Kalau CGMI tidak banyak diminati oleh para mahasiswa jelas iya Pak
Tjuk, Pertama, CGMI sebagai onderbouw PKI merupakan lapisan terkecil
dari gerakan PKI yang berakar pada massa. PKI adalah alter egonya
PSI, kalau PSI bermain di lapisan elite intelektual yang sedikit
sementara PKI bermain di wilayah akar rumput maka tak heran
konsentrasi PKI tidak sepenuhnya berada di lapisan mahasiswa ini.
Kedua, kita tahu di tahun 50-60-an mahasiswa adalah lapisan elite
masyarakat tidak seperti sekarang. Mereka bisa sampai menjadi
mahasiswa pasti ingin mengejar masa depan yang lebih baik maka untuk
itu perlu kendaraan yang baik, dan kendaraan yang baik adalah PNI
sebagai sebuah partai priyayi ketimbang partai massa. Bagi saya
pribadi melihat PNI tahun 50-an ini mirip Parindra-nya Dr, Sutomo
dan para bangsawan Solo ketimbang Partindo-nya Mr.Sartono yang
radikal. Sedangkan bergabung dengan PKI banyak dari kalangan elite
intelektual sebagai keputusan berbahaya. Jadi bukan di jaman Orde
Baru saja PKI ditakuti di jaman Bung Karno untuk lapisan atas
Indonesia PKI adalah sebuah kelompok yang merusak harmoni masyarakat
lama dan dipandang sebagai kegiatan avonturir yang tidak punya masa
depan. Itulah kenapa CGMI tidak diminati. Dulu hanya ada dua
gelombang besar pilihan mahasiswa : IMADA, GMNI, HMI atau netral.
Nah yang netral ini kebanyakan diam-diam bersimpati pada Gemsos.
Gerakan Mahasiswa Sosialis. Gerakan mahasiswa onderbouw PSI.

Untuk saya sendiri Pak Tjuk, ...Pertama-tama saya lahir ketika Orde
Baru sudah mapan, jadi saya belum lahir pas jaman Bung Karno. Bahkan
Bung Karno wafat saya pun belum ada di dunia.  Saya mengenal Karl
Marx baru baca bukunya Michael H Hart tahun 1984 yang terjemahan
Mahbub Djunaidi itu saya masih SD. Setelah baca buku Hart saya
menemukan buku kakek saya "Dibawah Bendera Revolusi" kata kakek
saya, buku itu dilarang baca "Nanti kamu jadi radikal" kata kakek
saya. Tapi sa'bodo amat saya terus baca....dan saya kagum sekali
dengan pikiran Bung Karno. Kemudian Bapak saya kalo pulang bukan
bawa majalah Bobo tapi majalah Prisma dan Tempo, jadilah saya baca
Prisma dan Tempo. Saat itu saya juga nongkrongin tukang koran depan
jalan yang jadi sahabat saya, jadilah saya secara teratur membaca
majalah Prisma. Dari majalah Prisma ini kemudian saya terpengaruh
dengan pemikiran Gus Dur dan Dawam Rahardjo juga dengan gagasan-
gagasan cemerlang penulis muda seperti Kaisepo atau Daniel Dhakidae.

Kalau nggak salah setelah bom cilandak salah seorang paman saya
membawa satu bundel buku yang katanya karangan Pramoedya ananta
toer, yang dia sembunyikan di kamar tidur saya, entah kenapa
bundelan buku itu nggak diambil-ambil, sebelumnya saya juga masih
inget jaksa agung Sukarton Marmosardjono (?) dengan wajah garang
melarang peredaran buku gadis pantai dan nyanyi sunyi seorang bisu,
saya beruntung sudah punya buku itu. Selain itu saya sangat
terpengaruh dengan catatan harian ahmad wahib. Buku Wahib inilah
yang kemudian menjadi basis saya dalam berpikir tentang agama saya :
Islam. Sayang buku itu sudah hilang, dan sampai sekarang belum
diterbitkan lagi.

Hal terpenting bagi saya adalah ketika saya duduk di kelas 1 SMP
saya mendapat buku Capital kalo nggak salah terjemahan Avelling,
saya dapat buku itu justru dari peti tua tempat nyimpen buku milik
kakek saya yang dulu sempat kuliah di Amerika (tahun 50-an)
bibliotik kakek saya lengkap banget tapi kebanyakan bahasa Belanda
yang nggak saya ngerti, dari Avelling ini kemudian saya dapatkan
Capital terbaru dari edisi Penguin tahun 1988 kalo nggak
salah...dari Karl Marx inilah saya terobsesi mengkaji pemikiran Bung
Karno orang yang selalu dibangga-banggakan oleh orang-orang tua kalo
pada ngumpul, kebetulan saya paling seneng bila denger orang tua
pada kumpul banyak cerita tentang masa lalu. Lalu saya coba cari
buku tentang Bung Karno di LIPI, tapi oh my God...yang saya temukan
cuman buku bagaimana membuat sumur pompa. (asal tau aja perpustakaan
LIPI sampe sekarang nggak berubah, tetep aja kumuh). Beruntung ada
toko buku Gramedia di Blok M (dulu tahun 80-an toko buku itu sangat
nyaman) saya malah banyak mendapatkan buku-buku bagus tentang
filsafat yunani dan sejarah pemikiran orang-orang besar. Dari sini
saya mulai mereka-reka pemikiran Bung Karno. Saya saja baru baca
buku Bung Karno Cindy Adams tahun 1994, saat itu saya baru dapat di
Gramedia. Dari buku Cindy Adams saya menyadari kekuatan Bung Karno
yang besar sekali. Selain itu kita masih ingat tahun 1986/1987 jalan-
jalan Jakarta dipenuhi dengan foto Bung Karno karena suksesnya
operasi LB Moerdani lewat tangan Suryadi untuk merekayasa bangkitnya
kaum nasionalis guna mengaburkan operasi 'gebuk partai Islam' alias
politik gembosin PPP yang sudah mulai kuat dan jadi sarang oposisi
terhadap Suharto. Namun banyaknya foto Bung Karno saya berpikir
tentang beliau lebih banyak lagi. Kesadaran sejarah bangkit dari
sini.

Sayangnya saya besar ketika jaman masih dikekang. Saya sendiri hidup
dalam dua gelombang pemikiran besar yang berbeda. Di lapisan atas
ada realitas kapitalis Suhartorian yang dangkal dengan intelektual
formal yang merangkap sebagai pelacur jalanan akademis dan di
lapisan bawah saya mengagumi pemikiran-pemikiran besar orang-orang
di masa lalu yang tahu bagaimana Indonesia bisa merdeka dan
bagaimana Indonesia seharusnya berjalan, terpaksa saya otodidak
sendiri, seperti Pak Tjuk ketahui generasi muda Orde Baru adalah
generasi yang direkayasa apolitis kalaupun mereka ikut dalam politik
itu tak lepas dari mengejar jabatan, semua organisasi pemuda
diformalkan dan dijadikan bukan lagi onderbouw daripada idee yang
dalam hal ini partai sebagai pelaksana idee tapi onderbouw daripada
kekuasaan dalam hal ini negara. Lingkungan sekolah atau kuliah saya
lebih mementingkan mobil apa yang lu punya, ketimbang pikiran apa
yang lu kuasai. Saya rasa dalam hal ini Karl Marx benar, bahwa
materialisme historis itu adalah masalah pembongkaran sistem
ekonomi, dan yang dilakukan pertama kali oleh Suharto adalah
memperkuat realitas ekonomi kapitalis. Inilah yang tidak dilakukan
Bung Karno ditahun-tahun berkuasanya (perlu dipertanyakan apa Bung
Karno pernah berkuasa secara riil seperti Pak Harto?). Bung Karno
hanya terus menggempur lapisan atas masyarakat seperti sistem
politik, agama, ilmu pengetahuan atau kebudayaan tapi sistem ekonomi
tidak ditembak. Ini karena apa? karena sistem ekonomi era kolonial
Belanda masih sangat kuat dan menjadi mesin penting sumber pendanaan
negara.Sukarno belum berani dan sempat membidik pembongkaran ekonomi
menuju sistem Sosialisme. Perlu diingat semua pemegang jabatan
penting ekonomi sejak perang selesai tahun 1949 adalah orang Masyumi
yang pro Amerika Serikat atau PNI yang konservatif. Tidak ada isu
penting pembongkaran sistem ekonomi masyarakat kecuali dari kampanye
bual-bualan ala Assa'at yang melahirkan sistem niaga Ali Baba yang
diskriminatif.Sukarno sendiri terkenal bukan orang yang paham
masalah ekonomi, Hatta yang mengerti benar dengan tatanan sosialis
sudah disingkirkan tahun 1956 sementara Sjahrir yang walaupun bagian
dari pemikiran ekonomisme sosialis dia sudah mati kutu. Realitas
sejak tahun 1950-an ekonomi kita dijalankan oleh Angkatan Darat yang
sangat pro pasar bahkan hyperrealis terhadap ekonomi pasar, yaitu :
sebagai mesin penyelundup. Saya belajar dari sejarah bahwa Indonesia
tidak pernah secara total membongkar lapisan bawah ekonominya
sebagai syarat penting terbentuknya susunan masyarakat baru.

Sedihnya lagi saya dilarang ngambil kuliah sastra jurusan sejarah
atau filsafat karena kata Ibu saya, kamu nanti mau kerja apa? karena
ada tetangga saya yang setelah lulus filsafat berakhir sebagai
penjaga toko buku. Daripada diboikot lebih baik nurut saya ambil
kuliah ekonomi. Terpaksa saya belajar sejarah, filsafat dan budaya
secara otodidak, saya menyesal sekali tidak hidup dalam lingkup
akademis FISIP atau Sastra.

Saya masih inget saat itu saya sudah kuliah ada seorang berani yang
menjual kaset-kaset rekaman pidato Bung Karno dengan mobil carry bak
item, saya bilang dia berani karena waktu itu Orde Baru lagi kuat-
kuatnya.  Kalo nggak salah tahun 1994 salah seorang teman saya bawa
bundelan berkas notulen ceramah Permadi yang memancing Amien Rais,
dari sini menurut saya gerakan penumbangan Suharto dimulai.

Pak Tjuk, hal paling menyedihkan bangsa ini adalah gagasan
pengasingan generasi muda terhadap pemikiran politik.Pemikiran
politik berbeda dengan tindakan politik. Yang lebih parah lagi
adalah ketidaktahuan untuk apa Indonesia harus ada? seberapa banyak
pemuda kita mengetahui gagasan Sosialisme Indonesia. Disinilah saya
dengan muka marah menuding Suharto sebagai orang yang paling
bertanggung jawab terhadap hancurnya jalan sejarah bangsa ini.
Mengatakan Suharto sebagai orang yang berjasa besar ini sama saja
pernyataan a-historis.

Suharto memang mengenalkan kita pada modernisme yang di cap sebagai
milik barat, tapi dengan cara menggadaikan asset negara.
Sesungguhnya apa yang dituduhkan oleh Junta Militer Orde Baru
terhadap Sukarno sebagai pelopor terhadap hancurnya moralitas bangsa
musti dikenai kepada Suharto. Suharto-lah orang yang paling
bertanggung jawab terhadap hancurnya moral bangsa kita saat ini.

Mengenai hancurnya negara Uni Sovyet penilaian Pak Tjuk sangat
benar. Tapi bagi saya Sovyet sendiri bukanlah praktek yang benar
dari pemikiran Marxisme. Sejarah Sovyet adalah sejarah penindasan.
Lenin memang benar dalam menghidupkan gagasan Karl Marx, dan
menjadikan Marxisme bukan sebagai wacana yang tersimpan di
perpustakaan tapi sebagai praktek, saya masih sering berandai-andai
bila sejarah Sovyet berada di tangan Trotsky. Stalin adalah Sovyet
itu sendiri dan Sovyet adalah penguatan dari Tsarisme dalam dimensi-
nya yang baru tapi berjalan di rel yang sama. Ini sama saja dengan
Nasionalisme Suharto yang menggunakan cara-cara Sukarno untuk
memperkuat anti tesis Sukarno. Saya kira apa yang dilakukan RRC
sekarang merupakan sebuah tindakan terobosan untuk membangun sistem
masyarakat baru sesuai dengan Marxisme, yang menjadi pertanyaan
apakah kemudian Marxisme RRC menjadi model bagi pembebasan manusia?

Apa yang ada di negara-negara Skandinavia, Inggris, Australia, atau
Perancis sekarang justru mendekati ciri Marxian dari dimensi
pembebasan manusia terhadap penindasan ekonomi. Tapi apakah ini
masih dalam 'masa jembatan'? Sejarah masih terus bergerak dan gerak
sejarah adalah gerak rasional yang menuju masyarakat rasional serta
menuju pembebasan masyarakat. Hanya saja di Indonesia makna
pembebasan masyarakat baru kita temukan dari mimpi di kepala. Sama
seperti khayalan Sudjatmoko tentang dimensi manusia dalam
pembangunan yang muatannya sangat Marxis...

Namun dari kasus Putin kita bisa belajar, bahwa penguasaan penuh
sumber daya alam atas nama bangsa merupakan kunci dari kemakmuran
ekonomi. Russia memang jatuh gara-gara inefisiensi ekonomi tapi
dengan kekuatan yang dikuasainya dia akan cepat bangkit karena tidak
satu area pun wilayah Rusia yang dikuasai asing, dan celakanya kita
tidak menguasai itu. Ladang-ladang minyak kita, ladang-ladang
tambang serta semua asset negara kita sudah dikuasai asing. Bahkan
otak para penggede ekonomi kita yang pegang kekuasaan sangat
tergantung pada asing. Sehingga apa-apa IMF, apa-apa Amerika..kita
tidak mengambil alih kepemilikan. Bahkan sebagian dari kaum yang
disebut-sebut rasionalis masih menganggap enteng pencaplokan hak
milik macam lagu rasa sayang-sayange atau batik yang dianggap hal
remeh. Bagi saya kalau kita bertarung hidup dalam alam kapitalis,
hak milik merupakan hal paling sakral. Masalah hak milik juga
merupakan gong dari Proklamasi kemerdekaan Indonesia, coba dibaca
baik-baik tentang teks proklamasi itu, bukankah teks itu merupakan
tuntutan terhadap sengketa hak milik. Proklamasi adalah cerminan
lapisan bawah masyarakat yaitu : masalah ekonomi sementara Pancasila
adalah lapisan atasnya.

Saya tidak tahu kemana arah bangsa ini akan dibawa, tapi melihat
realitas yang ada saya pikir kita tetap menjadi bangsa hamba di
depan Amerika Serikat dan Inggris karena negara-negara Imperialis
makannya disini, kita belum melihat kepemimpinan yang kuat serta
sistem yang kuat. Sementara generasi muda kita sudah termakan
gelombang buatan Negara imperialisme yaitu : Globalisasi.
Globalisasi tanpa sikap nasionalisme yang kuat adalah bencana, dan
kita sudah masuk dalam era bencana itu, hanya saja apa diantara
generasi muda kita bisa merubahnya? ataukah Tuhan sudah menakdirkan
kita sebagai bangsa kuli diantara bangsa-bangsa?.....


ANTON

--- In [email protected], tjuk kasturi sukiadi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Bung Haniwar dan Bung Anton dan Bung-Bung lain yang sepantaran,
>   Untung anda terlalu muda untuk berkenalan " with body and soul"
dengan PKI. Jika anda pada waktu mulai kebangkitan PKI  menjelang
Pemilu 1955 sudah bisa baca koran dan diteruskan dengan gegap
gempitanya PKI pada awal tahun 1960 an anda sudah jadi mahasiswa dan
anda tidak menjadi simpatisan PKI atau organisasi onderebouwnya;
anda adalah orang yang hebat! Anda terbukti teguh dalam  prinsip
atau mungkin apolitik. Saya ingat rekan-rekan aktivis CGMI ketika
itu yang pada hakikatnya rival ideologi dari organisasi yang saya
ikuti ( GMNI) kalau bertemu tutur sapanya simpatik tetapi jangan
ditanya kalau sudah sampai dalam tataran "berdebat". Mereka sangat
capable dan , tajam dan berpengetahuan komprehensip. Jumlah kader
mereka tidak banyak tetapi sangat berkualitas. Untuk mengimbangi
mereka betul-betul perlu banyak baca, diskusi dan praktek lapangan.
Nah sekarang saya adalah seorang dosen tua yang hampir pensiun.
Menghadapi mahasiswa saya yang dari tahun ke tahun semakin
>  menunjukkan mundurnya semua semangat kegairahan untuk berbuat
sesuatu bagi bangsa, negara dan tnah airnya, tentu sangat sedih
sekali.Kalau ada 10 % saja yang cerdas dan kerja keras paling-paling
obbyektip hidupnya adalah menjadi profesional, bekerja di perusahaan
asing ,bergaji besar dan hidup mapan. Sama sekali tidak salah!
Menghadapi generasi muda yang secacam ini seringkali
timbul "kemalasan " saya untuk bertemu mereka di kelas. Kelas-kelas
yang "membisu tanpa feedback" yang mengharapkan sang dosen "ngomong"
terus (dengan bantuan power points) selama 2,5 jam. Pada akhir
kuliah beberapa mahasiswa datang dan minta ijin untuk meng Copy
Power Points. Tidak mengherankan ketika pada awal tahun 1980-an
ketika saya bertemu dengan Dr Sudjati Djiwandono (tokoh CSIS) yang
baru saja keliling Eropa Timur dan UNI Sovyet kala itu
mengatakan :"Bung Tjuk, jangan sampai mengirimkan pemuda-pemuda kita
ke Eropa Timur dan Uni Sovyet!" Mengapa khawatir Bung ? " tukas
saya. Sudjati yng doktor
>  dalam ilmu politik itu mengatakan bahwa dia hampir pasti bahwa
pemuda-2 yang dikirim ke negara 2 Blok Timur itu akan jadi Komunis,
karena kondisi yang "relatip sangat merata" dinegeri negeri "Tirai
Besi" ini  dan sangat terbukanya peluang bagi generasi muda untuk
menuntut ilmu sampai ketingkat apapun sesuai dengan minat,bakar dan
kemampuannya.Semua itu bebas biaya karena menjadi tanggung jawab
negara.
>   Terus terang saja bahwa kehancuran Uni Sovyet lebih karena
kegagalan "Sistem Ekonomi" nya ketimbang "Sistem Politik,Sosial dan
Kenegaraannya". Dalam hal ini kebetulan saya berkesempatan mengikuti
kuliah di kelas Prof Alec Nove pakar " Socialism anda Marxian
Economy " di University of Glasgow pada tahun 1979. Dalam forum
seminar yang tidak terlalu banyak peminat dan selalu dihadiri oleh
banyak aktivis "Partai Komunis Skotlandia" Guru besar ini dengan
gigih mengatakan bahwa "Sistem Ekonomi Sosialis" seperti yang
dikembangkan oleh Uni Sovyet dan Negara-negara satelitnya di Eropa
Timur akan gagal. Karena tidak peka terhadap signal pasar sehingga
jauh dari efisiensi. Ketidak efisienan perekonomian model Sovyet
ini  sifatnya "inherent" dan dapat dirunut balik sampai kepada awal
pemerintahan Lenin yang mengalami "krisis pangan". Ketika itu Lenin
berupaya mengatasi krisis ekonomi Sovyet dengan kebijakan Novaya
Ekonomika Politika (NEP). Ternyata prediksi Prof Nove terbukti dan
Uni
>  Sovyet harus runtuh dan munculah negara-negara Rusia dlsb. Namun
karena dukungan kualitas sumber daya manusia yang tinggi Rusia
dibawah Putin (yang bekas Kolonel KGB)  dapat melaksanakan pemulihan
ekonomi dalam waktu yang relatip cepat. Tentu saja dengan merubah
paradigma yang lebih berorientasi kepada ekonomi yakni  "lebih
bersahabat dengan pasar!". Jika Uni Sovyet harus berantakan
dan "meninggalkan" Sistem ideologi politik Sosialis Komunis maka
tidak demikian halnya dengan Republik Rakyat China. Den Tsiao Ping
dengan brilian mencanangkan reformasi sistem ekonomi dengan slogan "
tidak peduli warna kucing, yang penting bisa menangkap tikus!".
Dikembangkanlah sejak tahun 1978 konsep " One Country Two Systems"
yang menuai sukses besar. Pada dewasa ini cadangan devisa RRC
sekitar 1,4 triliun dollar AS. dan China dalam kurun waktu kurang
dari sepuluh tahun mendatang akan  tumbuh menjadi Kekuatan Raksasa
Ketiga yang menguasai Perekonomian Dunia. Lalu kalau saya boleh
bertanya
>  kepada generasi Bung Anton dan Bung Haniwar, mau kemana negeri
ini akan anda bawa pergi ? Salam perjuangan Tjuk Kasturi
Sukiadi

Kirim email ke