hahahaaa...... lucu juga komentarnya.
senang sekali anda mengulang2 saya sok pinter, kaya, laptop 1 lemari,
dst... ada maslah psikologis apakah anda ini?

masalah larang2 melarang itu bukan hal yg mudah, makanya KPI harus
hati2. tidak boleh asal main sikat, misalnya semua peran kebanci2an
dilarang. gak bisa begitu bung. pertimbangannya harus masak2. dalam
film kita tidak bisa dg begitu saja menyebut peran kebanci2an. orang
film akan beralasan itu adalah peran sbg org banci, bukan kebanci2an.

sedangkan dalam reality show, nyata sekali bahwa beran banci itu
dibuat main2 shg bisa disebut kebanci2an. yg begini ini juga harus
dirasakan. cobalah jujur pada perasaan. mari kita mencoba menempatkan
diri sbg pembuat keputusan jika kita ingin mengoreksi pembuat
keputusan. azas kehati2an. anda boleh merasa ahli bidang "alur"
heheee....tapi pembuatan keputusan kan harus dipertimbangkan secara
bijak.

kenyataan bahwa banci itu emang ada. kalau dalam sebuah film peran
banci harus dimainkan oleh banci beneran, nanti jangan2 peran cacat
harus dimainkan oleh org cacat beneran, dst.

anak dg mudah dikasih tau jika bertanya dalam sebuah film ada peran
banci. tetapi jika dalam sebuah reality show yg sebentar jadi banci
dalam waktu singkat berubah jadi jantan lagi dst, ini mungkin yg
dimaksud KPI bisa membingungkan.

memang susah untuk menjelaskan scr detail di sini. barangkali butuh
sebuah kajian akademik untuk itu. tapi saya yakin bahwa pelarangan
untuk reality show dan pembolehan untuk film ini lebih baik jika
dibandingkan pelarangan untuk kedua2nya. karena yg terakhir itu lebih
akan menimbulkan penolakan.

ttg pejabat publik... hehehee.... terima kasih atas penilaiannya.

--- In [email protected], manneke budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Coba Anda baca lagi alasan KPI melarang reaility show yang
menampilkan akting "kebancia-bancian" itu apa. Rupa-rupanya sebagai
periset Anda sudah begitu jagoannya sampai-sampai baca tulian dengan
teliti aja udah nggak dong. Alasan KPI: "membuat anak-anak jadi
bingung" (soal jenis kelamin).
> �
> Nah sekarang dengan otak Anda yang supercerdas itu, coba jelaskan
beda sinetron dan reality show dalam konteks ini. Yang bilang sonetron
punya alur sementara reality show tidak itu kan Anda yang sok pinter
ini, bukan KPI. Kalo sebuah acara tak ada alurnya, tak seorang pun
akan bisa paham. Ini pengertian dasar, semestinya semua orang waras
ngerti. Jadi reality show juga punya alur. Makanya kalo nggak ngerti
arti kata "alur", nanya dulu ke ahlinya. Jangan sok teu. Nanti jadi lucu.
> �
> Gini aja deh, daripada mbulet terus, tunjukin saja di artikel
tentang pelarangan reality show "kebanci-bancian" oleh KPI itu, di
mana KPI bilang bahwa ALUR adalah isu utama. Bahkan, KPI tidak
mengaitkan akting "kebanci-bancian" itu dengan pelecehan kaum waria.
Concern-nya satu: membingungkan anak-anak.
> �
> Nah, Anda nemu dari tempat sampah mana alasan ALUR ini, wahai
periset internasional dengan laptop satu lemari?
> �
> Anda jadi pejabat publik? Wuaahhhh!!! Hancurlah Republik ini.
Hahahahahaha! Ngigau aja deh...
> �
> manneke�

Kirim email ke