Rayonisasi tanpa didahului upaya menyeragamkan kualitas sesuai standar tak akan 
ada hasilnya. Kalo ada sekolah yang bagus, biayanya terjangkau, tapi jaraknya 
jauh, ya orang secara alamiah lebih pilih sekolah itu daripada yang dipinggir 
rumah, biayanya sama dengan yang jauhan, tapi mutunya kelas kambing. Akses 
transportasi hanya insentif saja, dan baru efektif jika orang yakin bahwa mutu 
sekolah di wilayah DKI seragam. Paling tidak, sekolah negeri dulu deh, kalo 
swasta mutunya bisa macem-macem dan biayanya juga tak bisa diseragamkan. Dan 
kalo kita bicara sekolah bermutu baik, sudah tentu kita bicara soal "sekolah 
favorit." Sekolah favorit itu kan ada gara-gara mutunya lebih tinggi dari 
sekolah-sekolah lain. Jika semua sekolah se-DKI mutunya standarnya sama, maka 
kategori "favorit" pun akan hilang dengan sendirinya (kecuali, sekali lagi, 
untuk sekolah-sekolah swasta).
 
manneke 

--- On Sat, 12/20/08, w.kasman <[email protected]> wrote:

From: w.kasman <[email protected]>
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:"Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah
To: [email protected]
Received: Saturday, December 20, 2008, 12:44 PM






Kalau fungsi(atau sasaran)-nya adalah meningkatkan kualitas sekolah dan proses 
belajar mengajar, maka transportasi ke sekolah (kemudahan sarana atau akses ke 
sekolah) hanya merupakan SALAH SATU variabel yang harus diperhitungkan (mungkin 
perannya tidak terlalu tinggi). Kalau transportasi sebagai suatu variabel 
dilihat secara independen, maka format yang optimalnya adalah apabila nilainya 
nol atau tidak ada transportasi, misalnya dengan sistem asrama di sekolah. Agak 
kurang optimal misalnya kalau jarak transportasinya disebut dekat, dan disebut 
tidak optimal kalau transpornya jauh. Yang jelas, rayonisasi semata-mata hanya 
merupakan format untuk mengatasi masalah transportasi ini. Nah dari 
transportasi yang optimal atau nilainya mendekati nol, maka sebagian (hanya 
sebagian) tujuan pendidikan diasumsikan telah diberi variabel dengan nilai nol 
atau mendekati nol (sempurna). Karena rayonisasi berkaitan langsung dengan 
masalah transportasi, tentu peran
 rayonisasi dalam meningkatkan kualitas sekolah dan proses belajar mengajar 
hanya akan kecil saja. Kalau belum-belum masalah rayonisasi dituntut untuk 
meningkatkan kualitas sekolah, tentu tidak relevan atau mungkin kurang 
signifikan atau kurang relevan. Rayonisasi hanya akan relevan untuk kaitan 
masalah transportasi. Jadi, kebijakan Pemda DKI yang memajukan jam sekolah 
untuk kelancaran transportasi, menurut saya adalah KEBIJAKAN YANG SALAH. Tetapi 
memajukan jam sekolah untuk menfasilitasi kemudahan transport anak-anak ke 
sekolah - rasanya kok tidak ada salahnya. Lalu, orang tua yang menyekolahkan 
anaknya ke sekolah yang jauh, boleh dikatakan 'mengorbankan' anaknya. Kalau 
orang tua mengambil alasan sekolah favorit, ini tidak perlu dipikirkan-lah.
Tentang sekolah swasta yang tidak mungkin masuk ke sistem rayonisasi, rasanya 
belum tentu juga. Tetapi yang mungkin agak kesulitan masuk adalah 
sekolah-sekolah kejuruan, mengingat jumlahnya yang tidak sebanyak sekolah 
menengah umum. Ini masalah baru yang harus dipertimbangkan.

Terima kasih/WK

Kirim email ke