Coba Anda baca lagi alasan KPI melarang reaility show yang menampilkan akting 
"kebancia-bancian" itu apa. Rupa-rupanya sebagai periset Anda sudah begitu 
jagoannya sampai-sampai baca tulian dengan teliti aja udah nggak dong. Alasan 
KPI: "membuat anak-anak jadi bingung" (soal jenis kelamin).
 
Nah sekarang dengan otak Anda yang supercerdas itu, coba jelaskan beda sinetron 
dan reality show dalam konteks ini. Yang bilang sonetron punya alur sementara 
reality show tidak itu kan Anda yang sok pinter ini, bukan KPI. Kalo sebuah 
acara tak ada alurnya, tak seorang pun akan bisa paham. Ini pengertian dasar, 
semestinya semua orang waras ngerti. Jadi reality show juga punya alur. Makanya 
kalo nggak ngerti arti kata "alur", nanya dulu ke ahlinya. Jangan sok teu. 
Nanti jadi lucu.
 
Gini aja deh, daripada mbulet terus, tunjukin saja di artikel tentang 
pelarangan reality show "kebanci-bancian" oleh KPI itu, di mana KPI bilang 
bahwa ALUR adalah isu utama. Bahkan, KPI tidak mengaitkan akting 
"kebanci-bancian" itu dengan pelecehan kaum waria. Concern-nya satu: 
membingungkan anak-anak.
 
Nah, Anda nemu dari tempat sampah mana alasan ALUR ini, wahai periset 
internasional dengan laptop satu lemari?
 
Anda jadi pejabat publik? Wuaahhhh!!! Hancurlah Republik ini. Hahahahahaha! 
Ngigau aja deh...
 
manneke 

--- On Tue, 9/9/08, thseto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: thseto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: KPI Peringatkan Tayangan "Kebanci-bancian"
To: [email protected]
Received: Tuesday, September 9, 2008, 5:45 AM






halah... ngomong opo ini. kayak ga harus korupsi. nanti aja kalau aku
jadi pejabat publik tak jelaskan semua scr terbuka yah... kaya itu
kewajiban bagi yang mampu menjadi kaya. agar bisa menolong orang
miskin. lha anda merasa kaya atau miskin?

sinetron yg menampilkan peran kebanci2an (meskipun tidak diperankan
oleh banci beneran) masih ditolerir oleh KPI karena memang ada alur
cerita yg jelas. contohnya ya sinetron dari yoga jadi olga itu. 

sementara reality show kayak si tora itu gak boleh karena itu memang
ada kesan (artinya debatable) melecehkan kaum waria. 

kalau dibilang reality show juga ada alurnya seh boleh2 saja. tapi
cerita sinetron, film, dan fiksi2 lain tentu berbeda dg reality show
yg langsung ditonton rame2 spt itu. 

nanti anda tanya bedanya di mana? ya silakan cari sendiri... masak
gitu aja gak ngerti heheee....

gitu aja kok mbulet....

--- In Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com, manneke budiman
<hepaesthos@ ...> wrote:
>
> Lho? Katanya jangan ke mana-mana? Diajak ngomong sinetron, bawa-bawa
korupsi. begitu diladenin ngomong korupsi, sekaran ngeles dan
ngelempar tuduhan korupsinya ke orang lain? Lha opo hubungane, Mas?
> 
> Yang bikin saya mesem-mesem, kenapa kok nyeplos korupsi, tapi
rujukannya ke orang lain? Sambil ngeles: "tidak harus mengacu ke saya,
tapi ke orang yang suka korupsi". Hihihi. Eh,ngomong-ngomong, masih
punya laptop satu lemari, nggak? Kaya banget ya PNS di LIPI bisa beli
laptop satu lemari (bukan mau nuduh korupsi lho ya; yang korupsi kan
orang lain).
> 
> Ah, jadi lupa urusan sinetron. Pinter banget nih Anda mengalihkan
perhatian saya. Nggak heran ya, wong periset kaliber internasional,
jagoanlah kalo soal alih-alihkan perhatian.
> 
> Ayo, situ udah kadung nimbrung mau kasih contoh sinetron yang
betulan tentang hidup waria dengan pemeran yang bukan belagak
"banci-bancian" tapi waria tulen. Mana contohnya? Kalo udah, boleh deh
kita nanti ngobrol soal korupsi lagi :))
> 
> manneke
 














      __________________________________________________________________
Get a sneak peak at messages with a handy reading pane with All new Yahoo! 
Mail: http://ca.promos.yahoo.com/newmail/overview2/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke