Mas Tjuk...yg baik.. sekedar koreksi soal saya dan Dik Anton sepantaran..., kalau analisa saya dr berbagai tulisan anda berdua tampaknya, saat G-30 S mas Tjuk sudah mahasiswa , sedang Anton masih SD kalo saya ada di SMA.
Jadi Mas Tjuk jelas paling senior diantara kita bertiga,, itu kalo saya nggak salah menginterpretasi verita cerita anda. Ada persamaan. mungkin . ketiganya sepertinya rindu pada Bung Karno... yang semangat nya .. yang visinya...yang cita citanya... banyak dilupakan orang masa kini...terbuai oleh Suharto yang mementingkan materi.., sehiingga harga diri menjadi terbantai.. Kalo saya di tanya kemana ngeri ini mau dibawa... sulit juga saya jawab.. lha saya termasuk generasi yg segra fade away kok..., lain lg kalo yg ditanya itu mas Anton.. Tetapi seperti Mas Tjuk.. saya juga mau mencoba berbuat hal yang bisa saya perbuat..bagi bangsa ini ., misal ikut dalam sebuah pertarungan "kecil" yang nyatanya luar biasa susahnya, untuk menggolkan sebuah perpres ttg pasar modern, yang akan mencoba lebih mengembangkan pasar tradisional dan pengusaha UKM dari tekanan peretail asing misalnya. Dalam bidang Pertanian , khususnya agrisbisnis peternakan, berusaha untuk menyehatkan pikiran yg selama ini dikuasai pihak tertentu yg mengatasnamakan peternak kecil , dgn minta begitu banyak perlindungan.. menjadi pemain agrobisanis yg terus mencari efisiensi sehingga suatu saat mampu bersaing global.. Dan Indonesia bisa jadi seperti Aregentina , yg produksi ayam dan sapinya menjadi slah stau yg terbanyak didunia... Argentina bisa... kenapa kita tidak ? Banyak teman, dan senior yg bilang pada saya , buat apa kamu berjuang ..?? mrk dulu sudah mencoba tanpa pamrih dan nyatanya tidak juga berhasil... , sia sia...dan buang umur saja.. Nyatanya mereka ada benarnya ,dalam kasus perpres utk pasar saja, sudah sekian kali ditunda, padahal Komisi VI sudah dukung, Deperin sudah dukung, Bapenas Dudah dukumg, DPD sudah dukung, bahkan Presiden kirim sinyal positip, tapi nyatanya dgn terakhir perintah dalam inpres yg mengharuskan selesai paling lambat 30 oktober , dan draft sudah final pun nyatanya nggak kunjung keluar sampai hari ini, dan peretail asing makin dan akan semakin merajalela. Begitupun perjuangan dalam bidang pertanian banyak mengalami kendala. Saya yakin itu juga yang dialami Mas Tjuk... dalam soal lumpur Lapindo..misalnya.., terlalu sedikit kemajuan diperoleh.. Perosalannya... akankah semua orang baik akhirnya akan menyesal jadi orang baik ??/ akan kah orang jahat lebih merajlela jika ornag baik berhenti berbuat sesuatu ?? Maka saya cuma bilang.... saya tidak ingin orang jahat merajalela.... dan bagi saya kucukupkan dengan usaha.sebisaku .. soal apa jadinya ... ya terserah yang diatas lah.. Takjub melihat Cina dan Rusia sudah nggak punya utang yg membebani lagi..., senang lihat Argentina dgn gaya sosialisnya jug maju....., Amerika latin yang berkobar semangatnya Lalu sedih betul lihat Indonesia.. yang semakin tenggelam dalam genggaman atau paling sedikit stagnan .., bahkan banyak LSM nya pun sebenarnya di biayai sono... dan pura pura meneriakkan perjuangan bagi rakyat Indonesia.. Pada generasi Anton .. Budiman Sudjatmiko, Mas Suahimi cs... lah sepantas nya Mas Tjuk tanyakan..kemana Indonesia dibawa... semoga mereka bagian dari 10 pemuda yg di butuhkan Bung Karno utk.. menggoyang dunia ini.. Salam Haniwar. At 02:09 PM 18-11-07, you wrote: >Bung Haniwar dan Bung Anton dan Bung-Bung lain yang sepantaran, >Untung anda terlalu muda untuk berkenalan " with body and soul" dengan >PKI. Jika anda pada waktu mulai kebangkitan PKI menjelang Pemilu 1955 >sudah bisa baca koran dan diteruskan dengan gegap gempitanya PKI pada awal >tahun 1960 an anda sudah jadi mahasiswa dan anda tidak menjadi simpatisan >PKI atau organisasi onderebouwnya; anda adalah orang yang hebat! Anda >terbukti teguh dalam prinsip atau mungkin apolitik. Saya ingat rekan-rekan >aktivis CGMI ketika itu yang pada hakikatnya rival ideologi dari >organisasi yang saya ikuti ( GMNI) kalau bertemu tutur sapanya simpatik >tetapi jangan ditanya kalau sudah sampai dalam tataran "berdebat". Mereka >sangat capable dan , tajam dan berpengetahuan komprehensip. Jumlah kader >mereka tidak banyak tetapi sangat berkualitas. Untuk mengimbangi mereka >betul-betul perlu banyak baca, diskusi dan praktek lapangan. Nah sekarang >saya adalah seorang dosen tua yang hampir pensiun. Menghadapi mahasiswa >saya yang dari tahun ke tahu! n semakin >menunjukkan mundurnya semua semangat kegairahan untuk berbuat sesuatu bagi >bangsa, negara dan tnah airnya, tentu sangat sedih sekali.Kalau ada 10 % >saja yang cerdas dan kerja keras paling-paling obbyektip hidupnya adalah >menjadi profesional, bekerja di perusahaan asing ,bergaji besar dan hidup >mapan. Sama sekali tidak salah! Menghadapi generasi muda yang secacam ini >seringkali timbul "kemalasan " saya untuk bertemu mereka di kelas. >Kelas-kelas yang "membisu tanpa feedback" yang mengharapkan sang dosen >"ngomong" terus (dengan bantuan power points) selama 2,5 jam. Pada akhir >kuliah beberapa mahasiswa datang dan minta ijin untuk meng Copy Power >Points. Tidak mengherankan ketika pada awal tahun 1980-an ketika saya >bertemu dengan Dr Sudjati Djiwandono (tokoh CSIS) yang baru saja keliling >Eropa Timur dan UNI Sovyet kala itu mengatakan :"Bung Tjuk, jangan sampai >mengirimkan pemuda-pemuda kita ke Eropa Timur dan Uni Sovyet!" Mengapa >khawatir ! Bung ? " tukas saya. Sudjati yng doktor >dalam ilmu politik itu mengatakan bahwa dia hampir pasti bahwa pemuda-2 >yang dikirim ke negara 2 Blok Timur itu akan jadi Komunis, karena kondisi >yang "relatip sangat merata" dinegeri negeri "Tirai Besi" ini dan sangat >terbukanya peluang bagi generasi muda untuk menuntut ilmu sampai ketingkat >apapun sesuai dengan minat,bakar dan kemampuannya.Semua itu bebas biaya >karena menjadi tanggung jawab negara. >Terus terang saja bahwa kehancuran Uni Sovyet lebih karena kegagalan >"Sistem Ekonomi" nya ketimbang "Sistem Politik,Sosial dan Kenegaraannya". >Dalam hal ini kebetulan saya berkesempatan mengikuti kuliah di kelas Prof >Alec Nove pakar " Socialism anda Marxian Economy " di University of >Glasgow pada tahun 1979. Dalam forum seminar yang tidak terlalu banyak >peminat dan selalu dihadiri oleh banyak aktivis "Partai Komunis >Skotlandia" Guru besar ini dengan gigih mengatakan bahwa "Sistem Ekonomi >Sosialis" seperti yang dikembangkan oleh Uni Sovyet dan Negara-negara >satelitnya di Eropa Timur akan gagal. Karena tidak peka terhadap signal >pasar sehingga jauh dari efisiensi. Ketidak efisienan perekonomian model >Sovyet ini sifatnya "inherent" dan dapat dirunut balik sampai kepada awal >pemerintahan Lenin yang mengalami "krisis pangan". Ketika itu Lenin >berupaya mengatasi krisis ekonomi Sovyet dengan kebijakan Nov! aya >Ekonomika Politika (NEP). Ternyata prediksi Prof Nove terbukti dan Uni >Sovyet harus runtuh dan munculah negara-negara Rusia dlsb. Namun karena >dukungan kualitas sumber daya manusia yang tinggi Rusia dibawah Putin >(yang bekas Kolonel KGB) dapat melaksanakan pemulihan ekonomi dalam waktu >yang relatip cepat. Tentu saja dengan merubah paradigma yang lebih >berorientasi kepada ekonomi yakni "lebih bersahabat dengan pasar!". Jika >Uni Sovyet harus berantakan dan "meninggalkan" Sistem ideologi politik >Sosialis Komunis maka tidak demikian halnya dengan Republik Rakyat China. >Den Tsiao Ping dengan brilian mencanangkan reformasi sistem ekonomi dengan >slogan " tidak peduli warna kucing, yang penting bisa menangkap tikus!". >Dikembangkanlah sejak tahun 1978 konsep " One Country Two Systems" yang >menuai sukses besar. Pada dewasa ini cadangan devisa RRC sekitar 1,4 >triliun dollar AS. dan China dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun >mendatang akan tumbuh menjadi Kekuatan Raksasa Ketiga yang menguasai >Perekonomian ! Dunia. Lalu kalau saya boleh bertanya >kepada generasi Bung Anton dan Bung Haniwar, mau kemana negeri ini akan >anda bawa pergi ? Salam perjuangan Tjuk Kasturi Sukiadi > >Haniwar Syarif <<mailto:syarif%40centrin.net.id>[EMAIL PROTECTED]> wrote: >M >1.M
