om Priatna,
saya sedih sekali kalau gampang-gampang aja kita mencurigai negara asing
kalau ada yang ditarik jadi agen negara asing,
itu adalah praktek yang dilakukan oleh semua negara.
tapi semakin  kuat rasa patriotisme suatu bangsa,
maka pastinya akan agak sukar menarik warga sini jadi agen asing,
kuatnya patriotisme itu tergantung pada banyak hal,
terutama adalah tingkat keadilan dan perlindungan hukum yang sama
pada setiap warganegara,
juga tingkat kesejahteraan dan kebebasan mengutarakan pendapat,
sehingga ada semacam rasa ikut memiliki bangsa ini,
cobalah kita tanyakan pada beberapa mantan aktifis
dari gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari negeri ini,
pasti jawabannya ya itu bos !,
bagaimana bisa menumbuhkan dan menghayati rasa memiliki negeri ini,
kalau hukum dan keadilan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang dekat
kekuasaan.
jangan kita pura-pura tidak tahu,
jangan kita pura-pura buta melihat kesengsaraan masyarakat yang digusur,
jangan kita pura-pura pikun melihat biaya kesehatan dan berobat bisa sangat
mahal,
jangan kita pura-pura sakit perut melihat banyak yang bunuh diri karena
kemiskinan,
jangan kita pura-pura buang muka melihat anak tetangga kita tidak bisa
meneruskan sekolah,
jangan kita pura-pura sedih melihat alut-sista kita tak berdaya dan karatan,

jangan kita pura-pura bisu melihat korban lumpur lapindo makin sengsara,
jangan kita pura-pura pusing melihat anggota dpr lebih rajin studi banding
keluar negeri,
jangan kita pura-pura tidak ngerti, kalau mau naik pangkat harus kasih upeti
atasan,
jangan kita pura-pura pingsan, melihat rakyat berantem rebutan zakat atau
bLt,
jangan kita pura-pura cemberut jika ada media yang berat sebelah pada satu
capres,
jangan kita pura-pura senyum, jika ada puluhan juta rakyat yang enggak
diundang nyontreng,
nah itu hanya sebagian masalah yang bisa  mempengaruhi patriotisme rakyat,
selalu menyalahkan negara asing , yang memang selalu begitu,
tanpa mau melihat diri sendiri,
tanpa mau memperbaiki negeri sendiri,
tanpa mau sadar bahwa kemampuan manusia sebagai pemimpin itu ada batasnya,
maka jangan heran,
sejak zaman sebelum merdeka juga banyak yang jadi agen penjajah,
sesudah merdeka mungkin juga banyak yang jadi agen asing negara blok timur,
dan sekarang ini , mungkin jadi agen negara barat.
salambambangsulistomo.



2009/6/14 Priatna Dimas <[email protected]>

>
>
> Saya sering membaca buku tentang organisasi intelijen dan kegiatannya,
> mereka dalam merekrut seorang calon mata-mata sering memanfaatkan program
> belajar dengan iming-iming beasiswa dan tentunya yang diberikan  kepada
> mahasiswa yang berprestasi. ketika mereka para mahasiswa tersebut sudah
>  belajar di negara tujuan, para agen intelijen mulai melakukan aksinya
> dengan mendekati mahasiswa tersebut dengan iming-iming berbagai macam
>  fasilitas. setelah mahasiswa  menempuh study dan akan menulis disertasinya,
> mereka diarahkan untuk membuat penelitian di negara asal mahasiswa
>  tersebut. Kalau deplu memberi peringataan sekarang, sebenarnya sudah
> terlambat karena kalau tidak salah saya juga pernah dengar dari teman saya
> bahwa setiap mahasiswa yang menulis disertasinya harus melakukan peneltian
> di negaranya sendiri dan ini dilakukan oleh PT di Austarlia. Kita sendiri
> sudah tahu bagaimana Australia memandang negara kita. Kalau kita mau cermati
> banyak mahasiswa
> lulusan dari luar negeri yang sudah menjadi antek atau mendukung kegiatan
> pencarian informasi tentang situasi dan politik negara kita. Saya hanya
> mengingatkan hati-hati dengan intervensi asing melalui politik, ekonomi,
> sosial, budaya dengan bantuan orang-orang kita yang ingin menjual negara ini
> demi satu dollar dengan menjadi agen mata-mata.  Wassalm Priatna

Kirim email ke