Ya, fakta tsb benar terjadi.  Masih banyak perempuan dikawinkan pada usia yang 
masih belia.  Namun harus diingat bahwa kala itu belum banyak dilakukan 
penelitian kesehatan maupun sosiologis dampak dari pernikahan usia yang dini 
bagi perempuan dan/atau keluarga.

Ketika saya masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran saya 
masih sering mendapati kasus PROLAPSUS UTERI (rahim yang 'mlorot' keluar 
(memasuki daerha leher rahimnya)) dikarenakan keseringan melahirkan pada para 
ibu tua yang rata2 memiliki anak 8-14 orang.  Fakta bahwa besarnya ANGKA 
KEMATIAN IBU karena HAMIL, MELAHIRKAN dan NIFAS juga sering terjadi pada jaman 
dimana ibu Rzain menikah dan memiliki anak.  Kemudian perempuan pun 'diiming2i 
surga sebagai ganjarannya'.

Belum lagi jika kita melihat fakta bahwa perempuan2 yang dikawini pada usia 
muda tersebu dan harus memiliki anak tak lama setelah perkawinannya, apalagi 
sampai banyak sekali, akan tidak memiliki waktu bagi dirinya sendiri 
u/bertumbuh sebagai individu, bukan sekedar sebagai istri dan ibu.  

Namun konstruski patriarkis memang menuntut perempuan u/pasrah dan menjadi 
subordinat laki2.  Iming2nya yaitu label sebagai 'perempuan ideal' sampai 
'surga menanti sebagai hadiah'.  

Ingat kasus R. A. Kartini ataupun Permaisuri Taj Mahal di India?  Mereka mati 
di usia muda kala melahirkan anak kesekiannya lewat rahim mudanya yang terus 
menerus dibebani melebihi kapasitasnya!  Apakah kita akan tinggal diam dan 
tetap akan mengiming2i kebohongan berduri ini bagi manusia berjenis kelamin 
perempuan dan juga menyisakan penantian pada anak yang ditinggalkan mati 
o/perempaun2 malang spt itu?  Saya rasa agama manapun mengajarkan manusia 
u/menggunakan otak dan akal budinya u/terus menerus berpikir dan mengaji 
pergerakan hidup sekelilingnya!


ED




Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "rzain" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 25 Oct 2008 00:07:00 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kiai Nikahi Bocah 12 Tahun


Bagaimana dengan fakta ini?

Alm ibu saya menikah ketika berumur 12 tahun, melahirkan ketika umur 13,
selanjutnya 8 kali melahirkan semuanya besekolah, 3 0rang menjadi guru 2
orang sarjana S2. Sang Ibu wafat dalam umur 107 tahun.

Salah satu anaknya setammat Sekolah Guru Bantu umur 13 tahun menuikah
dengan gadis 12 tahun, langsung hidup berdua karena ditugaskan jauh dai
kampungnya. Anak2nya berhasil, tertua S1 bersuamikan S3, yang kedua, SMA
bersuamikan S3, ketiga Brigjen, keempat S1, kelima S2, keenam SMA
bersuamikan S3 Prof, Ketujuh S2 bersuamikan S3.

Perbedaan sekarang tingkat kedewasaan berubah dari 12 ke 18 tahun,
mungkin karena pengaruh budaya dan pendidikan. Dulu seorang guru berumur
13 tahun di kampung yang semuanya buta huruf dianggap sudah pemimpin dan
dapat memutuskan di suatu komunitas pedesaan, wanita berumur 12 tahun
sudah dianggap dewasa karena tidak banyak kesibukan selain membantu ibu
mengurus rumah tangga atau pekerjaan orang dewasa lainnya dus sudah
memasuki kegiatan dewasa.

Sekarang kedewasaan sudah berubah, pendidikan tertinggi sampai di desa2
setingkat SMA, kegiatan bermain berlanjut sampai umur 15an atau lebih
sehingga laki2 baru dianggap layak menikah setelah berumur 20 sedangkan
perempuan 18 tahun. Karena diluar kebiasaan maka pernukahan di Semarang
dianggap sensasi dan  nyeleneh.

rzain




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke