Inilah yang disebut dengan "rabun gender" itu (bahasa Inggrisnya sih "gender
blind", tapi daripada diterjemahkan jadi "buta", lebih baik jadi "rabun" aja).
Makanya, bagi Bung Andi ini sangat sulit sekali untuk bisa melihat pelbagai
permasalahan sosial dari perspektif perempuan. Dikiranya, kalo buat laki-laki
tak ada masalah, maka pasti buat perempuan juga tak bermasalah.
Sebetulnya yang perlu dilakukan mudah saja. Berhenti sejenak untuk melihat
apakah suatu kebijakan, pernyataan, gagasan, aturan/hukum punya dampak khusus
pada perempuan yang tak dialami oleh laki-laki. Jika ini mau dilakukan, niscaya
akan bisa mulai terlihat bagaimana perspektif perempuan ini bisa difungsikan
dalam analisis-analisis sosial.
Terus terang aja, Bung Andi ini ilmunya hebat. Malah bisa jadi narasumber
kopi darat FPK. Cuma ya itu, nggak ada perspektif gendernya.
manneke
Rahadian Permadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf Pak Andi jika saya menganggap anda mungkin tidak menangkap
sarkasme
Manneke.
Saya tidak setuju dengan premis anda bahwa gender tidak ada kaitannya
dengan politik dan kekerasan. Untuk poin yang pertama, politik dan
gender, contoh termudah adalah ketika Megawati ramai di calonkan menjadi
presiden menjelang selesainya masa pemerintahan Habibie. Waktu itu
sebagian kalangan mempermasalahkan 'keperempuanan' Megawati bukan
kemampuannya. Mereka bilang bahwa perempuan tidak dapat menjadi
pemimpin. Contoh ini jelas menunjukkan bahwa posisi sosial dan politik
ditentukan oleh persoalan identitas seksualitasnya. Kenapa demikian? Ini
lantaran gagasan bahwa pemimpin itu identik dengan pekerjaan laki-laki
dianggap sebagai sesuatu yang 'lumrah' dan 'alamiah'. Catatan, pemimpin
itu sendiri sebagai sebuah posisi mungkin tidak bergender, tetapi
digender-kan atau diberikan atribut maskulin untuk menunjukkan dominasi
laki-laki.
Kaitan antara kekerasan dan gender sangat kental disamping identitas
lain seperti kelas atau suku. Contoh mudahnya adalah propaganda Orba
tentang Gerwani. Cerita bohong tentang tari telanjang dan pesta seks
yang melibatkan Gerwani sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa apa yang
dilakukan oleh perempuan-perempuan Gerwani bukanlah sikap perempuan yang
'normal'. Dengan kata lain, cerita-cerita itu dimaksudkan untuk
menjelaskan kepada publik bahwa femininitas yang diterima sebagai nilai
bukanlah seperti yang dilakukan oleh para perempuan Gerwani tersebut.
Melalui propaganda ini, kelompok di AD bermaksud mendapatkan justifikasi
untuk menghancurkan perempuan-perempuan tersebut.
Dalam kasus kekerasan rumah tangga, kaitan antara gender dan kekerasan
lebih jelas lagi. Kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri jika
menggunakan analisis gender akan menggiring kita pada bagaimana posisi
perempuan dan laki-laki dalam sebuah keluarga. Sudah menjadi semacam
maxim bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri harus menurut apa
yang dikatakan oleh suaminya. Ketika si istri dianggap `melawan'
otoritas suami, kekerasan dipakai untuk menunjukkan pada si istri
tentang maxim tersebut. Kekerasan dipakai untuk menunjukkan dominasi.
Sekarang kembali ke tulisan Ariel. Ariel cukup hati-hati ketika mengutip
Boellstorff dan Clark. Ia menggunakan kata "jika" dalam
tulisannya: "Jika pengamatan itu ada benarnya, mungkin bisa
ditambahkan mengapa bentuk ungkapan kemarahan itu biasanya berwujud
kekerasan fisik." Ini menunjukkan sejauh mana degree of commitment
penulis (Ariel) terhadap analisis tersebut. Dalam hal ini, ia tidak
gegabah untuk melakukan gebyah uyah. Ariel juga tidak secara sembarang
memahami maskulinitas dalam konteks Mei. Ia sudah menjelaskannya
bagaimana sifat maskulin itu sendiri dikonstruksi sedemikian rupa dalam
sejarah. Misalnya sifat heroisme yang diajarkan dalam sejarah sangat
sarat dengan kekerasan seperti misalnya angkat senjata, tentara di medan
perang, yang semuanya mengarah pada nilai-nilai militeristik. Nah ketika
Orba berkuasa, nilai-nilai militeristik inilah yang dominan dalam
kehidupan masyarakat. Ariel sudah memberikan contohnya tentang
menjamurnya Menwa, ormas preman yang berseragam loreng dsb. Pada
akhirnya nilai-nilai itu sendiri memberikan landasan pada maskulinitas.
Namun konstruksi maskulinitas ini sendiri dibangun dengan kekerasan.
Nah bagaimana sekarang mengkaitkan persoalan Mei dengan faktor
maskulinitas. Di sini Ariel meminjam teori Marcus Mietzner dan
berspekulasi bahwa tidak adanya perang berkepanjangan membuat nilai
maskulinitas yang dipelihara oleh tentara mengalami tekanan batin.
Padahal untuk menjaga nilai tersebut amatlah penting demi eksistensi
kekuasaannya. Maskulinitas yang frustasi kemudian meledak dan perempuan
yang posisinya inferior menjadi korbannya.
Apa yang dipaparkan Ariel adalah satu interpretasi dari sudut yang
berbeda, yaitu gender. Karena itu ia bicara maskulinitas dan kekerasan.
Buku Saskia Wieringa tentang penghancuran Gerwani mungkin salah satu
pintu yang baik untuk memahami bagaimana gender digunakan sebagai
perangkat analisis.
Salam
Rahadian