saya sampaikan.
> 
> Begitu, Pak.
> 
> Andi
>


Kirim email ke