Om Adyanto, itulah sedihnya melihat negeri sendiri, tadi pagi sampai sore saya menemani puluhan karyawan damri, terdiri dari supir, kondektur dan kenek, unjuk rasa didepan istana negara, kantor dep-hub, kantor bumn,dan kantor wapres tidak lain untuk mencari hak-hak kesejahteraannya, mereka sudah hampir sembilan tahun menuntut hal yang sama, dan menurut para karyawan itu, selama itu semua kesepakatan yang sudah dibuat didepan rapat dpr, didepan menteri bumn, menteri keuangan katanya sih tante sri mulyani sing ayoe itu semua terbang lenyap tak berbekas, itu contoh kecil saja bagaimana negeri ini dikelola secara sekenanya. nah, kalau nasib rakyatnya sendiri aja diperlakukan seperti itu, yang lain seperti korban kerusuhan duatujuh juli dikantor dpp pdi, lapindo, korban peristiwa mei, trisakti dan sebagainya, apa bisa sang pemimpin meskipun dengan sangat santun, meminta agar rakyatnya cinta pada tanah air ya enggak bisa dong om ! jadi untuk mengembalikan kebanggaan bangsa ini pada negerinya, jalan yang paling cepat adalah keteladanan sang pemimpin itu sendiri, misalnya hindarkanlah membuat kebohongan publik, hindarkanlah kesan tidak mau dikritik, merasa paling benar sendiri, apalagi langsung membalas kritik dengan kecaman meskipun santun, hehehehe. seorang pemimpin harus jadi bapak-nya bangsa, harus adil, tidak meng-anak emaskan para pendukungnya saja, wah, tambah panjang saya nulisnya, nanti saya dikatakan sok menggurui, tapi terus terang, saya bisa nulis seperti ini, karena saya benar-benar non-partisan, saya rasakan betul, bahagianya sebagai orang non partisan, salambambangsulistomo. 2009/6/15 Adyanto Aditomo <[email protected]>
> > > Bung Bambang Sulistomo, > > Hancurnya rasa patriotisme bangsa Indonesia, menurut saya akibat > keberhasilan kampanye Orde Baru yang menyatakan bahwa : Politik No, > Pembangunan Yes!!!!! > Masyarakat Indonesia dididik oleh Orde Baru untuk bersikap matrialistis. > Dengan demikian mereka tidak keberatan untuk menjadi Pengkhianat bagi > bangsanya, mulai dari Korupsi, KKN dan manipulasi lainnya yang bisa > menghancurkan bangsa ini. > Adanya isu bahwa Dino Patti Jalal, Jubir Kepresidenan SBY sebagai agen CIA, > cuma disambut dengan senyum oleh SBY dan para pemimpin Politik lainnya yang > ada di DPR. > Tidak ada upaya yang bersungguh - sungguh untuk membuktikan sebaliknya. > Ada kesan kuat para pemimpin politik kita malah balik bertanya: kalau > memang agen CIA, apa keberatan dari masyarakat Indonesia??? > > Situasi tersebutlah yang membuat banyak produk perundangan yang dibuat oleh > DPR dan disetujui oleh Presiden cenderung melanggar Pasal 33 UUD'45, > sehingga membuat masyarakat makin menderita. > > Ada solusi untuk mengatasi hal ini??? > > Salam, > > Adyanto Aditomo
