Saya setuju perempuan sudah bisa dikatakan dewasa jika ia sudah
menstruasi, karena secara biologis, itu artinya ybs sudah bisa hamil.
Jadi, buat saya ngga masalah mereka menikah asalkan tidak ada unsur
pemaksaan. 

Yg ngaco itu, seperti di Amrik atau eropa, anak2 boleh nge-seks dengan
sesama anak2 tapi tidak boleh menikah dengan orang yang dianggap sudah
lebih dewasa. Ngga heran kalo di Amrik banyak anak2 perempuan punya
bayi tapi tidak punya suami.

-caroline











--- In [email protected], "rzain" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bagaimana dengan fakta ini?
> 
> Alm ibu saya menikah ketika berumur 12 tahun, melahirkan ketika umur 13,
> selanjutnya 8 kali melahirkan semuanya besekolah, 3 0rang menjadi guru 2
> orang sarjana S2. Sang Ibu wafat dalam umur 107 tahun.
> 
> Salah satu anaknya setammat Sekolah Guru Bantu umur 13 tahun menuikah
> dengan gadis 12 tahun, langsung hidup berdua karena ditugaskan jauh dai
> kampungnya. Anak2nya berhasil, tertua S1 bersuamikan S3, yang kedua, SMA
> bersuamikan S3, ketiga Brigjen, keempat S1, kelima S2, keenam SMA
> bersuamikan S3 Prof, Ketujuh S2 bersuamikan S3.
> 
> Perbedaan sekarang tingkat kedewasaan berubah dari 12 ke 18 tahun,
> mungkin karena pengaruh budaya dan pendidikan. Dulu seorang guru berumur
> 13 tahun di kampung yang semuanya buta huruf dianggap sudah pemimpin dan
> dapat memutuskan di suatu komunitas pedesaan, wanita berumur 12 tahun
> sudah dianggap dewasa karena tidak banyak kesibukan selain membantu ibu
> mengurus rumah tangga atau pekerjaan orang dewasa lainnya dus sudah
> memasuki kegiatan dewasa.
> 
> Sekarang kedewasaan sudah berubah, pendidikan tertinggi sampai di desa2
> setingkat SMA, kegiatan bermain berlanjut sampai umur 15an atau lebih
> sehingga laki2 baru dianggap layak menikah setelah berumur 20 sedangkan
> perempuan 18 tahun. Karena diluar kebiasaan maka pernukahan di Semarang
> dianggap sensasi dan  nyeleneh.
> 
> rzain
>


Kirim email ke