Salam kenal Pak Alfred, Seingat saya bbrp waktu lalu Kompas pernah menurunkan laporan persentase pengguna kendaraan pribadi yg beralih ke busway. Saya lupa persisnya, kemungkinan masih di bawah 15%. Barangkali ada rekan2 lain yg tau.
Saya sendiri juga lebih sering pakai angkutan umum ke tempat kerja. Bukan karena idealis2 banget, kebetulan mobilnya hanya satu. Kecuali saat kami pergi sekeluarga dgn tiga orang anak, biasanya pakai mobil pribadi. Saya harus jujur mengatakan bahwa saya pun ingin menikmati kepraktisan dan kenyamanan naik mobil pribadi. Utk sampai ke tempat mengajar saja di belakang Senayan City, saya mesti menyediakan waktu di perjalanan minimal 2 1/2 jam agar tidak terlambat. Naik angkot sekitar satu jam, kemudian naik busway dua kali. Interval kedatangan busway koridar VI (Ragunan-Dukuh Atas) masih terlalu lama, padahal penumpangnya banyak. Alhasil saya lebih sering berdiri di busway. Apalagi jaman sekarang kan semua orang, baik laki2 dan perempuan sudah capek semua di jalan dan tempat kerja. Kadang2 masih saya temukan ibu2 yg sudah agak berumur berdiri sementara di depannya ada laki2 muda yg entah memang tertidur atau sengaja menutup mata dari pemandangan yg ada di depannya (maaf, agak menyimpang sedikit, sekaligus melepas uneg2). Kalau saya kebetulan diantar sopir suami, waktu tempuh ke tempat kerja biasanya lebih singkat, dan tentu saja lebih nyaman. Saya tidak perlu berdiri antri berdesak-desakan menunggu busway, mandi keringat seperti kata Pak Alfred, plus terdorong-dorong saat masuk ke busway karena semua orang ingin cepat dan ingin dapat tempat duduk, ataupun bergelantungan di busway. Saya yakin, pengguna mobil pribadi banyak yg bersedia beralih ke busway, bila interval kedatangan busway lebih pendek, waktu tempuh lebih pendek, jangkauan wilayah lebih luas, dan lebih nyaman tentunya. Untuk orang2 yg sering mengadakan pertemuan dgn mitra bisnis agak sulit mengandalkan busway karena keterbatasan2 itu. Suami saya juga ingin naik busway, tapi akan terlalu banyak waktu dan tenaga yg terbuang sehingga mengurangi produktivitas kerja. Biayanya juga bisa2 malah mahal karena mesti sering naik taxi karena jalur yg mesti dia dilalui belum dilayani busway. Salam kenal juga Pak Harya, senang ada orang2 yg kompeten di bidang transportasi di sini. Tentu saya tidak mendasarkan apa yg saya sampaikan berdasarkan sebuah penelitian, tapi saya rasa pengamatan2 yg disampaikan oleh rekan2 di milis ini tentunya bisa jadi masukan2 yg berharga juga utk perbaikan transportasi di Jakarta. --- On Wed, 12/24/08, Alfred Alinazar <[email protected]> wrote: From: Alfred Alinazar <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib To: [email protected] Date: Wednesday, December 24, 2008, 7:17 AM Bung Harya, Anda yakin Bus Way ini sekarang digunakan oleh mantan pengguna kendaraan pribadi? Saya kok tidak banyak menemukan teman2 yg tadinya menggunakan kendaraan pribadi lalu pindah ke Bus Way. Saya sendiri kebetulan adalah salah satu pengguna kendaraan pribadi yg berpindah ke Bus Way. Hasil yg saya dapatkan adalah: - Tiba di kantor lebih lama daripada ketika naik kendaraan Pribadi - Harus Jalan kaki berpindah jalur Bus Way - Harus menunggu setengah jam, bahkan seringkali lebih dari 1 jam untuk bisa naik Bus Way - Harus berhimpit2an dan berkeringat di antara para pengantri Bus Way ketika menunggu Bis - tidak flexibel ketika harus ada meeting ke tempat lain karena jalur Bus Way tidak selalu ada Semasa2 saya naik Bus Way itu saya sering bertanya2 dalam hati, apa sih keuntungan saya naik Bus Way? Terus terang nggak ada, kecuali acungan jempol dari anda. Tapi apa untungnya bagi saya dapat acungan jempol dari anda? Emang jempol anda jempol berlapis emas? Bus Way itu (saat ini) cuma cocok bagi mantan penguna Metro Mini dan Bus2 lainnya. Namun sangat mengada-ada jika mengatakan Bus Way adalah solusi transportasi bagi para pengguna kendaraan pribadi. salam, -b [Non-text portions of this message have been removed]
