kelihatan-nya pak sutiyoso menggalangkan kekuatan bangsa hanya untuk gengsi pribadinya. Mengapa harus di iklankan masalah ini kepada rakyat Indonesia yang sudah hampir bosan dengan berbagai macam demo. dengan alasan menjaga martabat bangsa, rakyat terpaksa harus demo lagi dan demo lagi. kalu saja jumlah orang yang demo untuk masalah ini di kerahkan untuk membersihkan jakarta pasti jakarta sudah kekurangan sampah.
saya jamin orang australia tertawa geli dengan pristiwa ini, karena yang rugi adalah orang indonesia yang demo. kalau saja waktu yang di pakai untuk demo di pakai untuk cari uang pasti masa depan keluarganya akan sedikit lebih baik. Semua orang mengerti kalau pak Sutiyoso merasa malu dan merasa di lecehkan, tingka polisi autralia itu sangat tidak wajar terhadap tamu resmi negara mereka, tapi haruskah pak sutiyoso membawa rakyat Indonesia ikut berkubang dalam lumpur politik australia?? orang australia keturunan, penjahat?, narapidana? anjing, babi, najis dan di maki dengan segala kata kotor tapi sekali lagi mereka hanya cengar-cengir. pertanyaan-nya adalah mengapa pak Sutiyoso tidak menyelsaikan masalah ini secara internal antara kedua pemerintah indonesia dan australia?? masih belum cukupkah demo2 yang di lakonkan hampir setiap minggu di jakarta? secara ekonomi(ekonomi indonesia) masalah ini akan lebih murah kalau di selesaikan secara internal, kalau para pendemo adalah bukan penganggur bayangkan nilai ekonomi dari waktu yang mereka pakai untuk demo? salam --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0705/30/115008.htm > ==================== > > Laporan Wartawan Kompas Emilius Caesar Alexey > > JAKARTA, KOMPAS -- Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuntut klarifikasi > dari pemerintah Australia terkait pelecehan yang dilakukan oleh polisi > federal dengan memasuki kamar hotelnya pada hari Selasa sore (29/5) > untuk mengundangnya ke pengadilan sebagai saksi kasus terbunuhnya > wartawan Australia di Balibo 1975. > > Sutiyoso juga menuntut permintaan maaf dari pemerintah Australia atau > kerja sama kota kembar (sister city) dengan New South Wales akan > dibatalkan. "Jika tidak minta maaf, saya menganggap Australia arogan. > Untuk apa melanjutkan kerja sama dengan pihak yang arogan?" kata > Sutiyoso di Jakarta, Rabu (30/5). > > Menurut Sutiyoso, tindakan polisi federal Australia yang menerobos > masuk ke kamar hotelnya, dengan kunci master hotel, merupakan > pelecehan. Kedatangannya sebagai pejabat negara atas undangan gubernur > negara bagian New South Wales seharusnya dilindungi kekebalan dalam UU > Kekebalan Asing. > > "Saya tidak terkait dengan kasus Balibo 1975 yang menewaskan lima > jurnalis asing. Tahun itu, tim yang saya pimpin tidak pernah masuk ke > Kota Balibo," kata Sutiyoso. > > Ia memaparkan kunjungan ke negara bagian New South Wales yang > beribukota Sydney beberapa hari lalu itu adalah atas undangan > pemerintah setempat terkait kerja sama sister city. "Saya tiba disana > pada Minggu 28 Mei sekitar pukul 10 waktu setempat dan diterima secara > protokoler resmi dan menginap di Hotel Sangri La," katanya. > > Ia menjelaskan sepanjang Minggu sampai Selasa siang, ia mengikuti > sejumlah acara seperti peninjauan ke kebun binatang setempat yang > mengadakan kerja sama dengan Ragunan, serta melihat proses pengolahan > limbah. Pada hari Selasa, ia menghadiri acara antara lain pertemuan > bisnis dan mengunjungi Museum Nasional Kelautan. Sebetulnya pada pukul > 18.00 telah dijadwalkan acara selanjutnya, namun karena masih ada > waktu ia memutuskan kembali ke hotel. > > "Pada pukul 16.30 waktu setempat hari Selasa, saya beristirahat di > dalam kamar hotel saya yang terkunci. Namun tiba-tiba masuk dua orang > anggota kepolisian, salah satunya Sersan Thomas yang pada intinya > menyampaikan surat pemanggilan untuk memberikan kesaksian dalam kasus > tersebut," katanya. > > Gubernur DKI mengatakan ia tidak pernah terlibat dan tidak mengetahui > masalah itu dan selama di Timor Timur tidak pernah memasuki kota > Balibo. "Saya marah dan saya kemudian meminta mereka untuk keluar. > Selanjutnya saya memanggil protokol resmi dari pemerintah New South > Wales untuk meminta penjelasan. Namun sampai saat itu pemegang > otoritas setempat tidak bisa dihubungi," katanya. > > Sutiyoso menjelaskan ia kemudian menghubungi Konsulat Jenderal RI di > Sydney dan juga Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. "Saat itu, saya > jelaskan singkat kejadiannya dan Pak Hassan bilang kembali saja ke > Jakarta, tidak usah melanjutkan lawatan di negara tersebut. Saya > kemudian memutuskan kembali dan tidak menghadiri rangkaian acara yang > masih ada," paparnya. > > Pada Rabu ini, Gubernur DKI rencananya akan bertemu dengan Menlu > Hassan Wirajuda untuk menjelaskan secara detil apa yang terjadi dan > akan meminta Deplu mengklarifikasi peristiwa ini kepada pemerintah > Australia. > > Sutiyoso juga mengancam akan meninjau kerja sama sister city dengan > New South Wales bila tidak ada permintaan maaf secara resmi. "Saya > merasa dilecehkan sebagai pejabat negara yang berkunjung dengan resmi. > Di Jakarta kita melindungi Kedutaan Australia dengan baik. Kita penuhi > apa kebutuhan mereka untuk menjamin keamanan," katanya. > > Ketika ditanyakan pada saat terjadinya peristiwa terbunuhnya wartawan > Australia di Balibo, Sutiyoso mengatakan ia yang saat itu berpangkat > Kapten bersama pasukannya tidak pernah memasuki Balibo namun ia > menolak menyebutkan secara rinci dimana posisi pasukannya. "Saya tidak > bisa sampaikan informasi itu karena itu bagian dari operasi intelijen. > Pak Yunus Yosfiah pun sudah mengklarifikasi hal tersebut," katanya. > > > > > Copyright 2006 Kompas Group >
