Pak Manneke,
Menurut saya kok sebaliknya. Justru dengan memperketat rayonisasi,
perbedaan sekolah favorit dan non-favorit bisa dikurangi. Masalahnya
selama jumlah Perguruan Tinggi yang bagus masih sedikit,
konsekuensinya akan selalu ada SMA yang relatif lebih bagus dari yang
lain ("Lulusan SMA ini paling banyak diterima di UI/ITB/UGM").
Masyarakat akan melihat ukuran relatif ini dan memilih menyekolahkan
anaknya di sana meskipun secara ukuran absolut sekolah yang dekat
rumah mutunya sebenarnya tidak jelek.
SMA-SMA favorit ini lalu akan pasang nilai batas tinggi untuk
menerima lulusan SMP luar rayon. Lanjutannya, akan ada pula SMP-SMP
favorit yang bisa menghasilkan NEM tinggi atau nilai UAN tinggi biar
bisa masuk SMA favorit, begitu terus sampai level SD.
Perbedaan ini, walaupun pada awalnya cuma sedikit, akan
teramplifikasi karena sekolah favorit ini boleh "memilih" siswanya
akibat sistem rayonisasi yang longgar. Dengan demikian sekolah yang
sudah terlanjur jadi sekolah favorit akan terus memiliki titel ini
untuk waktu yang lama. Putusnya cuma kalau privilese untuk memilih
siswa ini dihilangkan.
Kalau rayonisasi diperketat, sekolah non-favorit tidak akan terus
menerus terpuruk karena selalu menerima calon-calon siswa ber-NEM pas-
pasan. Nilai akhir kan tidak cuma tergantung mutu pendidikannya saja.
Kualitas inputnya juga berpengaruh. Kalau terus menerus dijejali
calon siswa tidak bermutu lama-lama jeblok juga sekolahnya.
Andi
--- In [email protected], manneke budiman
<hepaest...@...> wrote:
>
> Rayonisasi tanpa didahului upaya menyeragamkan kualitas sesuai
standar tak akan ada hasilnya. Kalo ada sekolah yang bagus, biayanya
terjangkau, tapi jaraknya jauh, ya orang secara alamiah lebih pilih
sekolah itu daripada yang dipinggir rumah, biayanya sama dengan yang
jauhan, tapi mutunya kelas kambing. Akses transportasi hanya insentif
saja, dan baru efektif jika orang yakin bahwa mutu sekolah di wilayah
DKI seragam. Paling tidak, sekolah negeri dulu deh, kalo swasta
mutunya bisa macem-macem dan biayanya juga tak bisa diseragamkan. Dan
kalo kita bicara sekolah bermutu baik, sudah tentu kita bicara
soal "sekolah favorit." Sekolah favorit itu kan ada gara-gara mutunya
lebih tinggi dari sekolah-sekolah lain. Jika semua sekolah se-DKI
mutunya standarnya sama, maka kategori "favorit" pun akan hilang
dengan sendirinya (kecuali, sekali lagi, untuk sekolah-sekolah
swasta).
>
> manneke