Pak Manneke,

Kita gencatan senjata sebentarlah. Natal sudah dekat; nanti tak
sampai pesannya ke Anda kalau masih ngeledekin saya terus. Besok saya
sudah cuti akhir tahun; mau mengkhitan anak, setelah itu keluar kota.
Saya tidak akan "ketemu" Anda lagi sampai 2009.

Selamat Natal dan Tahun Baru, Pak Manneke.

Andi

--- In [email protected], manneke budiman
<hepaest...@...> wrote:
>
> Ya Anda saja dari awal yang telmi. Baru sekarang dapet sedikit
pemahaman. Ya biarlah bangga dikit, kasian... Dari Zaman Batu dulu
saya juga kaga pernah berpretensi belain kasus umum, situ aja yang
kebanyakan ngeboat jadi mikirnya kaga karu-karuan.
>  
> Kaga tau saya apa mereka bener 4 kali naik angkot atau tidak. Yang
jelas ada yang menulis bahwa sedemikianlah halnya, dan diskusi dalam
milis ini semuanya berangkat dari tulisan. Semua diskusi dilakukan
dengan asumsi dasar bahwa tulisan itu benar (sampai bisa digugurkan
kebenarannya dengan info yang lebih akurat). Gitu aja kok refot
banget sih? Kita belum pernah survey orang tua di sini atau di mana
pun juga soal kenapa mereka sampai rela anak-anaknya naik angkot 4
kali, atau verifikasi lapangan apa betul anak-anak itu naik angkot
sampe 4 kali. Yang jelas, seorang member milis ini menceritakan kasus
tersebut, dan karena dia bukan tipe linglung kaya Anda, maka saya
percayai omongannya. Kalo Anda, Bung, sori saja, saya tak gampang
percaya sebab kredibilitas Anda di mata saya nyaris NOL.
>  
> Anda sampai sekarang rupanya masih belum pinter juga. MASALAHNYA
bukan pada ada sekolah atau tidak di sekitar rumah Anda. Masalahnya
adalah sekolah itu masih ada ruang untuk menampung siswa lebih banyak
atau enggak? Apakah sekolah yang dekat rumah itu sekolah berbiaya
mahal atau bisa dijangkau masyarakat luas? Apakah sekolah itu sekolah
agama atau sekolah umum? Sementara Anda dnegan pikiran Anda yang
cethek itu tak mampu bergerak dari satu paradigma thok: JARAK!
>  
> Jadi, mau Depok kek, mau Citayam kek, mau DKI kek, tak jadi soal.
Namanya simulasi itu ya karangan, Bung. Kalo betulan bukan simulasi
namanya (ancur banget sih Anda, hehehe). Yang penting itu skenario
kasusnya mewakili kasus yang riil. Dan kasusnya di sini adalah apa
yang terjadi jika ortu tak mampu menyekolahkan anak di sekolah yang
lokasinya dekat rumah tapi penuh atau tak terjangkau. Ini gak terikat
Depok atau DKI atau Planet Krypton. Kurang jelas juga toh? Lha kacau
gini kok mau ngajarin orang simulasi?
>  
> Sekarang liat apa kata Anda soal ada atau tidak adanya sekolah
dalam radius jarak tertentu dari rumah (saya kutipkan): "Kalau tidak
ada, maka kemungkinan yang sedang Anda bela adalah orang-orang tua
yang MEMILIH menyekolahkan anaknya jauh-jauh, dan bukan yang dipaksa
keadaan. Paham kan apa yang saya bahas? Saya sedang
> membahas argumen Anda, Pak; bukan kebijakan Pemda. Soal kebijakan
> Pemda DKI sih saya tetap EGP."
>  
> Pertama, pernyataan ini adalah pernyataan KONDISIONAL, dan itu
sebabnya dimulai dengan kata KALAU. Ini lalu dipakai untuk membuat
pseudo-hipotesis bahwa saya sedang membela orang tua yang memilih
menyekolahkan anak jauh-jauh bukan karena faktor terpaksa. Ini bukti
Anda tak menyimak posting yang dikirim anggota milis ini yang
bercerita tentang anak-anak yang harus naik angkot 4 kali untuk
sekolah karena TERPAKSA. Kalo yang bukan terpaksa tapi demen, sampe
kirim anaknya sekolah di Hong Kong sana, ngapai saya repot-repot
bela, Bung? Saya masih waras, nggak seancur Anda. jangan samakanlah
Anda sama saya, hehehe.
>  
> Lha saya sudah bilang bahwa concern saya pada yang terpaksa, kok
Anda mau tetap mencekokkan perkataan Anda sendiri--yakni bahwa saya
membela orang yang tidak terpaksa--ke dalam mulut saya. Gilanya lagi,
itu lalu dikalim sebagai argumen saya, yang Anda hendak lawan!
Hahahaha, Anda kira Anda lagi maen sirkus ya, Bung?
>  
> Paragraf terakhir Anda di bawah ini adalah paragraf yang paling
ancur. Saya bahkan tak tau mesti komentar apa dengan paragraf tak
nyambung ini. Jauh dari pokok persoalan, dan lagi-lagi mau memaksakan
pikirannya sendiri ke mulut orang lain. Edan tenan!
>  
> manneke

Kirim email ke