Ya benar Anda, Bu Yuli. Politik tidak mengenal jender. Kekerasan juga tidak mengenal jender.
Anda lihat sendiri: jadi lucu kan kalau masalah jender disangkutpautkan ke hal-hal yg tidak ada hubungannya? Maksud saya menulis begitu untuk memperlihatkan alangkah lucunya tulisan Ariel yang menyalahkan maskulinitas untuk semua kekerasan yang terjadi di negara kita. Sama lucunya kalau saya tiba-tiba menyalahkan femininitas untuk semua keleletan SBY. Jaka Sembung bawa botol, gitu lho. Terakhir (juga buat Pak Paulus), yang saya kritik adalah opini Pak Ariel. Bukan cara penyampaiannya. Tolong baca lagi tulisannya dan bandingkan dengan tanggapan saya. Andi --- In [email protected], Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Good point, pak Tanuri. Kita akan lebih ber-opini dengan mengetengahkan "pokok" persoalan yang ada didalam masyarakat ini, bukan meng-kritik cara penyampaian opini-opini-nya oleh para pengirim opini itu sendiri. > Karena setiap orang mempunyai cara menuliskan opini masing- masing. > Dibawah ini "point" nya pak Andi bisa juga diambil "intisari" nya. Tetapi gimana sich politik "yang makin feminin" itu? > Apa benar cara pemikiran saya bahwa "politik" itu sebenarnya tidak mengenal "gender?". > Karena memang harus mengikut sertakan semua kalangan, bukan hanya supaya bersifat "feminin" atau "maskulin", bukan? Harus bisa meliput semua golongan, saya rasa? > Mohon lebih banyak input dari para miliser. > > Salam, > Yuli > > Paulus Tanuri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kenapa kalau setiap ada permasalahan dilemparkan ke tengah forum, yang > dibahas hampir selalu pada siapa penulisnya, cara penyampaiannya, dan > lainnya tapi tidak pada pokok persoalannya sendiri ? > > Regards, > Paulus T >
