Cak Tjuk, ini kebetulan Dr. Rudy Rubiandini angkat suara (maaf: diambil dari
milis migas). Barangkali cocok buat masukan diskusi.
Salam/WK
Posted by: "Harry Eddyarso" [EMAIL PROTECTED]
Mon Nov 10, 2008 7:19 pm (PST)
For your info aja..
-----------
Selamat siang Pak Rudy,
Ini draft wawancara saya dengan Bapak.
Tulisan ini mau naik cetak nanti malam, saya menunggu foto dari Bapak.
Terima kasih sebelumnya.
Widodo
---------------------------------
Ada empat kelompok pendapat dari para ahli geologi dunia tentang pemicu
munculnya lumpur Lapindo. Mayoritas berpendapat, penyebabnya adalah
kesalahan pengeboran.
Sebagai salah satu peserta American Association of Petroleum Geologists
(AAPG) 2008 International Conference and Exhibition di Cape Town, Afrika
Selatan, 26-29 Oktober 2008 lalu, Dr Rudy Rubiandini begitu kecewa ketika hasil
konferensi internasional tersebut diplintir untuk kepentingan Bakrie Group
dalam kasus lumpur Lapindo. Padahal, dalam sesi diskusi "Lusi Mud Volcano:
Earthquake of Drilling Trigger", mayoritas peserta sepakat bahwa penyebab
lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran, bukan gempa bumi. "Kalau
menyalahkan alam kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu sudah amat gamblang,"
ujar ahli geologi dari ITB itu kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Rabu
(5/11). Berikut ini petikan wawancaranya.
Mengapa dalam diskusi itu tidak dibuat laporan tertulis, berarti hanya
sebatas pertemuan informal?
Bukan begitu, formal itu tidak harus tertulis. Tidak perlu bikin laporan
buat orang Indonesia. Justru kita yang seharusnya kemudian mencari tahu, apa
sih yang sebenarnya terjadi. Apakah pemerintah mau atau tidak menerima
keputusan orang-orang yang tidak punya interest dengan Lapindo, interest dengan
politik Indonesia dan sebagainya.
Bagaimana hasil diskusi itu?
Mereka beranggapan, hasil diskusi sudah panjang karena memakan waktu dua
tahun. Bertemulah mereka di Cape Town sebagai titik puncak, setelah seminggu
sebelumnya di London. Di situ ada empat kelompok. Pertama, kelompok yang
mempercayai bencana Lapindo disebabkan bencana alam. Kedua, kelompok yang
percaya bencana itu akibat dari pengeboran. Ketiga, kelompok yang percaya
akibat dari kedua-duanya. Keempat, kelompok yang mengatakan data ini
inkonklusif sehingga masih harus dikaji ulang. Setelah panjang lebar dan
sebagainya si moderator bilang, 'ini kelihatannya kita harus akhiri, karena
sudah sore'.
Dari situ lalu muncul usul untuk pemungutan suara?
Moderator mengatakan, untuk mengakhiri pertemuan itu, mari kita lihat
petanya seperti apa sih pendapat saudara-saudara. Akhirnya para hadirin diminta
untuk mengacungkan tangan. Kelompok pertama yang setuju akibat bencana alam,
yang ngacung cuma 3 orang. Kelompok kedua yang setuju akibat dari pengeboran,
yang ngacung 42 orang. Kelompok ketiga yang percaya akibat kedua-duanya yang
ngacung ada 13 orang. Lalu kelompok keempat yang inkonklusif yang ngacung ada
16 orang.
Dari peta 42 orang dan 3 orang, kita mau ambil kesimpulan seperti apa
lagi. Silakan simpulkan, pertemuan itu tidak akan menyimpulkan apa-apa, biar
masyarakat sendiri yang menyimpulkan apakah lumpur Lapindo terjadi akibat
bencana alam atau pengeboran.
Bagaimana tanggapan Lapindo?
Ya pasti menolak. Tapi saya mau katakan, apakah bangsa Indonesia mau
mencari kebenaran atau tidak. Kalau mau mencari kebenaran, dengarkan apa kata
mereka. Mereka itu tingkat keahliannya tinggi, tidak dipengaruhi oleh apapun.
Mereka ilmunya tinggi. Mereka bukan hanya orang Indonesia, mereka bukan orang
idiot, mereka bukan masyarakat biasa, mereka semua mengerti tentang ilmu minyak
dan gas bumi, mereka memahami geologi, mereka berbicara membahas fakta yang
ada, berjam-jam. Masak kita tidak percaya terhadap analisis mereka. Bahwa
kemudian pemerintah tidak menganggap pertemuan itu pertemuan resmi, silakan
saja, bahwa itu nonformal silakan, bahwa DPR tetap menganggap kasus Lapindo
sebagai bencana alam, silakan. Cuma, kasihan sekali bangsa ini ditertawakan
dunia.
Pertemuan yang di London hasilnya juga sama?
Betul. Tapi yang di London memang dibuat press release-nya. Dan yang
membuat release itu teman-teman Lapindo, hasilnya juga sama, tidak ada
kesimpulan.
Berapa yang hadir dalam pertemuan di Cape Town?
Sekitar 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Di sana kita tidak melihat
dari mana asal usulnya, yang penting itu adalah international event yang
dilakukan setiap tahun, yang sudah berjalan sekian puluh tahun.
Mereka itu siapa saja?
Itu adalah asosiasi ahli geologi dunia yang kredibilitasnya tidak
diragukan. Saya dengar, di Indonesia katanya mau diadakan lagi. Pertanyaan
saya, apakah bisa lebih kompeten dari mereka? Apakah bisa lebih netral dari
mereka? Apakah bisa lebih hebat kemampuan menganalisisnya dari mereka? Mari
kita berkaca, jangan mengaku sok pinter.
Mereka berdiskusi atas inisiatif siapa?
Orang-orang itu datang tanpa kepala, datang tanpa dasar. Mereka itu
tergabung dalam asosiasi sudah bertahun-tahun. Sekarang dunia melihat kepada
lumpur Lapindo, tanpa diminta. Para ahli geologi interest untuk datang ke
tempat itu, jauh-jauh dari berbagai negara hanya untuk mengikuti acara itu.
Kita harus apresiasi itu. Mereka tidak punya kepentingan apapun. Mereka bisa
datang saja sudah hebat kok, ngapain ada kepentingan-kepentingan tertentu.
Netralitas mereka sangat tinggi, sehingga kalau ada isu bahwa pertemuan itu
dipolitisasi, itu sangat menyesatkan. Tadi saya cerita, itu hanya polling,
memetakan, dan petanya seperti itu, simpulannya silakan putuskan sendiri.
Anda sendiri melihatnya seperti apa?
Saya justru banyak muncul pertanyaan. Waktu DPR mengatakan bahwa ini
akibat dari bencana alam, waktu BPPT, Aspermigas (Asosiasi Perusahaan Minyak
dan Gas Bumi), maupun IAGI mengatakan ini akibat gempa, ada tidak media massa
yang protes? Ada apa? Caranya bagaimana? Mereka bikin tim perumus yang
orang-orangnya berasal dari Lapindo. Kenapa ketika ada yang melakukan dengan
cara voting di luar negeri, tanpa ada yang mengatur, tanpa
ada tim perumus, kenapa malah diributkan? Aduh, kacau benar bangsa ini.
Rekayasanya sungguh amat telanjang. Janganlah muka buruk cermin dibelah. Kalau
kita berkaca, saat muka kita kelihatan jelek, janganlah cerminnya dipecahin.
Harapan saya terhadap pemerintah tidak terlalu muluk, tolong dianalisis hasil
diskusi itu.
Pihak Lapindo ngotot bahwa lumpur Lapindo akibat gempa?
Ya, kalau menyalahkan alam, kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu
sudah amat gamblang.
Anda menilai media massa sudah dikooptasi untuk kepentingan Bakrie Group,
apa mesti dilakukan?
Ya, akhirnya saya hanya bisa menyarankan, mari kita gunakan hati nurani.
Selama pemimpin tidak memiliki hati nurani dan akal sehat, lumpur Lapindo tidak
akan pernah tuntas. Kita tenang sajalah, wong DPR-nya juga tidak akan pernah
percaya terhadap AAPG. Bakrie tenang saja, wong presidennya tidak akan pernah
percaya terhadap temuan AAPG. Pemerintah juga tidak akan berpihak pada AAPG.
Tenang saja wong kejaksaan juga tidak akan pernah mengusut. Semua tidur nyenyak.
Kabarnya, ahli geologi yang memihak kepada kepentingan Bakrie Group akan
menggelar pertemuan tandingan di Indonesia?
Berkacalah, apakah Anda lebih hebat dari orang-orang yang berkumpul di
AAPG. Pesan saya cuma satu, berkacalah.
Kalau mereka tidak mau berkaca?
Kita menunggu perubahan hati nurani, terutama para pemimpinnya. Ini
masalahnya sederhana sekali, hanya hati nurani. Itu saja, tidak sulit-sulit
kok. Apalagi yang harus kita usahakan, wong pertemuan tingkat internasional
saja diabaikan, apalagi yang bisa diharapkan kecuali kembalinya hati nurani.
Semua sudah kita lakukan. Semua yang kita lakukan, halal, berdasarkan keilmuan,
tidak ada pesanan-pesanan, rekayasa dan sebagainya. Tidak ada permainan supaya
kasus Lapindo merupakan kesalahan pengeboran. Semua transparan.
Apa tahun depan AAPG akan menggelar diskusi tentang lumpur Lapindo lagi?
Tidak mungkinlah. Itu kemarin dijadikan highlight saja, seharusnya bangsa
Indonesia berterima kasih. Itu kan ada enam highlight. Highlight itu acara yang
ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Pertemuan itu setara dengan climate change,
setara dengan offshore exploration , setara dengan African change exploration,
itu adalah sebuah masalah yang dianggap penting bagi para ahli. Kita harus
berterima kasih terhadap mereka. Kok kita mau bikin acara tandingan di sini. Ya
diketawain, dagelan yang tidak lucu.
----- Original Message -----
From: tjuk kasturi sukiadi
To: [email protected]
Sent: Wednesday, November 12, 2008 10:02 AM
Subject: Bls: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pembunuhan Karakter Ahli Lapindo?
Bung Sohib yang kritis,
Pendapat anda benar tentang anatomi Lumpur Lapindo. Sejak sebelum hasil
"Voting Ahli Geologi Pertambangan di Cape Town" ,teman-teman Gerakan Menutup
Lumpur Lapindo dengan dukungan para ahli pengeboran tambang yang tergabung di
dalam Drilling Engineers Club yang dipelopori oleh Dr. Rudi Rubiandini
berpendapat bahwa Bencana Lumpur Lapindo bukan bencana alam tetapi bencana yang
terjadi pada alam akibat ulah manusia alias "human error" yakni kesalahan
pengeboran oleh Lapindo Brantas Inc. Ketika itu kalau dihitung dalam "cacah"
ahli yang menyuarakan kepentingan Lapindo lebih banyak. Bahkan ketika Prof
Davies dalam artikelnya di National Geographics bln Januari 2008 pendapatnya
sama dengan GMLL-DEC sdr Ical Bakrie dengan pongah mengatakan bahwa yang
menyatakan bukan bencana alam hanya 1 pakar, sedang yang pro bencana alam (pro
pendapat Lapindo Bakrie) adalah 100. Nah ternyata hasil Capetown yg justru
mengikuti logika berpikir Bakrie membuktikan sebaliknya.
Bukan 100 lawan 1 untuk Bakrie, justru 42 lawan 3 untuk GMLL-DEC. Malahan
menurut Bung Rudi Rubiandini manakala unsur yang terafiliasi dengan Indonesia
(termasuk Lapindo) dari para peserta yang hadir di Konperensi AAPG Cape Town
itu dihilangkan maka skorenya adalah 40 lawan 0 (kosong) untuk GMLL-DEC. Kita
sangat maklum bahwa Lapindo Bakrie berusaha dengan menghalalkan semua cara
untuk tetap membuat opini masyarakat dan kebijkan pemerintah SBY-Jk tetap
berpihak kepada kepentingan mereka. Karena kalau trerbukti Lapindo Bakrie
telah melakukan kesalah dalam pengeboran dan menimbulkan bencana maka
konsekuensinya Lapindo-Bakrie harus memberikan kompensasi kerugian atas semua
korban dan kerusakan baik yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan
kemanusiaan dan eksistensi dan konservasi lingkungan alam. Tidak boleh ada
sepeserpun uang rakyat (baik dari APBN maupun APBD ) yang boleh dikeluarkan
untuk "sharing" menanggung beban Lapindo Bakrie. Salam
perjuangan Tjuk KS
.
[Non-text portions of this message have been removed]