Pak Andi, Saya sangat setuju dengan gagasan untuk memutus privilese sekolah "favorit" memilih murid-muridnya yang top-top doang. Memang betul bahwa salah satu faktor kenapa sekolah favorit tetap favorit dan jadi makin favorit adalah karena die enak aja pilih murid-murid yang "udah jadi", sementara beban mendidik murid-murid yang tertinggal naris sepenuhnya jatuh di pundak sekolah-sekolah non-favorit. Saya pikir, ini dulu yang perlu diatur sambil menyiapkan rayonisasi. Intinya barangkali adalah sekolah tak boleh menolak menerima murid yang tinggal di wilayah rayonnya sejauh daya tampung masih memadai. Yang mungkin perlu dipikirkan adalah bagaimana melakukan pengawasan agar daya tampung ini tak "direkayasa" alias dipenuhi dulu dengan murid-murid top lalu sisanya baru diberikan pada yang tertinggal. Dalam jangka panjang mungkin ini akan bisa membantu pemerataan penerimaan lulusan SMA di perguruan-perguruan tinggi terkemuka, sebagaimana Anda sampaikan di bawah, karena memang sampai saat ini itu masih jadi persoalan. Jika distribusi murid-murid top lebih merata di tiap sekolah, maka siswa-siswa yang diterima di perguruan tinggi mestinya distribusi asal SMA-nya juga lebih merata. Dalam banyak hal di postingan ini, saya sepakat dengan Anda. Thanks buat ide-idenya yang cemerlang. manneke
--- On Mon, 12/22/08, si_andi <[email protected]> wrote: From: si_andi <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah To: [email protected] Received: Monday, December 22, 2008, 12:37 AM Pak Manneke, Menurut saya kok sebaliknya. Justru dengan memperketat rayonisasi, perbedaan sekolah favorit dan non-favorit bisa dikurangi. Masalahnya selama jumlah Perguruan Tinggi yang bagus masih sedikit, konsekuensinya akan selalu ada SMA yang relatif lebih bagus dari yang lain ("Lulusan SMA ini paling banyak diterima di UI/ITB/UGM") . Masyarakat akan melihat ukuran relatif ini dan memilih menyekolahkan anaknya di sana meskipun secara ukuran absolut sekolah yang dekat rumah mutunya sebenarnya tidak jelek. SMA-SMA favorit ini lalu akan pasang nilai batas tinggi untuk menerima lulusan SMP luar rayon. Lanjutannya, akan ada pula SMP-SMP favorit yang bisa menghasilkan NEM tinggi atau nilai UAN tinggi biar bisa masuk SMA favorit, begitu terus sampai level SD. Perbedaan ini, walaupun pada awalnya cuma sedikit, akan teramplifikasi karena sekolah favorit ini boleh "memilih" siswanya akibat sistem rayonisasi yang longgar. Dengan demikian sekolah yang sudah terlanjur jadi sekolah favorit akan terus memiliki titel ini untuk waktu yang lama. Putusnya cuma kalau privilese untuk memilih siswa ini dihilangkan. Kalau rayonisasi diperketat, sekolah non-favorit tidak akan terus menerus terpuruk karena selalu menerima calon-calon siswa ber-NEM pas- pasan. Nilai akhir kan tidak cuma tergantung mutu pendidikannya saja. Kualitas inputnya juga berpengaruh. Kalau terus menerus dijejali calon siswa tidak bermutu lama-lama jeblok juga sekolahnya. Andi
