Mau ikutan nimbrung Pak manneke dan pak andi... Sekolah bermutu tidak terbentuk begitu saja, apalagi hanya dengan menyederhanakan persoalan bahwa sekolah favorit menjadi bermutu karena murid2nya memang sudah pilihan. Sekolah menjadi favorit karena proses yang panjang, hasil kerja keras dari guru-gurunya dan dalam sekian tahun baru kelihatan perubahannya. Bila kerja keras dan konsistensi para guru ini dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama, maka kualitas sekolah itu akan meningkat perlahan2, sehingga lama-lama mendapat julukan sekolah favorit.
Sebaliknya, sekolah yang jelek dihasilkan oleh guru2 yang malas, tidak mau kerja keras, lama lama kualitas sekolah semakin turun dan sepi peminat. Saat pendaftaran siswa baru, apa yang terjadi? Tentu saja semua siswa berbondong2 mendaftar ke sekolah favorit dan sebaliknya sekolah non favorit sepi peminat. Lalu bagaimana proses seleksinya? Siswa yang berprestasi baik (mohon diingat bahwa siswa dapat berprestasi baik karena rajin belajar) berhak mendapatkan ganjarannya, dia berhak melanjutkan ke pendidikan bermutu sesuai dengan kerja kerasnya, berhak juga masuk ke sekolah yang "favorit" tersebut. Kita tidak dapat menyederhanakan persoalan dengan menjadikan seleksi berdasarkan tempat tinggal belaka. Ini akan menghancurkan inti pendidikan itu sendiri (kerja keras = berhasil; malas = gagal). Kerja keras akan menjadi sia-sia hanya karena nasib anda tinggal di suatu lokasi tertentu sehingga harus sekolah di sekolah tertentu sehingga ujungnya nasib anda ditentukan oleh tempat tinggal anda. Betapa dangkalnya proses pendidikan seperti itu. Point saya adalah: anak tidak boleh dikorbankan. Di sekolah mereka diajarkan untuk bekerja keras dan ada reward untuk itu, bagi yang malas akan ada konsekuensinya. Sanggupkah kita mengatakan pada mereka bahwa nasib anda tidak ditentukan oleh kerja keras anda namun oleh tempat tinggal anda, dan mohon dimengerti kebijakan ini untuk mengurangi kemacetan lalu lintas? Kembali ke soal masuk jam 6.30 ini... Yang saya heran, kenapa uji coba ini dilakukan di tengah2 tahun ajaran? Dengan pemberitahuan mendadak (sekitar bulan november kalo gak salah). Mbok kalo mau mengganti kebijakan itu pas ganti tahun ajaran, kasih waktu lebih lama untuk penyesuaian. Akan jauh lebih mudah untuk menyesuaikan diri bagi anak maupun bagi guru dan sekolah. Anak dan orang tua akan punya banyak waktu untuk mempertimbangkan memilih sekolah (walaupun saya tetap menyarankan anak harus bebas memilih sekolah yang cocok dengan kemampuannya, bukan cocok dengan tempat tinggalnya). Heran juga sekolah2 kok pada diam aja dipaksa mengganti jadwal di tengah2 tahun ajaran. Dipikirnya tidak merepotkan banyak pihak kali ya kalo mengubah jadwal mendadak seperti ini. Tambah heran, kebijakan ini disampaikan oleh wagub DKI. Diknas ngapain aja kok mau wilayahnya diacak-acak oleh wagub? Ini bukan soal 30 menit atau macet-tidak macet, ini soal siswa sekolah, anak-anak kita generasi penerus bangsa, bukan untuk diuji coba atau dikorbankan demi mengurangi kemacetan? Emang macet cuma pagi doank, tiap sore juga macet, padahal anak sekolah udah pada pulang tuh. salam, andidj ----- Original Message ----- From: manneke budiman To: [email protected] Sent: Monday, December 22, 2008 2:48 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: "Rekor Dunia" Jam Masuk Sekolah Pak Andi, Saya sangat setuju dengan gagasan untuk memutus privilese sekolah "favorit" memilih murid-muridnya yang top-top doang. Memang betul bahwa salah satu faktor kenapa sekolah favorit tetap favorit dan jadi makin favorit adalah karena die enak aja pilih murid-murid yang "udah jadi", sementara beban mendidik murid-murid yang tertinggal naris sepenuhnya jatuh di pundak sekolah-sekolah non-favorit. Saya pikir, ini dulu yang perlu diatur sambil menyiapkan rayonisasi. Intinya barangkali adalah sekolah tak boleh menolak menerima murid yang tinggal di wilayah rayonnya sejauh daya tampung masih memadai. Yang mungkin perlu dipikirkan adalah bagaimana melakukan pengawasan agar daya tampung ini tak "direkayasa" alias dipenuhi dulu dengan murid-murid top lalu sisanya baru diberikan pada yang tertinggal. Dalam jangka panjang mungkin ini akan bisa membantu pemerataan penerimaan lulusan SMA di perguruan-perguruan tinggi terkemuka, sebagaimana Anda sampaikan di bawah, karena memang sampai saat ini itu masih jadi persoalan. Jika distribusi murid-murid top lebih merata di tiap sekolah, maka siswa-siswa yang diterima di perguruan tinggi mestinya distribusi asal SMA-nya juga lebih merata. Dalam banyak hal di postingan ini, saya sepakat dengan Anda. Thanks buat ide-idenya yang cemerlang. manneke
