ah, ini sangat berlebihan bos, tanpa memerintahkan membuat tesis tentang negaranya sendiri, apa intelijen internasional tidak bisa membeli semua data tentang negeri ini ? siapa yang bisa menjamin data negeri ini tidak diperjual belikan, lha wong hukum dan keadilan menurut persepsi masyarakat, dan berita media , juga mudah diperjual belikan kok, hehehehe misalnya data geografis, data sumberdaya alam, dan data tentang kemampuan alat utama sistem persenjataan kita, makanya itu bos, kapal perang negeri lain bisa se-enaknya ngiter-ngiter diwilayah kita, atau kapal nelayan asing bisa se-enaknya nyari dan nyolong ikan diperairan kita, yang kelihatan ditangkep dan dipertontonkan dimedia, mungkin hanya sebagian kecil yang lolos dengan aman dan nyaman. kalau ada persyaratan untuk membuat tesis tentang negerinya sendiri, tentu ada juga alasannya, misalnya sang mahasiswa tentu akan lebih mudah meng-akses sumber data, sang mahasiswa akan lebih mengenal permasalahan negerinya sendiri, sebab sang alumni toh akan bekerja dinegerinya sendiri, jangan terlalu curiga deh pada bantuan pendidikan luar negeri, kalau ada alumni dari luar negeri yang dicurigai akan jadi agen luar negeri,
itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh negara manapun, kalau pada masa orde-lama, negara eropa timur atau cina banyak sekali memberikan beasiswa, apa juga mereka menghasilkan agen-agen dari negara tersebut, kalau pada masa orde baru, tentu negara-negara barat dan eropah barat juga lebih banyak memberikan beasiswa. yang penting , kalau ada kaderisasi agen, bagaimana aparat intelijen kita bisa mengetahui-nya, makanya itu jangan sampai aparat intelijen diajak atau diperintahkan untuk main politik, untuk membuat berbagai macam rekayasa dukung mendukung kekuasaan aja. sehingga bisa tampak sibuk enggak karu-karuan. salambambangsulistomo 2009/6/13 Agus Hamonangan <[email protected]> > > > > http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/06/12/15591783/Deplu.Minta.Waspadai.Intelijen.Pendidikan > > JAKARTA,KOMPAS.com-Dirjen Hubungan Asia Pasific dan Afrika Departemen Luar > Negeri, Hamzah Thayeb meminta agar dunia pendidikan mewaspadai adanya > intelijen pendidikan dari beberapa negara penyandang dana beasiswa bagi > warga Indonesia yang belajar di luar negeri. > > Hal itu menanggapi adanya pernyataan salah seorang peserta `de-briefing` di > kantor Deplu Jakara, Jumat (12/6), yang mengatakan banyak mahasiswa yang > mendapatkan beasiswa dari luar negeri harus membuat tesis yang isinya > tentang berbagai hal menyangkut Indonesia. > > "Saya dengar banyak mahasiswa di luar negeri yang diwajibkan oleh kampusnya > membuat tesis tentang Indonesia, ini kan bisa menjadi intelejen terdidik > bagi negara penyandang dana," kata satu peserta. > > Pernyataan itu dibenarkan oleh Hamzah yang mengatakan, dari beberapa kali > pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Australia yang dia lakukan, sering > disampaikan bahwa mereka diwajibkan membuat tesis tentang Indonesia. > > Bila para mahasiswa yang pendidikannya dibiayai negara bersangkutan membuat > tesis tentang negara tempat dia belajar akan ditolak, sehingga hal tersebut > bisa menghambat studinya. "Kondisi ini memang sulit, tapi harus dipikirkan > juga tentang masa depan Indonesia ke depan," kata dia. > > Menurut dia, bila seluruh informasi tentang Indonesia telah didapat oleh > luar negeri, dikhawatirkan akan mempengaruhi perkembangan Indonesia ke > depan. "Luar negeri memang sudah sangat canggih dalam menggali informasi, > ini yang seharusnya kita tiru," kata dia. > > ONO > Sumber : Ant > > > [Non-text portions of this message have been removed]
