Bung Harya, Untuk tahu Jakarta macet, macet sekali dan macet bukan main sih nggak perlu survey bung. Jika anda mau jujur, anda tentu tahu bahwa Jakarta macet bukan hanya pada jam2 tertentu saja. Namun anda benar juga bahwa saya memang tidak punya data2 dan angka2 ketika mengatakan itu. Ada kemungkinan pengamatan saya ini subjektif.
Nah, sebagai pejabat DKI, yg tentunya mempunyai akses untuk mengumpulkan data itu lebih baik daripada saya, apakah anda punya data2 ketika mengatakan Jakarta hanya macet pada jam2 tertentu? Boleh saya lihat data yg anda punyai ketika mengatakan Jakarta hanya macet pada jam2 tertentu? Usulan saya untuk mengurangi intensitas lalu-lalang ke Jakarta memang bukan usulan baru. Tapi apakah usulan ini sudah dilaksanakan? Khan belom toh ya. Oh ya, saya sekarang bukan lagi korban kemacetan di Jakarta. Setelah hidup bertahun-tahun di Jakarta dan menyadari bahwa Jakarta makin tahun makin bertambah macet-nya sehingga saya tak sanggup lagi hidup di kemacetan Jakarta, maka saya putuskan untuk membantu pemerintah DKI dengan meninggalkan Jakarta. Satu lagi, di masa2 akhir saya di Jakarta, saya tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi ke kantor, namun menggunakan kendaraan umum dan juga Bus Way. Ketika menggunakan Bus Way, jalanan juga masih macet (sebagian mobil pribadi kadang dilewatkan ke jalur bus way oleh Polisi). Dan mungkin anda juga perlu tahu bahwa penumpang Bus Way harus menunggu setengah jam atau bahkan kadang sampai satu jam lebih untuk bisa naik Bus Way dengan berhimpit2an dan mandi keringat. Apa ini solusi yg manusiawi dari pemerintah DKI untuk mengurangi kemacetan di Jakarta? Yg saya amati kemacetan tidak banyak berkurang, namun penduduk atau warga pinggiran Jakarta yg bekerja di Jakarta sudah menjadi korban. Sekarang malah ada usulan lagi untuk mengubah jam masuk anak sekolah (yg makin tidak berhubungan dengan kemacetan di Jakarta). Sampai kapan sih pemerintah DKI berhenti berpikir asal2an dan mulai menyelesaikan masalah pada sumbernya? salam, -bank al-
