Bung Bambang Sulistomo, Hancurnya rasa patriotisme bangsa Indonesia, menurut saya akibat keberhasilan kampanye Orde Baru yang menyatakan bahwa : Politik No, Pembangunan Yes!!!!! Masyarakat Indonesia dididik oleh Orde Baru untuk bersikap matrialistis. Dengan demikian mereka tidak keberatan untuk menjadi Pengkhianat bagi bangsanya, mulai dari Korupsi, KKN dan manipulasi lainnya yang bisa menghancurkan bangsa ini. Adanya isu bahwa Dino Patti Jalal, Jubir Kepresidenan SBY sebagai agen CIA, cuma disambut dengan senyum oleh SBY dan para pemimpin Politik lainnya yang ada di DPR. Tidak ada upaya yang bersungguh - sungguh untuk membuktikan sebaliknya. Ada kesan kuat para pemimpin politik kita malah balik bertanya: kalau memang agen CIA, apa keberatan dari masyarakat Indonesia??? Situasi tersebutlah yang membuat banyak produk perundangan yang dibuat oleh DPR dan disetujui oleh Presiden cenderung melanggar Pasal 33 UUD'45, sehingga membuat masyarakat makin menderita. Ada solusi untuk mengatasi hal ini??? Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Ming, 14/6/09, Bambang Sulistomo <[email protected]> menulis: Dari: Bambang Sulistomo <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Deplu Minta Waspadai Intelijen Pendidikan Kepada: [email protected] Tanggal: Minggu, 14 Juni, 2009, 2:00 PM om Priatna, saya sedih sekali kalau gampang-gampang aja kita mencurigai negara asing kalau ada yang ditarik jadi agen negara asing, itu adalah praktek yang dilakukan oleh semua negara. tapi semakin kuat rasa patriotisme suatu bangsa, maka pastinya akan agak sukar menarik warga sini jadi agen asing, kuatnya patriotisme itu tergantung pada banyak hal, terutama adalah tingkat keadilan dan perlindungan hukum yang sama pada setiap warganegara, juga tingkat kesejahteraan dan kebebasan mengutarakan pendapat, sehingga ada semacam rasa ikut memiliki bangsa ini, cobalah kita tanyakan pada beberapa mantan aktifis dari gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari negeri ini, pasti jawabannya ya itu bos !, bagaimana bisa menumbuhkan dan menghayati rasa memiliki negeri ini, kalau hukum dan keadilan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang dekat kekuasaan. jangan kita pura-pura tidak tahu, jangan kita pura-pura buta melihat kesengsaraan masyarakat yang digusur, jangan kita pura-pura pikun melihat biaya kesehatan dan berobat bisa sangat mahal, jangan kita pura-pura sakit perut melihat banyak yang bunuh diri karena kemiskinan, jangan kita pura-pura buang muka melihat anak tetangga kita tidak bisa meneruskan sekolah, jangan kita pura-pura sedih melihat alut-sista kita tak berdaya dan karatan, jangan kita pura-pura bisu melihat korban lumpur lapindo makin sengsara, jangan kita pura-pura pusing melihat anggota dpr lebih rajin studi banding keluar negeri, jangan kita pura-pura tidak ngerti, kalau mau naik pangkat harus kasih upeti atasan, jangan kita pura-pura pingsan, melihat rakyat berantem rebutan zakat atau bLt, jangan kita pura-pura cemberut jika ada media yang berat sebelah pada satu capres, jangan kita pura-pura senyum, jika ada puluhan juta rakyat yang enggak diundang nyontreng, nah itu hanya sebagian masalah yang bisa mempengaruhi patriotisme rakyat, selalu menyalahkan negara asing , yang memang selalu begitu, tanpa mau melihat diri sendiri, tanpa mau memperbaiki negeri sendiri, tanpa mau sadar bahwa kemampuan manusia sebagai pemimpin itu ada batasnya, maka jangan heran, sejak zaman sebelum merdeka juga banyak yang jadi agen penjajah, sesudah merdeka mungkin juga banyak yang jadi agen asing negara blok timur, dan sekarang ini , mungkin jadi agen negara barat. salambambangsulisto mo.
