Partai-partai politik kita mempunyai rasionalitasnya
sendiri ketika berebut memasang ribuan bendera di
sepanjang jalan-jalan. Partai-partai politik kita
sejatinya belumlah dibangkitkan oleh semangat
reformasi sosial yang sesungguhnya, dan barulah
sekadar berpolitik untuk mempertahankan kemapanan yang
sudah dimiliki. Partai-politik kita sedikit banyak
lahir dari  pemahaman yang relatif primitif atas
kekuasaan, sebagaimana juga digambarkan kebanyakan
lapisan elite kita yang juga kerap primitif dalam
menikmati kekayaannya. Lihat bagaimana mewahnya gaya
hidup elite kita, dengan rumah-rumah yang luar-biasa
besar, mobil-mobil yang super mewah di tengah-tengah
fakta miskinnya sekitar 1/3 dari bangsa ini. 

Sulit untuk mengatakan bahwa kita-kita yang bisa
bermilis tidak ikut bertanggung-jawab, sedikitnya
dengan berbagi pemikiran dan berdiskusi tentang
penyebab masalah dan berkampanye untuk mengatasinya.
Selalu saja menjadi referensi saya, ketika kebetulan
saya lima tahun pernah berada di negara lain yang
relatif maju, dan serta-merta mengamati, menyaksikan
dan merasakan bagaimana pemihakan oleh lapisan-lapisan
inteklektual mereka kepada nasib kalangan miskin.
Tradisi itu menjadi semacam kontrol atau mungkin
membangkitkan semacam auto-kritik juga. Tradisi itu
mungkin berperan dalam mengokohkan susunan sosial
bangsa itu. Sehingga, sekadar menyuarakan pemihakan
kepada kalangan miskin saja sudah merupakan hal yang
pantas dihormati. 

  
Pentolan parpol kita mengetahui bahwa rakyat dapat
dirangsang dengan bendera, money-politics dan
pidato-pidato yang menusuk kalbu. Mereka juga tahu
kiat untuk memadamkan gelora para idealis yang ingin
memperkenalkan perubahan, yang ingin dan bersemangat
untuk mendorong bangkitnya deliberative democracy,
yakni hadirnya otoritas otoritas baru yang tidak
semata-mata bertumpu pada 'power of voting'.
Deliberative democracy lebih kurang melahirkan
otoritas menurut 'kuasa' profesionalisme,
intelektualisme, dan 'kekuatan atas pemihakan kepada
mereka yang tidak beruntung'. Bahkan secara moral
merupakan upaya untuk menimbulkan semangat untuk
menolak kebodohan dan pembodohan. Pentolan-pentolan
yang kadung menikmati keuntungan dari jalan-jalan
pintas, tahu bagaimana mematahkan semangat perubahan
ini. Jika tidak berhasil dengan uang, iya dengan cara
bagaimana membuat aspirasi semacam itu sebagai sesuatu
yang layak ditertawakan.

Menurut saya, Jakarta tengah menghadapi krisis dan
bisa berubah menjadi mala-petaka di masa datang.
Karena kita kadung terbiasa menertawakan, maka kini
urusan kemacetan akan segera menjadi tertawaan
bersama-sama, dan dengan 'lega' sudah ruang atau
rongga dada kita dari  himpitan kemacetan. 

Menurut hemat saya, baiklah kita berhenti memandang
seolah-olah politik dan kepartai-politikan adalah 
jalan menuju hadirnya ratu adil. Mereka juga himpunan
dari manusia biasa dengan semua potensi untuk
menyalah-gunakan ke-elite-an mereka. Bahkan, marilah
kita abaikan hal itu, agar asumsi-asumsi itu tidak
mengeras dalam pikiran kita. Bukanlah berarti kita
tidak lagi memilih di pemilu, tetapi yang saya maksud
adalah berhenti menumpahkan semua pengharapan kepada
mereka, sebab mereka juga manusia biasa..

Manakalah saya mulai berbicara terlalu sinistis
mengenai masalah-masalah bangsa kita, maka selalu saja
saya teringat semboyan yang katanya tertulis di
berbagai tempat di sebuah pusat pelatihan pasukan
elitenya Amrek:'loose talk destroy them both..."



--- manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Waaaa, jangan ngambek dong, Bung Sohib :) Saya
> saranken Anda mengikuti trend politik masa kini:
> bikin partai tandingan yang isinya barisan sakit
> hati korban busway. Kalo bisa melewati electoral
> threshold 5%, pasti dapet kursi di DPRD, dan bisa
> mengupayakan pembubaran busway sekaligus partai
> busway dan konco-konconya. Gimana?
>    
>   manneke

Kirim email ke