Bung Sohib yang kritis,
Pendapat anda benar tentang anatomi Lumpur Lapindo. Sejak sebelum hasil "Voting 
Ahli Geologi Pertambangan di Cape Town" ,teman-teman Gerakan Menutup Lumpur 
Lapindo dengan dukungan para ahli pengeboran tambang yang tergabung di dalam 
Drilling Engineers Club yang dipelopori oleh Dr. Rudi Rubiandini berpendapat 
bahwa Bencana Lumpur Lapindo bukan bencana alam tetapi bencana yang terjadi 
pada alam akibat ulah manusia alias "human error" yakni kesalahan pengeboran 
oleh Lapindo Brantas Inc. Ketika itu kalau dihitung dalam "cacah" ahli yang 
menyuarakan kepentingan Lapindo lebih banyak. Bahkan ketika Prof Davies dalam 
artikelnya di National Geographics bln Januari 2008 pendapatnya sama dengan 
GMLL-DEC sdr Ical Bakrie dengan pongah mengatakan bahwa yang menyatakan bukan 
bencana alam hanya 1 pakar, sedang yang pro bencana alam (pro pendapat Lapindo 
Bakrie) adalah 100. Nah ternyata hasil Capetown yg justru mengikuti logika 
berpikir Bakrie membuktikan sebaliknya.
 Bukan 100 lawan 1 untuk Bakrie, justru 42 lawan 3 untuk GMLL-DEC. Malahan 
menurut Bung Rudi Rubiandini manakala unsur yang terafiliasi dengan Indonesia 
(termasuk Lapindo) dari para peserta yang hadir di Konperensi AAPG Cape Town 
itu dihilangkan maka skorenya adalah 40 lawan 0 (kosong) untuk GMLL-DEC.  Kita 
sangat maklum bahwa Lapindo Bakrie berusaha dengan menghalalkan semua cara 
untuk tetap membuat opini masyarakat dan kebijkan pemerintah SBY-Jk tetap 
berpihak kepada kepentingan mereka. Karena kalau trerbukti Lapindo Bakrie  
telah melakukan kesalah dalam pengeboran dan menimbulkan bencana maka 
konsekuensinya Lapindo-Bakrie harus memberikan kompensasi kerugian atas semua 
korban dan  kerusakan baik yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan 
kemanusiaan dan eksistensi dan konservasi lingkungan alam.  Tidak boleh ada 
sepeserpun uang rakyat (baik dari APBN maupun APBD ) yang boleh dikeluarkan 
untuk "sharing" menanggung beban Lapindo Bakrie. Salam
 perjuangan Tjuk KS



--- Pada Sab, 8/11/08, sohibmachmud <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: sohibmachmud <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pembunuhan Karakter Ahli Lapindo?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 8 November, 2008, 5:37 AM













seperti yg saya katakan bahwa apa yg dilakukan ahli geologi

mendiagnosa lumpur lapindo adalah sama dgn dokter yg mendiagnosa

pasien. hasil diagnosa dapat disebut sebagai pendapat profesioanal.

kalau kita ingin mendapatkan hasil diagnosa dari dokter lain dikenal

dgn nama second opinion.  jadi pendapat atau opini bisa di voting.



terlalu berlebihan apabila proses dokter yg mendiagnosa pasien

disebut sebagi sedang melakukan riset atau lagi membuat hipotesa

atau hasil diagnosa sebagai kebenaran ilmiah yg tidak boleh di

voting.

untuk membuktikan diagnosa dokter melakukan terapi, bukan sedang

melakukan pembuktian hipotesa atau eksperimen.

jadi apa yg dilakukan ahli geologi adalah mendiagnosa dan belum atau

tidak melakukan terapi.



untuk agus guntotro anda jangan berlindung dibalik istilah ilmiah

atau hipotesa. pendapat anda sebagai profesional adalah tanggung

jawab pribadi anda sendiri yg  harus anda pertanggung jawabkan

kepada publik. kalau pendapat anda salah atau memang anda

kepentingan lain berarti anda membunuh karakter profesional anda

sendiri dan bukan publik yg membunuhnya.



sohib

Kirim email ke