Bagaimana dengan fakta ini?

Alm ibu saya menikah ketika berumur 12 tahun, melahirkan ketika umur 13,
selanjutnya 8 kali melahirkan semuanya besekolah, 3 0rang menjadi guru 2
orang sarjana S2. Sang Ibu wafat dalam umur 107 tahun.

Salah satu anaknya setammat Sekolah Guru Bantu umur 13 tahun menuikah
dengan gadis 12 tahun, langsung hidup berdua karena ditugaskan jauh dai
kampungnya. Anak2nya berhasil, tertua S1 bersuamikan S3, yang kedua, SMA
bersuamikan S3, ketiga Brigjen, keempat S1, kelima S2, keenam SMA
bersuamikan S3 Prof, Ketujuh S2 bersuamikan S3.

Perbedaan sekarang tingkat kedewasaan berubah dari 12 ke 18 tahun,
mungkin karena pengaruh budaya dan pendidikan. Dulu seorang guru berumur
13 tahun di kampung yang semuanya buta huruf dianggap sudah pemimpin dan
dapat memutuskan di suatu komunitas pedesaan, wanita berumur 12 tahun
sudah dianggap dewasa karena tidak banyak kesibukan selain membantu ibu
mengurus rumah tangga atau pekerjaan orang dewasa lainnya dus sudah
memasuki kegiatan dewasa.

Sekarang kedewasaan sudah berubah, pendidikan tertinggi sampai di desa2
setingkat SMA, kegiatan bermain berlanjut sampai umur 15an atau lebih
sehingga laki2 baru dianggap layak menikah setelah berumur 20 sedangkan
perempuan 18 tahun. Karena diluar kebiasaan maka pernukahan di Semarang
dianggap sensasi dan  nyeleneh.

rzain

Kirim email ke