Maaf, saya tak mengerti arah dan maksud paragraf pertama Anda. Saya tak tahu
kesimpulan begini ini ditarik dari mana. Tidak ada sesuatu yang dibenarkan
dengan cara menafikan yang lain. Jadi, mohon perjelas idea Anda itu dideduksi
dari mana.
Untuk paragraf kedua, saya kira masalahnya sama. Tak ada yang membenarkan
pelumuran bendera dengan lumpur. Ingat Bung Vavai, konteks dari thread ini
adalah posting Sir Ajud yang menyumpahi supaya pelaku pelumuran bendera itu
mati seperti Munir. Mau menebas mereka pakai mandau segala. Saya bilang,
daripada repot-repot mengayau kepala pelumur lumpur pada bendera ini, lebih
baik pakai energinya buat mengganyang para koruptor dan pelanngar HAM, yang
kelakukannya lebih daripada melumuri bendera dengan lumpur.
Saya sendiri tak punya simpati pada pelaku demo yang melumuri bendera dengan
lumpur, dan saya sendiri tak akan pernah melakukan hal seperti itu. Tak
tertarik sama sekali, pun untuk membenarkannya.
Semoga jelas, ya.
manneke
Muhammad Rivai Andargini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah Prof,
Kita kan nggak bisa membenarkan sesuatu dengan menafikan yang lain.
Kalau begitu terus nanti analoginya bisa bermacam-macam. Boleh dong kita
mencuri dari koruptor. Boleh dong kita memukuli koruptor, pelanggar HAM,
pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku
diri sebagai penguasa negeri ini. Bagaimana mekanisme pembenarannya.
Saya lebih setuju bahwa kita sebal pada koruptor, pelanggar HAM, pencuri
uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku diri
sebagai penguasa negeri ini, namun kalau mau demo, pilihlah simbol yang
tidak melambangkan negara. Buatlah boneka koruptor, pelanggar HAM,
pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku
diri sebagai penguasa negeri ini dan lumuri mereka dengan lumpur.
Vavai
manneke budiman wrote:
>
> Lumpur tanah yang dilumurkan pada bendera merah putih itu tak ada
> artinya dengan lumpur yang ditimbunkan pada bendera oleh para
> koruptor, pelanggar HAM, pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan
> preman berdasi yang mengaku diri sebagai penguasa negeri ini.