iya deh, anda bener. seneng kalau saya katakan begitu? xixixixxix....... repot diskusi dg org yg pemahaman bahasanya kacau balau begitu. 1. ...."begitu juga" dg org yg suka korupsi.... maka itu tidak harus mengacu ke saya. tetepi ke org yg suka korupsi.
2. kalau contoh itu tidak juga bisa anda mengerti ya saya maklum kenapa otak anda tumpul ketika KPI memberikan alasan ttg sinetron. ternyata...... --- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ooooo, jadi situ korupsi toh? Waduh, maaf, maaf. Kalo gitu, lahan Anda trak akan saya ganggu. Silakan lanjutkan, hehehe. > > Kembali ke contoh: pertanyaan awal: kenapa reality show dilarang menampilkan akting "kebanci-bancian" sementara sinetron yang melakukan hal serupa tidak dilarang? > > Ngerti enggak pertanyaannya? Mestinya sih Anda ngerti ya, wong periset internasional kok. Tapi, contoh yang diberikan untuk mendukung alasan kenapa sinetron tak dilarang adalah meleset total tal tal tal. Dalam "Dari Yoga ke Olga", jelas pemeran utamanya berperan "kebanci-bancian". Lho, kok kaga dilarang kaya reality show? Jelas nggak, Om? > > Lalu contohmu ini fungsinya apa? Malah mengukuhkan kekacauan pikiran KPI toh? Bukan memperjelas perbedaan antara reality show dan sinetron. Ayo, belajar riset lagi yang rajin, biar pemikirannya makin tajam. > > manneke
