Bung Manneke,

Thx atas masukannya. Betul bahwa interaksi DTKJ dng masyarakat masih
terbatas pada forum-2 tatap muka dengan unsur masing-2. Kegiatan ini
dilakukan secara intensif. Tapi karena tatap muka, maka yg berada di
kejauuuhan ya tidak berkesempatan utk berpartisipasi.
Ke depannya memang perlu ditingkatkan.
Tapi kan transportasi itu isu lokal... jadi wajar kalau utk langkah
awal, konstituensi/unsur lebih pada warga yg sehari-2 menggunakan
angkutan umum di Jakarta.

Soal sikap negatif, itu adalah pilihan yg sah.
Begitu pula kalau mau menyikapi positif, sah juga.

Pendapat sy Mengenai jam sekolah masuk 6.30:
pertama; Suatu kebijakan yg layak diwacanakan dan dicoba. Sayangnya
kita kekurangan mekanisme demokrasi dalam kebijakan-2 publik. Di
negara lain, kebijakan2 tersebut perlu melalui proses referendum dulu.
Di Stockholm, kebijakan ERP juga di-uji-coba-kan dulu, lalu masyarakat
memilih melalui refrendum; apakah ERP diteruskan atau tidak.
Tapi kalau tidak pernah dicoba, maka tidak ada pengalaman bersama
(common experience) maka hipotesis akan berbalas hipotesis.

kedua; masuk pagi jam 6.30 ternyata bukan hal yg terlalu spektakuler.
Ini sy sampaikan.
dari indikator bahwa ada perjalanan setara AKAP dan sampai 4 kali naik
angkot (ini beneran ga sih, atau cuma dramatisir? mohon info lengkap
dong,... jangan di-irit-2), menunjukkan bahwa di hulu-nya ada yg
salah. transportasi adlah hilir dari kondisi sosial masyarakat.

Ketiga; merekayasa pola aktivitas adalah cara yg bisa mengurangi beban
lalu lintas. Begitu pula cara lain. Pola aktivitas kerja swasta dapat
diubah tanpa menunggu intruksi dari Kepala Daerah, dan ternyata sudah
mulai digunakan baik secara pribadi maupun kolektif (kebijakan
perusahaan).
Ya, matematika adalah alat bantu analisis. Ini bukan pamer. kalau anda
tertarik silahkan perdalam, kalau tidak sy hanya mencoba menjelaskan
sesederhana mungkin.

Keempat; angkot-2 sedikit demi sedikit harus di-busway-kan. memang
sekarang pengguna angkot di tengah kemacetan adalah yg paling
menderita. Makanya busway dilakukan.
Sy tegaskan mengenai busway karena inilah program yg prioritas,
mengubah pola aktivitas bukan prioritas.
Mohon maaf, sy tidak menempatkan pengguna ankot sbg pelaku kemacetan,
mereka adalah korban murni. Thx atas koreksinya. Maksud sy dari awal
memang seperti yg anda sampaikan. Ini pun bukan 'teori'.. tapi quote..
yg kebetulan sy setujui.
 Untuk itulah pem-busway-an (prioritas angkutan umum) akan terus
dilanjutkan. Sy berpendapat bahwa seharusnya jalur busway adalah
default dari seluruh jaringan jalan. Kedepannya, membangun jalan baru,
harus sudah ada jalur busway dari awal.

Bahkan ada mazhab yg lebih menarik lagi dalam transportasi; kemacetan
bukan masalah; yg masalah adalah kesetaraan hak menggunakan ruang
jalan. Mengurangi kemacetan hanya akan dinikmati kaum bermobil. Untuk
itu mazhab ini lebih fokus pada angkutan umum daripada lalu-lintas
kendaraan. Unit analisis nya adalah person-trip, bukan vehicle.

kelima; mengenai program jalur sepeda, mohon sabar. terima kasih atas
antusiasme nya. merencanakan itu perlu proses. sementara ini, belum
banyak yg bisa sy bagi, karena memang proses-nya masih awal. ya
namanya juga permulaan, pasti ada masa-2 awal toh..
sy lebih senang memulai proses partisipasi jauh diawal, daripada
masyarakat disuruh telan diakhir. maka hanya akan menuai sikap negatif
dari masyarakat. Kalau Bung Manneke dan milister lain punya masukan,
monggo lo... selain bertanya juga boleh beri masukan. Apa ada
preferensi; sebaiknya ambil badan jalan atau pelebaran?


Terakhir; memang sekarang ini serba normatif... karena belum
uji-coba.. dan memang dalam tahap perencanaan / pra-implementasi..
jadi ya tadi itu.. hipotesis berbalas hipotesis.

salam,
-K-




On 12/27/08, manneke budiman <[email protected]> wrote:
> Selama situ gak becus untuk transparan, panteslah dikasih sikap negatif
> duluan. Di sini ngaku-ngaku jadi dissenter dalam rapat-rapat DTKJ, tapi gak
> pernah tuh hasil rapat-rapatnya diumumkan. Jadi gimana orang tau kalo Anda
> tak cuma ngaku-ngaku doang?
>
> Gimana kalo Anda tegaskan di sini sikap Anda SEBETULNYA soal pemajuan jam
> sekolah itu seperti apa sih? Dissenting opinion terhadap kebijakan Pemda
> atau mendukung kebijakan Pemda itu? Segini simpel kok, gak usah muter-muter
> belok sana belok sini kaya maen boom boom car. Kita bicara soal kebijakan
> pemajuan jam masuk sekolah, jadi kalo Anda mau bangga-banggaan sebagai
> dissenter, tempatkan damalm konteks inti pembicaraan ini. Oke? Saya ulangi:
> dalam isu pemajuan jam sekolah, Anda di DTKJ adalah dissenter atau bukan?
> Jelas, Bung?
>
> Nah itu dia. Makanya kalo mau bikin pengumuman akan ada kebijakan jalur
> khusus sepeda, jangan cuma asal bikin statement aja. Jelaskan kepada forum
> ini fasilitas apa saja yang akan disediakan, sumbernya dari mana, dan
> targetnya apa. kalo cuma bikin pernyataan doang yang pakai kata kunci
> "nanti" dan "akan", kita udah eneg Bung. Semua pejabat dan parpol yang mau
> menang Pemilu ngomongnya sama semua. Isinya "nanti" dan "akan" mulu tapi
> kaga ada wujudnya.
>
> Jadi, saya ulangi lagi ya (soalnya Anda demen lari-lari keluar dari
> persoalan): Apakah betul ada kebijakan Pemda DKI untuk menjadikan sepeda
> sebagai kendaraan alternatif warga Jakarta demi mengurangi pemakaian
> kendaraan bermotor di jalan? Apakah ini ada di Rencana Makro yang selalu
> Anda sebut-sebut itu? Persisnya gimana rencana ini akan diimplementasikan?
> (ambil jalur lama seperti dilakukan busway? Buka pelebaran jalan baru? di
> semua jalan, termasuk jalan protokol? Kapan akan dimulai dan kapan akan
> selesai? Bisa jawab kan, Bung.
>
> Setelah Anda jawab ini dengan memuaskan, baru saya akan baca-baca sejarah
> perlalu-lintasan di kota Houston yang Anda sarankan, meski sampai titik ini
> saran Anda ini buat saya masih berupa Jaka Sembung bawa golok alias kaga
> nyambung dengan isu pemajuan jam sekolah.
>
> Lha? Yang suruh program busway dihentikan siapa? Kok saya disuruh memahami
> soal busway? Saya tak punya masalah dengan busway, Bung. Ini Anda masih
> bicara sama saya atau ditujukan ke semua member di milis ini? Bukankah isu
> ini muncul dalam konteks SIAPA KORBAN dan SIAPA PELAKU KEMACETAN? Anda kan
> punya teori jenius yang bilang bahwa semua pengguna kendaraan adalah PELAKU
> kemacetan? Kok bukannya mempertanggungjawabkan pernyataan heibat ini tapi
> malah kasih kulaih kepada saya beda busway dan angkot? Gak nyambung, Bung.
>
> Dan saya juga tak mempersoalkan apakah orang beli kendaraan mau dipajang di
> garasi doang atau dipakai puter-puter kota. INTINYA adalah orang yang naik
> kendaraan umum tak dapat disebut sebagai PELAKU kemacetan. Pelaku kemacetan
> adalah orang yang berbondong-bondong memakai kendaraan pribadinya untuk
> memenuhi jalanan, alih-alih memakai fasilitas umum yang sudah disediakan
> pemerintah. Ngerti nggak sih, Bung?
>
> Hehehe, sikap sok tau Anda soal lalu-lintas rupa-rupanya bikin Anda angkuh.
> Saya tak mempersoalkan matematikanya, Bung. Bagi saya yang penting adalah
> jika kapasitas jalan sudah tertentu, maka tugas Pemda (dan Anda sebagai
> orang yang dibayar kasih nasihat)adalah memastikan bahwa kapasitas itu
> terjaga. Caranya gimana? Itulah alasan kenapa Anda dibayar duduk di KTKJ.
> Mau tingkatkan kapasitas? Mau batasi volume kendaraan yang lewat? Buat
> orang-orang cerdas seperti Anda yang digji untuk kasih nasihat cemerlang dan
> bukan ecek-ecek, mestinya bisa kasih solusi cerdas daripada cuma MEMAJUKAN
> JAM SEKOLAH anak. Rupanya soal ini Anda mampet asli ya Bung? Percuma bisa
> matematika canggih kalo ngerti soal sepele gini aja kaga becus.
>
> Soal sepeda, jangan kebanyakan berteori dan berabstraksi deh. paparkan saja
> rancangannya persisnya seperti apa di sini, dan jangan pakai nama "kaum
> lemah" dulu sebelum ada wujudnya. Sejauh ini tentang sepeda ini Anda cuma
> bikin pernyataan-pernyataan normatif dalam future tense doang. Apa yang bisa
> diperdebatkan dari situ?
>
> manneke

Kirim email ke