From: "Lisman Manurung" <[EMAIL PROTECTED]> : > : Pentolan parpol kita mengetahui bahwa rakyat dapat : dirangsang dengan bendera, money-politics dan : pidato-pidato yang menusuk kalbu. Mereka juga tahu : kiat untuk memadamkan gelora para idealis yang ingin : memperkenalkan perubahan, yang ingin dan bersemangat : untuk mendorong bangkitnya deliberative democracy, : yakni hadirnya otoritas otoritas baru yang tidak : semata-mata bertumpu pada 'power of voting'. : >
Dalam skala & caranya sendiri masyarakat JKT sudah menjalankan deliberative democracy, saya kira. Setidaknya itu terlihat dari sikap masyarakat atas aksi Sutiyoso yang bertahan di kursi gubernur (huru-hara 2002), maupun penyikapan terhadap Pilkada 2007 di mana hampir di setiap TPS 40an persen pemilihnya lebih memilih pergi berlibur ketimbang memilih gubernur. Kita semua tentu ingat, komentar terbanyak dari masyarakat menjelang & sepanjang kampanye kemarin adalah ketidaktahuan masyarakat tentang para kontestan. Artinya, kendati perang poster & spanduk sudah berkecamuk sebelum kampanye dimulai, toh masyarakat tetap asing dengan para cagub. Sejalan dengan itu, semakin subur juga kesadaran masyarakat (bukan cuma di JKT) bahwa pemungutan suara hanyalah arena untuk partai-partai politik berebut kekuasaan. Sekarang ini di ruang-ruang publik bisa kita dengar orang mulai menimbang-nimbang antara keahlian yang digembar-gemborkan dan realita yang ada. Membuka jalur busway untuk segala kendaraan sehingga sejumlah bus-bus eksklusif itu terpental dari jalurnya dan ikut terjebak kemacetan, tentu bukan keahlian membuat runyam seperti itu yang kita butuhkan.
