Tentang Retail asing, ada yang ingin saya share kan. Saya mengamati fenomena pedagang ikan dan sayur di Kramat jati. Saya lupa pada tahun berapa terjadi Renovasi Pasar kramat jati (2001 atau 2003 an ya). Akibatnya jelas, hanya pedagang yang 'terpilih' saja yang boleh ada di Kramat jati. Sempat terjadi protas-protes tapi (ini yang menarik) pada akhirnya para pedagang yang tidak menempati lapak di Pasar Kramat Jati memilih berjualan di pinggir jalan. Dan ini yang agak unik. Mulai di jam tutupnya carefour sampai pagi hari - di dominasi para penjual ikan dan sayut- eks pedagang pasar kramat jati ini tetap bisa kontinu living by selling. Resisten.
Kadang saya merasa bahwa kita ini kok seperti anak tiri setelah si anak pungut masuk ke rumah kita,orang tua kita (baca Pemerintah) lebih sayang pada orang yang lbh putih dan lebih ganteng atau lebih cantik (baca retail asing) dibandingkan kita (baca rakyat yang ingin berdagang). jadi ya itu tadi peraturan lebih dilonggarkan, supaya orang tua kita bisa lebih dapat uang setoran. Sementara kita si anak kandung sudah kamar kita ditempati dan kita di suruh satu ruangan dengan adek dan kakak kita - kalau kita ngeluh pasti di banding-bandingkan dengan si anak pungut itu. Belum lagi kadang kalau kita minta uang jajan (baca modal) katanya cari sendiri! Minta kamar sendiri, dibilang gak ada duit. Ya, beginilah bila jadi anak tiri tinggal di rumah orang tua kandung.
