Maaf Pak Andi jika saya menganggap anda mungkin tidak menangkap sarkasme Manneke.
Saya tidak setuju dengan premis anda bahwa gender tidak ada kaitannya dengan politik dan kekerasan. Untuk poin yang pertama, politik dan gender, contoh termudah adalah ketika Megawati ramai di calonkan menjadi presiden menjelang selesainya masa pemerintahan Habibie. Waktu itu sebagian kalangan mempermasalahkan 'keperempuanan' Megawati bukan kemampuannya. Mereka bilang bahwa perempuan tidak dapat menjadi pemimpin. Contoh ini jelas menunjukkan bahwa posisi sosial dan politik ditentukan oleh persoalan identitas seksualitasnya. Kenapa demikian? Ini lantaran gagasan bahwa pemimpin itu identik dengan pekerjaan laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang 'lumrah' dan 'alamiah'. Catatan, pemimpin itu sendiri sebagai sebuah posisi mungkin tidak bergender, tetapi digender-kan atau diberikan atribut maskulin untuk menunjukkan dominasi laki-laki. Kaitan antara kekerasan dan gender sangat kental disamping identitas lain seperti kelas atau suku. Contoh mudahnya adalah propaganda Orba tentang Gerwani. Cerita bohong tentang tari telanjang dan pesta seks yang melibatkan Gerwani sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Gerwani bukanlah sikap perempuan yang 'normal'. Dengan kata lain, cerita-cerita itu dimaksudkan untuk menjelaskan kepada publik bahwa femininitas yang diterima sebagai nilai bukanlah seperti yang dilakukan oleh para perempuan Gerwani tersebut. Melalui propaganda ini, kelompok di AD bermaksud mendapatkan justifikasi untuk menghancurkan perempuan-perempuan tersebut. Dalam kasus kekerasan rumah tangga, kaitan antara gender dan kekerasan lebih jelas lagi. Kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri jika menggunakan analisis gender akan menggiring kita pada bagaimana posisi perempuan dan laki-laki dalam sebuah keluarga. Sudah menjadi semacam maxim bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri harus menurut apa yang dikatakan oleh suaminya. Ketika si istri dianggap `melawan' otoritas suami, kekerasan dipakai untuk menunjukkan pada si istri tentang maxim tersebut. Kekerasan dipakai untuk menunjukkan dominasi. Sekarang kembali ke tulisan Ariel. Ariel cukup hati-hati ketika mengutip Boellstorff dan Clark. Ia menggunakan kata "jika" dalam tulisannya: "Jika pengamatan itu ada benarnya, mungkin bisa ditambahkan mengapa bentuk ungkapan kemarahan itu biasanya berwujud kekerasan fisik." Ini menunjukkan sejauh mana degree of commitment penulis (Ariel) terhadap analisis tersebut. Dalam hal ini, ia tidak gegabah untuk melakukan gebyah uyah. Ariel juga tidak secara sembarang memahami maskulinitas dalam konteks Mei. Ia sudah menjelaskannya bagaimana sifat maskulin itu sendiri dikonstruksi sedemikian rupa dalam sejarah. Misalnya sifat heroisme yang diajarkan dalam sejarah sangat sarat dengan kekerasan seperti misalnya angkat senjata, tentara di medan perang, yang semuanya mengarah pada nilai-nilai militeristik. Nah ketika Orba berkuasa, nilai-nilai militeristik inilah yang dominan dalam kehidupan masyarakat. Ariel sudah memberikan contohnya tentang menjamurnya Menwa, ormas preman yang berseragam loreng dsb. Pada akhirnya nilai-nilai itu sendiri memberikan landasan pada maskulinitas. Namun konstruksi maskulinitas ini sendiri dibangun dengan kekerasan. Nah bagaimana sekarang mengkaitkan persoalan Mei dengan faktor maskulinitas. Di sini Ariel meminjam teori Marcus Mietzner dan berspekulasi bahwa tidak adanya perang berkepanjangan membuat nilai maskulinitas yang dipelihara oleh tentara mengalami tekanan batin. Padahal untuk menjaga nilai tersebut amatlah penting demi eksistensi kekuasaannya. Maskulinitas yang frustasi kemudian meledak dan perempuan yang posisinya inferior menjadi korbannya. Apa yang dipaparkan Ariel adalah satu interpretasi dari sudut yang berbeda, yaitu gender. Karena itu ia bicara maskulinitas dan kekerasan. Buku Saskia Wieringa tentang penghancuran Gerwani mungkin salah satu pintu yang baik untuk memahami bagaimana gender digunakan sebagai perangkat analisis. Salam Rahadian --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Lalu, ngapain waktu tentara Rusia masuk Jerman pada akhir perang dunia, yang jadi korban perkosaan adalah sekitar 2 juta perempuan Jerman? Mengapa waktu partisi India-Pakistan 250 ribu perempuan Bengal jadi korban perkosaan? Mengapa puluhan ribu perempuan di bekas Jugoslavia jadi korban perkosaan waktu Balkanisasi terjadi di wilayah itu? Kok waktu zaman pendudukan Jepang di Asia Timur dan Tenggara, adanya jugun ianfu yang semuanya perempuan? > > Kenapa juga para anggota Dewan negeri maupun di propinsi-propinsi/kabupaten-kabupaten ini sibuk membuat rancangan hukum yang mau membatasi cara berpakaian dan ruang gerak perempuan di ranah publik? > > Coba deh, saya nantikan jawaban cerdas dari Bung Andi.
