Lalu, ngapain waktu tentara Rusia masuk Jerman pada akhir perang dunia, yang 
jadi korban perkosaan adalah sekitar 2 juta perempuan Jerman? Mengapa waktu 
partisi India-Pakistan 250 ribu perempuan Bengal jadi korban perkosaan? Mengapa 
puluhan ribu perempuan di bekas Jugoslavia jadi korban perkosaan waktu 
Balkanisasi terjadi di wilayah itu? Kok waktu zaman pendudukan Jepang di Asia 
Timur dan Tenggara, adanya jugun ianfu yang semuanya perempuan? 
   
  Kenapa juga para anggota Dewan negeri maupun di 
propinsi-propinsi/kabupaten-kabupaten ini sibuk membuat rancangan hukum yang 
mau membatasi cara berpakaian dan ruang gerak perempuan di ranah publik?
   
  Coba deh, saya nantikan jawaban cerdas dari Bung Andi.

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ya benar Anda, Bu Yuli. Politik tidak mengenal jender. Kekerasan 
juga tidak mengenal jender. 

Anda lihat sendiri: jadi lucu kan kalau masalah jender 
disangkutpautkan ke hal-hal yg tidak ada hubungannya? Maksud saya 
menulis begitu untuk memperlihatkan alangkah lucunya tulisan Ariel 
yang menyalahkan maskulinitas untuk semua kekerasan yang terjadi di 
negara kita. Sama lucunya kalau saya tiba-tiba menyalahkan 
femininitas untuk semua keleletan SBY. Jaka Sembung bawa botol, gitu 
lho.

Terakhir (juga buat Pak Paulus), yang saya kritik adalah opini Pak 
Ariel. Bukan cara penyampaiannya. Tolong baca lagi tulisannya dan 
bandingkan dengan tanggapan saya.

Andi

Kirim email ke