Butul Rekan Agus, Betul, bidang bidang keilmuan tertentu seperti pertanian dan ilmu sosial rentan. Ini tergantung bargaining positition dengan Pembimbing, bila kita kuat kita bisa mendesak tema penelitian yang diinginkan sendiri. Mahasiswa Jepang dan Korsel dapat "memaksakan" topik penelitiannya tentang negeri ybs (spy economic), bukan negerinya. Pengalaman saya saya coba memaksakan keinginan saya, tapi kita deal fifty fifty, saya meneliti tentang organische Staatstheorie di Jerman dan teori badan hukum, dan mereka minta peran Supomo dalam UUD. Abad 19 orang Jepang dan Thailand sudah ke Eropa dan Amerika sekolah, sekaligus jadi economic spy. Tapi orang Indonesia yang keluar kesetiaannya pada tanah airnya kurang, kecuali awal abad 20 demi kemerdekaan. Tapi sesudah merdeka kebanyakan kita tukang mereka. Bagi kita mereka netral saja sikap kita terhadapnya sudah untung, apalagi bisa pro. Beasiswa adalah tujuan ekonomi jangka panjang, yang berguna terhadap perluasan pasar mereka. Yang penting saling membawa manfaat, tapi kalau ada konflik kepentingan, kesetiaan harus ditujukan kepada negara dan bangsa kita. Walaupun perang sudah tidak ada, patriot dan pejuang itu harus ada.
Salam Rizal Sofyan Gueci ________________________________ From: Agus Hamonangan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, June 12, 2009 3:37:21 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Deplu Minta Waspadai Intelijen Pendidikan http://internasiona l.kompas. com/read/ xml/2009/ 06/12/15591783/ Deplu.Minta. Waspadai. Intelijen. Pendidikan JAKARTA,KOMPAS. com-Dirjen Hubungan Asia Pasific dan Afrika Departemen Luar Negeri, Hamzah Thayeb meminta agar dunia pendidikan mewaspadai adanya intelijen pendidikan dari beberapa negara penyandang dana beasiswa bagi warga Indonesia yang belajar di luar negeri. Hal itu menanggapi adanya pernyataan salah seorang peserta `de-briefing` di kantor Deplu Jakara, Jumat (12/6), yang mengatakan banyak mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari luar negeri harus membuat tesis yang isinya tentang berbagai hal menyangkut Indonesia. "Saya dengar banyak mahasiswa di luar negeri yang diwajibkan oleh kampusnya membuat tesis tentang Indonesia, ini kan bisa menjadi intelejen terdidik bagi negara penyandang dana," kata satu peserta. Pernyataan itu dibenarkan oleh Hamzah yang mengatakan, dari beberapa kali pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Australia yang dia lakukan, sering disampaikan bahwa mereka diwajibkan membuat tesis tentang Indonesia. Bila para mahasiswa yang pendidikannya dibiayai negara bersangkutan membuat tesis tentang negara tempat dia belajar akan ditolak, sehingga hal tersebut bisa menghambat studinya. "Kondisi ini memang sulit, tapi harus dipikirkan juga tentang masa depan Indonesia ke depan," kata dia. Menurut dia, bila seluruh informasi tentang Indonesia telah didapat oleh luar negeri, dikhawatirkan akan mempengaruhi perkembangan Indonesia ke depan. "Luar negeri memang sudah sangat canggih dalam menggali informasi, ini yang seharusnya kita tiru," kata dia. ONO Sumber : Ant [Non-text portions of this message have been removed]
