Pak Rahadian dan Pak Manneke,

Saya kembali lagi ke argumen awal. Yang dianalisis oleh Ariel adalah 
masyarakat pada umumnya; bukan komunitas tertentu. Itu sebabnya saya 
kontraskan dengan tentara, kumpulan preman, atau organisasi preman 
berbasis agama. Nilai-nilai yang mereka anut tidak otomatis sama 
dengan yang dianut masyarakat umum. Ketika dihadapkan dengan pilihan 
mati demi negara, agama, atau mata pencariannya umpamanya; 
masyarakat umum tidak akan semudah itu bilang. "Yak, saya pilih 
mati". Demikian juga orang biasa tidak akan mudah memperkosa dengan 
alasan apapun. Sebaliknya, orang-orang yang dirasuki ideologi atau 
tumbuh dengan nilai moral yang eksklusif bisa melakukan (ATAU 
MEMBIARKAN) hal-hal yang tidak akan dilakukan orang biasa.

Saya ambil contoh peristiwa Holocaust. Kondisi keterpurukan Jerman 
setelah PD I memungkinkan mereka mengobarkan PD II. Tapi peristiwa 
Holocaust hanya bisa terjadi pada masyarakat yang terasuki ideologi 
fasisme dan rasisme oleh demagog brilian seperti Hitler.

Demikian juga dengan kasus Mei 1998. Penjelasannya akan lebih 
sederhana kalau kekerasan itu dilakukan oleh orang-orang yang 
menempatkan ideologi atau konsep kepatuhan pada atasan atau uang di 
atas rasa kemanusiaannya. Komunitas semacam itu tidak sedikit 
jumlahnya, tapi juga bukan representasi masyarakat pada umumnya.

Apalagi kalau membaca penjelasan Pak Rahadian tentang pengaruh tidak 
adanya perang berkepanjangan pada tentara. Sepertinya penjelasan itu 
menyangkut psikologi tentara dan bukan psikologi masyarakat. Contoh-
contoh yang diberikan Pak Rahadian dan Pak Manneke juga adalah 
contoh perilaku kotor tentara. Bukan perilaku masyarakat. 

Analisis seperti itu juga bukannya tidak ada pembantahnya. Militer 
Singapura, contohnya, tidak pernah berperang. Kaum lelakinya, 
tentara atau bukan, harus menjalani pendidikan militer selama 2 
tahun. Tiap hari saya naik kereta dengan anak-anak muda berseragam 
loreng. Saya tahu persis di dalam pendidikan tersebut mereka diajari 
juga bagaimana menjadi manusia yang tega membunuh lawannya. Tapi itu 
ternyata tidak menjadikan masyarakat sana jadi senang kekerasan atau 
anti perempuan. 

Sebaliknya, dengan menganggap bahwa masyarakatlah yang sakit dalam 
peristiwa-peristiwa kekerasan di Indonesia seperti menafikan bahwa 
kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan bukanlah norma umum dalam 
hidup bermasyarakat. Contoh berita tentang pelecehan yang dilakukan 
polisi kemaren menunjukkan bahwa masyarakat kita tergugah 
kemanusiaannya melihat perempuan dilecehkan (bukan diperkosa) oleh 
orang yang lebih berkuasa. Dalam masyarakat yang benar sakit, 
peristiwa semacam itu pastilah akan dianggap lumrah. 

Itulah sebabnya saya meragukan; benarkah kita sebagai anggota 
masyarakat benar sanggup menonton perkosaan massal dengan bersorak 
sorai? Saya tidak sedang meragukan ada tidaknya perkosaan massal di 
Mei 1998. Saya sedang bertanya, benarkah kejadian nista itu 
dilakukan oleh masyarakat Indonesia, oleh orang-orang seperti kita 
dan tetangga-tetangga kita? Saya menangkap bahwa Ariel menjawab ya 
untuk pertanyaan itu dengan analisis murka maskulinnya. Mungkin 
pengertian saya terhadap Ariel salah, tapi saya tegas menjawab tidak.

Andi



--- In [email protected], "Rahadian Permadi" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maaf Pak Andi jika saya menganggap anda mungkin tidak menangkap 
sarkasme
> Manneke.
> 
> Saya tidak setuju dengan premis anda bahwa gender tidak ada 
kaitannya
> dengan politik dan kekerasan. Untuk poin yang pertama, politik dan
> gender, contoh termudah adalah ketika Megawati ramai di calonkan 
menjadi
> presiden menjelang selesainya masa pemerintahan Habibie. Waktu itu
> sebagian kalangan mempermasalahkan 'keperempuanan' Megawati bukan
> kemampuannya. Mereka bilang bahwa perempuan tidak dapat menjadi
> pemimpin.  Contoh ini jelas menunjukkan bahwa posisi sosial dan 
politik
> ditentukan oleh persoalan identitas seksualitasnya. Kenapa 
demikian? Ini
> lantaran gagasan bahwa pemimpin itu identik dengan pekerjaan laki-
laki
> dianggap sebagai sesuatu yang 'lumrah' dan 'alamiah'. Catatan, 
pemimpin
> itu sendiri sebagai sebuah posisi mungkin tidak bergender, tetapi
> digender-kan atau diberikan atribut maskulin untuk menunjukkan 
dominasi
> laki-laki.
> 
> Kaitan antara kekerasan dan gender sangat kental disamping 
identitas
> lain seperti kelas atau suku. Contoh mudahnya adalah propaganda 
Orba
> tentang Gerwani. Cerita bohong tentang tari telanjang dan pesta 
seks
> yang melibatkan Gerwani sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa apa 
yang
> dilakukan oleh perempuan-perempuan Gerwani bukanlah sikap 
perempuan yang
> 'normal'. Dengan kata lain, cerita-cerita itu dimaksudkan untuk
> menjelaskan kepada publik bahwa femininitas yang diterima sebagai 
nilai
> bukanlah seperti yang dilakukan oleh para perempuan Gerwani 
tersebut.
> Melalui propaganda ini, kelompok di AD bermaksud mendapatkan 
justifikasi
> untuk menghancurkan perempuan-perempuan tersebut.
> 
> Dalam kasus kekerasan rumah tangga, kaitan antara gender dan 
kekerasan
> lebih jelas lagi. Kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri 
jika
> menggunakan analisis gender akan menggiring kita pada bagaimana 
posisi
> perempuan dan laki-laki dalam sebuah keluarga. Sudah menjadi 
semacam
> maxim bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri harus menurut 
apa
> yang dikatakan oleh suaminya. Ketika si istri dianggap `melawan'
> otoritas suami, kekerasan dipakai untuk menunjukkan pada si istri
> tentang maxim tersebut. Kekerasan dipakai untuk menunjukkan 
dominasi.
> 
> Sekarang kembali ke tulisan Ariel. Ariel cukup hati-hati ketika 
mengutip
> Boellstorff dan Clark. Ia menggunakan kata "jika" dalam
> tulisannya: "Jika pengamatan itu ada benarnya, mungkin bisa
> ditambahkan mengapa bentuk ungkapan kemarahan itu biasanya berwujud
> kekerasan fisik." Ini menunjukkan sejauh mana degree of commitment
> penulis (Ariel) terhadap analisis tersebut. Dalam hal ini, ia tidak
> gegabah untuk melakukan gebyah uyah. Ariel juga tidak secara 
sembarang
> memahami maskulinitas dalam konteks Mei. Ia sudah menjelaskannya
> bagaimana sifat maskulin itu sendiri dikonstruksi sedemikian rupa 
dalam
> sejarah. Misalnya sifat heroisme yang diajarkan dalam sejarah 
sangat
> sarat dengan kekerasan seperti misalnya angkat senjata, tentara di 
medan
> perang, yang semuanya mengarah pada nilai-nilai militeristik. Nah 
ketika
> Orba berkuasa, nilai-nilai militeristik inilah yang dominan dalam
> kehidupan masyarakat. Ariel sudah memberikan contohnya tentang
> menjamurnya Menwa, ormas preman yang berseragam loreng dsb.  Pada
> akhirnya nilai-nilai itu sendiri memberikan landasan pada 
maskulinitas.
> Namun konstruksi maskulinitas ini sendiri dibangun dengan 
kekerasan.
> 
> Nah bagaimana sekarang mengkaitkan persoalan Mei dengan faktor
> maskulinitas. Di sini Ariel meminjam teori Marcus Mietzner dan
> berspekulasi bahwa tidak adanya perang berkepanjangan membuat nilai
> maskulinitas yang dipelihara oleh tentara mengalami tekanan batin.
> Padahal untuk menjaga nilai tersebut amatlah penting demi 
eksistensi
> kekuasaannya. Maskulinitas yang frustasi kemudian meledak dan 
perempuan
> yang posisinya inferior menjadi korbannya.
> 
> Apa yang dipaparkan Ariel adalah satu interpretasi dari sudut yang
> berbeda, yaitu gender. Karena itu ia bicara maskulinitas dan 
kekerasan.
> Buku Saskia Wieringa tentang penghancuran Gerwani mungkin salah 
satu
> pintu yang baik untuk memahami bagaimana gender digunakan sebagai
> perangkat analisis.
> 
> Salam
> 
> Rahadian
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], manneke budiman
> <hepaesthos@> wrote:
> >
> > Lalu, ngapain waktu tentara Rusia masuk Jerman pada akhir perang
> dunia, yang jadi korban perkosaan adalah sekitar 2 juta perempuan
> Jerman? Mengapa waktu partisi India-Pakistan 250 ribu perempuan 
Bengal
> jadi korban perkosaan? Mengapa puluhan ribu perempuan di bekas
> Jugoslavia jadi korban perkosaan waktu Balkanisasi terjadi di 
wilayah
> itu? Kok waktu zaman pendudukan Jepang di Asia Timur dan Tenggara,
> adanya jugun ianfu yang semuanya perempuan?
> >
> > Kenapa juga para anggota Dewan negeri maupun di
> propinsi-propinsi/kabupaten-kabupaten ini sibuk membuat rancangan 
hukum
> yang mau membatasi cara berpakaian dan ruang gerak perempuan di 
ranah
> publik?
> >
> > Coba deh, saya nantikan jawaban cerdas dari Bung Andi.
>


Kirim email ke