Diskusinya semakin menarik nih. Tapi jangan lah kita saling membodohi2 satu sama lain. Sebab semua pasti punya perspektif dari keilmuan dan pengalamannya masing-masing.
Mungkin benar Bung Harya menganggap Bung Manneke terlalu mensimplikasi persoalan yang kompleks ini. Tapi harus diingat ada ribuan atau mungkin jutaan orang juga yang berpikiran sesederhana itu seperti Bung Manneke pikirkan. Pertanyaan mereka termasuk saya yang sudah punya anak bersekolah sangat sederhana, kenapa harus anak sekolah atau karyawan yang dikorbankan dengan dimajukan jam kerjanya? Persoalan transportasi di DKI ini tidak melulu hanya masalah rekayasa teknik saja melainkan juga persoalan sosial di dalamnya. Pernahkah kita berpikir kalau 30 menit waktu yang cukup berharga bagi masyarakat di perkotaan atau pinggiran kota. Dengan 30 menit itu pula kita sesama anggota keluarga mempunyai tambahan untuk berkumpul. Pernahkah kita membayangkan kalau salah satu anggota keluarga kita (ayah, ibu, anak) pergi duluan dari rumah karena jam aktivitasnya semakin maju. Biasanya anak atau orang tua pergi sekitar pukul 05.30 atau 05.00 (untuk rumah di pinggir kota). Namun ke depan harus maju lagi karena adanya kebijakan tersebut. Sementara waktu pulangnya (orang tua) sama saja karena toh persoalan utamanya yakni kemacetan akibat rendahnya kualitas sarana dan prasarana transportasi publik tetap belum dibenahi. Akibatnya orang tua tetap bakal pulang pada jam yang sama sebelum dimajukan waktu kerjanya. Jadi waktu berkumpul bersama keluarganya semakin berkurang. Benar bahwa banyak buku atau literatur yang menjelaskan mengenai transportasi perkotaan. Tapi apakah buku atau literatur itu kemudian dipraktikkan secara benar oleh pemegang kekuasaan. Kan tidak juga. Menyitir kalimat Bung Harya mengenai 'Kalau mau 'terbebas' dari kemacetan, maka harus rela tidak menjadi 'penyebab' kemacetan.. termasuk anak-2 sekolah.', saya cuma bertanya bagaimana caranya kita tidak menjadi penyebab kemacetan dengan fasilitas transportasi yang ada saat ini. Saya sepakat dengan konsep 'bike to work' yang Bung Harya lakukan. Saya pun juga melakukannya. Walaupun tidak sering karena pola kerja saya yang tidak mungkin menggunakan sepeda. Tapi kita juga harus berempati dengan masyarakat yang tinggal di pinggiran (Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang) juga toh yang jarak rumah ke kantor lebih dari 20 km. Dengan kondisi prasarana dan sarana transportasi saat ini (bus maupun kereta api) yang belum memadai, sulit juga mereka melakukan mobilitas seperti yang Bung Harya lakukan. Tapi intinya buatlah kebijakan yang berempati terhadap masyarakat. Tidak melulu hanya masalah rekayasa teknik. Justru kebijakan top down itu masalah utamanya. Sebab masyarakat bukan robot. Oke sekian dulu. Mungkin nanti bisa didiskusikan lagi kenapa masyarakat di pinggiran Jakarta tetap memilih sekolah di tengah kota. --- In [email protected], "Harya Setyaka" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Manneke yg budiman, > > mohon kesabarannya dalam mempelajari subjek baru, yaitu transportasi > perkotaan... > simak lah baik-2 buku-2/literatur mengenai subjek diatas.. > perkayalah kepustakaan anda sebelum lebih jauh terpuruk dalam simplifikasi. > > demand transportasi/pergerakan adalah fungsi dari aktivitas manusia/penduduk > kota. > karena aktivitas kota sgt kompleks, maka makin kompleks pula-lah pola > pergerakan/lalu lintas dan kinerja jaringan jalan (--> kemacetan). > > solusi yg ditawarkan oleh pemprov adalah merekayasa pola aktivitas sebagian > penduduk kota. hanya itu yg saya sepakati. > sisanya tidak sy puja puji.. simaklah email sy dengan baik Bung.. sy pun > menyatakan bahwa wajar apabila pemprov menerima respons negatif dari > masyarakat karena bersikap top-down... sekali lagi.. simak Bung! > > > Betul, bahwa sy tidak punya data berapa banyak anak yg sdh tiba di sekolah > pukul 6.30. > tapi tidak betul juga bahwa anak-2 stress karena bangun pagi, bahkan sampai > bunuh diri. > yg saya pahami, bunuh diri lebih karena malu ga bisa bayar uang eks-kul.. > dll. > > > di kota Bandung, Surabaya, sudah masuk 6.30.. di Yogya ada pula yang 6.45. > namun demikian, tidak melulu siswa berprestasi berasal dari Jakarta. > betul, bahwa kita perlu detailing utk hal ini. Data kita memang sgt > terbatas, namun solusi sudah sgt mendesak. > walhasil, kita seperti dokter/mantri di pedalaman... dengan segala > keterbatasan alat diagnosis, melihat dan menganalisis gejala-2.. > karena kalau menunggu invensi alat diagnosis yg super-canggih dan > super-akurat, pasien-nya udah mati duluan. > > > pahami juga Bung.. bahwa kemacetan itu bukanlah masalah yg ditimbulkan oleh > orang lain.. tapi kita yg merasa 'terjebak' kemacetan, sebenarnya adalah > 'penyebab' kemacetan. siapapun yg bermobil di jalan adalah penyebab > kemacetan, dan semua orang berhak menjadi penyebab kemacetan dan karena hak > itu dimiliki semua orang, maka menderita kemacetan (yg ditimbulkan bersama) > adalah konsekuensi logis.. you did it to your-self... > So, kalau mau 'terbebas' dari kemacetan, maka harus rela tidak menjadi > 'penyebab' kemacetan.. termasuk anak-2 sekolah. > > sy sendiri sudah lama terbebas dari macet, karena setia dengan Busway dan > bersepeda... > (sekaligus mengurangi beban subsidi BBM) > dari DurenTiga masuk kantor di Harmoni jam 7an, berangkat jam 6.20an dan > pulang jam 4 (teng)... > > > salam, > -K- > > > NB: Bung Manneke, cobalah bersepeda atau sport apa pun.. you could use the > endorphins.
