By the way, Ariel hampir tiap tahun pulang kampung. Rumahnya masih di Salatiga
sono. Di Australia, karena tugasnya di Indonesian Studies, maka siang malam
tiap hari tiap minggu kerjanya mikirin Indonesia. Yang tinggal di Indonesia
secara fisik belum tentu selalu mikir soal Indonesia tiap hari dalam hidupnya.
manneke
Rahadian Permadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya tak sepenuhnya setuju jika lantaran mereka pindah ke Australia atau
jauh dari Indonesia maka pandangannya tidak 'membumi'. Terkadang
tulisan-tulisan dari seberang bisa juga sangat bagus dan menyentuh
ketimbang tulisan yang dibuat di tanah sendiri. Mungkin pengalaman
sebagai orang rantau memperkaya wawasan mereka dalam melihat persoalan
yang terdapat di tanah kelahirannya.