Bung Haniwar dan Bung Anton dan Bung-Bung lain yang sepantaran,
  Untung anda terlalu muda untuk berkenalan " with body and soul" dengan PKI. 
Jika anda pada waktu mulai kebangkitan PKI  menjelang Pemilu 1955 sudah bisa 
baca koran dan diteruskan dengan gegap gempitanya PKI pada awal tahun 1960 an 
anda sudah jadi mahasiswa dan anda tidak menjadi simpatisan PKI atau organisasi 
onderebouwnya; anda adalah orang yang hebat! Anda terbukti teguh dalam  prinsip 
atau mungkin apolitik. Saya ingat rekan-rekan aktivis CGMI ketika itu yang pada 
hakikatnya rival ideologi dari organisasi yang saya ikuti ( GMNI) kalau bertemu 
tutur sapanya simpatik tetapi jangan ditanya kalau sudah sampai dalam tataran 
"berdebat". Mereka sangat capable dan , tajam dan berpengetahuan komprehensip. 
Jumlah kader mereka tidak banyak tetapi sangat berkualitas. Untuk mengimbangi 
mereka betul-betul perlu banyak baca, diskusi dan praktek lapangan. Nah 
sekarang saya adalah seorang dosen tua yang hampir pensiun. Menghadapi 
mahasiswa saya yang dari tahun ke tahun semakin
 menunjukkan mundurnya semua semangat kegairahan untuk berbuat sesuatu bagi 
bangsa, negara dan tnah airnya, tentu sangat sedih sekali.Kalau ada 10 % saja 
yang cerdas dan kerja keras paling-paling obbyektip hidupnya adalah menjadi 
profesional, bekerja di perusahaan asing ,bergaji besar dan hidup mapan. Sama 
sekali tidak salah! Menghadapi generasi muda yang secacam ini seringkali timbul 
"kemalasan " saya untuk bertemu mereka di kelas. Kelas-kelas yang "membisu 
tanpa feedback" yang mengharapkan sang dosen "ngomong" terus (dengan bantuan 
power points) selama 2,5 jam. Pada akhir kuliah beberapa mahasiswa datang dan 
minta ijin untuk meng Copy Power Points. Tidak mengherankan ketika pada awal 
tahun 1980-an ketika saya bertemu dengan Dr Sudjati Djiwandono (tokoh CSIS) 
yang baru saja keliling Eropa Timur dan UNI Sovyet kala itu mengatakan :"Bung 
Tjuk, jangan sampai mengirimkan pemuda-pemuda kita ke Eropa Timur dan Uni 
Sovyet!" Mengapa khawatir Bung ? " tukas saya. Sudjati yng doktor
 dalam ilmu politik itu mengatakan bahwa dia hampir pasti bahwa pemuda-2 yang 
dikirim ke negara 2 Blok Timur itu akan jadi Komunis, karena kondisi yang 
"relatip sangat merata" dinegeri negeri "Tirai Besi" ini  dan sangat terbukanya 
peluang bagi generasi muda untuk menuntut ilmu sampai ketingkat apapun sesuai 
dengan minat,bakar dan kemampuannya.Semua itu bebas biaya karena menjadi 
tanggung jawab negara.
  Terus terang saja bahwa kehancuran Uni Sovyet lebih karena kegagalan "Sistem 
Ekonomi" nya ketimbang "Sistem Politik,Sosial dan Kenegaraannya". Dalam hal ini 
kebetulan saya berkesempatan mengikuti kuliah di kelas Prof Alec Nove pakar " 
Socialism anda Marxian Economy " di University of Glasgow pada tahun 1979. 
Dalam forum seminar yang tidak terlalu banyak peminat dan selalu dihadiri oleh 
banyak aktivis "Partai Komunis Skotlandia" Guru besar ini dengan gigih 
mengatakan bahwa "Sistem Ekonomi Sosialis" seperti yang dikembangkan oleh Uni 
Sovyet dan Negara-negara satelitnya di Eropa Timur akan gagal. Karena tidak 
peka terhadap signal pasar sehingga jauh dari efisiensi. Ketidak efisienan 
perekonomian model Sovyet ini  sifatnya "inherent" dan dapat dirunut balik 
sampai kepada awal pemerintahan Lenin yang mengalami "krisis pangan". Ketika 
itu Lenin berupaya mengatasi krisis ekonomi Sovyet dengan kebijakan Novaya 
Ekonomika Politika (NEP). Ternyata prediksi Prof Nove terbukti dan Uni
 Sovyet harus runtuh dan munculah negara-negara Rusia dlsb. Namun karena 
dukungan kualitas sumber daya manusia yang tinggi Rusia dibawah Putin (yang 
bekas Kolonel KGB)  dapat melaksanakan pemulihan ekonomi dalam waktu yang 
relatip cepat. Tentu saja dengan merubah paradigma yang lebih berorientasi 
kepada ekonomi yakni  "lebih bersahabat dengan pasar!". Jika Uni Sovyet harus 
berantakan dan "meninggalkan" Sistem ideologi politik Sosialis Komunis maka 
tidak demikian halnya dengan Republik Rakyat China. Den Tsiao Ping dengan 
brilian mencanangkan reformasi sistem ekonomi dengan slogan " tidak peduli 
warna kucing, yang penting bisa menangkap tikus!". Dikembangkanlah sejak tahun 
1978 konsep " One Country Two Systems" yang menuai sukses besar. Pada dewasa 
ini cadangan devisa RRC sekitar 1,4 triliun dollar AS. dan China dalam kurun 
waktu kurang dari sepuluh tahun mendatang akan  tumbuh menjadi Kekuatan Raksasa 
Ketiga yang menguasai Perekonomian Dunia. Lalu kalau saya boleh bertanya
 kepada generasi Bung Anton dan Bung Haniwar, mau kemana negeri ini akan anda 
bawa pergi ? Salam perjuangan Tjuk Kasturi Sukiadi         

Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Anton ini kan sepertinya waktu lagu Nasakom bersatu berjaya kan 
masih 
kecil ya.. kok apal... hueebbatt.

kalo di jaman 60 an ada lagu yg aku senang dna mungkin cocok jg di jaman 
ini, kalau nggak salah dalam rangka pembebasan Irian.

gini ..potongannya

cukup sudah masa janji
cukup sudah derita dialami
kini tiba saat rakyat bertindak
mari bersatu...... dstnya..

Bayangkan kalao kini kita bilang ...ini saat betindak.. berrevolusi bersama 
Mas Suhaimi...siiipp kan

Wak ..lagu jaman orla menggelora ya..

nggak kayak jaman searang di hina Malaysa.. bukannya menggeloran... malah 
disuruh jangan malas.

kalo memang malas beneran mana ada produk bagus Indonesia yang mau di bajak..

walau memang iya juga sih yang di bajak karya ..orang kita .. jadul..

Mungkin ornag jadul .. itu semangat berkobar terus.. dan kita tahu betapa 
angklung terus dipoplerkan Oleh bung Karno .. yang asli seniman....walau 
nggak pernah gembar gembor bisa nyiptain lagu..

eh rasanya lagu Nasakom bersatu dijaman dulupun sudah diubah jadi Nasakom 
jiwaku..., krn kata bersatu menunjukkan ada 3 .. jd terpaksa 
bersatunya....shg mudah pecah ..

eh ada lagi yang maunya jadi Nasasos jiwaku....sdoalnya kom katanya 
nggak kenal Tuhan..

Menurut Mas Anton dari tiga itu mana yg tepat ?

Salam

Haniwar

Kirim email ke