Prihatin banget ya, di abad gini masih ada orang yang mengaku syekh hanya karena punya uang, ngaku kyai dan punya pesantren lagi. Syekh, kyai dan pesantren itu sebutan tidak untuk sembarang orang tapi panggilan bagi orang-orang mulia dan terhormat yang memiliki ilmu agama yang dalam, dengan prilaku yang arif dan bersahaja. sampai kapan agama untuk ke sekian (ribu) kalinya dijadikan sebagai alat legitimasi untuk kepentingan partiakhi. Kalau mau mengeksploitasi anak untuk nafsu birahinya maupun ambisi bisnisnya jangan bawa-bawa agama deh! Nabi menikahi Aisyah memang dalam usia anak tapi itu terjadi 17 abad silam dengan seorang Nabi yang saya yakin bukan untuk kepentingan nafsu apalagi untuk seks dan bisnis seperti dilakukan puji yang prilakunya tidak terpuji. Menurut saya polisi tidak perlu ragu untuk memproses secara hukum, dasar hukumnya sudah cukup kuat. kalau gak bereaksi juga ya.. masya Allah..! jangan-jangan hukum pun sudah dibeli sama puji. Tks mua
--- Pada Sab, 25/10/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Dari: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kiai Nikahi Bocah 12 Tahun Kepada: "Milist FPK" <[email protected]> Tanggal: Sabtu, 25 Oktober, 2008, 8:28 AM Ya, fakta tsb benar terjadi. Masih banyak perempuan dikawinkan pada usia yang masih belia. Namun harus diingat bahwa kala itu belum banyak dilakukan penelitian kesehatan maupun sosiologis dampak dari pernikahan usia yang dini bagi perempuan dan/atau keluarga. Ketika saya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran saya masih sering mendapati kasus PROLAPSUS UTERI (rahim yang 'mlorot' keluar (memasuki daerha leher rahimnya)) dikarenakan keseringan melahirkan pada para ibu tua yang rata2 memiliki anak 8-14 orang. Fakta bahwa besarnya ANGKA KEMATIAN IBU karena HAMIL, MELAHIRKAN dan NIFAS juga sering terjadi pada jaman dimana ibu Rzain menikah dan memiliki anak. Kemudian perempuan pun 'diiming2i surga sebagai ganjarannya' . Belum lagi jika kita melihat fakta bahwa perempuan2 yang dikawini pada usia muda tersebu dan harus memiliki anak tak lama setelah perkawinannya, apalagi sampai banyak sekali, akan tidak memiliki waktu bagi dirinya sendiri u/bertumbuh sebagai individu, bukan sekedar sebagai istri dan ibu. Namun konstruski patriarkis memang menuntut perempuan u/pasrah dan menjadi subordinat laki2. Iming2nya yaitu label sebagai 'perempuan ideal' sampai 'surga menanti sebagai hadiah'. Ingat kasus R. A. Kartini ataupun Permaisuri Taj Mahal di India? Mereka mati di usia muda kala melahirkan anak kesekiannya lewat rahim mudanya yang terus menerus dibebani melebihi kapasitasnya! Apakah kita akan tinggal diam dan tetap akan mengiming2i kebohongan berduri ini bagi manusia berjenis kelamin perempuan dan juga menyisakan penantian pada anak yang ditinggalkan mati o/perempaun2 malang spt itu? Saya rasa agama manapun mengajarkan manusia u/menggunakan otak dan akal budinya u/terus menerus berpikir dan mengaji pergerakan hidup sekelilingnya! ED Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network
