Responding to Yulian Firdaus H mail at 05:29 PM 11/17/98 :
@>> From: Syafrudin [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
@>> Sent: Tuesday, November 17, 1998 5:02 PM
@>>
@>> Ini diskusi yang menarik, sayangnya nggak pernah tuntas dibicarakan di
@>> id-linux@ meski sudah beberapa kali disinggung. ada milis yang lebih cocok
@>> untuk ini nggak ya ? nggak enak kalau newbie yang sedang nyari informasi
@>> install gagal kok ketemu 'topik berat' seperti ini :-)
@>
@>Yup, sekali-kali diskusinya jangan hal teknis aja ...

Bukankah disini kita bicara faktor "psikologis" ?
Yang notabene memberikan tambahan ataupun masukan motivasi bagi para
'newbie' (saya dari dulu paling nggak sreg pake kata ini... apa sih
standarnyanya newbie?) untuk lebih mempelajari Linux?
Well, paling tidak kita semua kalau berdiskusi dengan orang lain mempunyai
data tambahan selain masalah teknis.

@>> menurut saya faktor 'mudah mendapatkan' dan 'mudah digunakan' tersebut
@>> perlu kita kaji lagi.
@>
@>Produk Microsoft juga mudah didapatkan ... mudah digunakan karena sudah
@>lebih duluan orang banyak make

Mungkin kita harus melihat adanya faktor 'piracy' dan 'illegal
registration' disini.
Ini adalah kondisi real di Indonesia dimana posisi produk2 komersil masih
sejajar dengan produk2 GPL.
Saya melihat ini secara umum sebab mungkin banyak perusahaan Indonesia yang
menggunakan produk komersial asli dan registrasi tetapi para individu baik
pemakai ataupun admin tetap menggunakan produk tsb secara illegal ataupun
bajakan sehingga tercipta sebuah paradigma "Untuk apa sih pakai GPL? Saya
di kantor pakai produk legal dan untuk mempelajarinya saya install bajakan
di komputer saya toh GPL atau tidak kan tidak ada bedanya"

@>> kedua, apakah benar semua Unix (secara umum) itu 'tidak mudah didapatkan'
@>> dan 'tidak mudah digunakan' ?
@>
@>Yang jelas secara umum pemakai Unix berkembang karena komunitasnya, tidak
@>seperti Microsoft berkembang karena promosi dan iklan

Kembali bicara komunitas (sesuai dengan bahan tulisan saya).
Tampaknya komunitas Unix dan Linux di Indonesia (bahkan mungkin di dunia)
masih terlihat sebagai sebuah eksklusivitas karena dibutuhkan pengertian
*lebih* mengenai komputer. Hal ini membuat produk2 yang berkembang karena
promosi dan iklan mendapatkan peluang untuk mendapatkan pasar di kalangan
awam yang notabene berorientasi pada konsumerisme.
Tentunya disini peran komunitas *nix sangat diperlukan untuk membawa *nix
ini lebih 'down to earth'. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa hal ini sulit
dicapai karena faktor 'eksklusif' tsb.
Sekarang tantangan bagi komunitas *nix : apakah mereka mau membagi
eksklusivitas tersebut dengan kalangan awam? atau justru kalangan awam
memang tidak mau tahu lebih dari sekedar promosi dan iklan?

@>> kekurangan Unix kan dalam pandangan kebanyakan orang adalah susah
@>> dipelajari, lebih mudah Win yang tinggal click. Untuk ini, Pak Made
@>> Wiryana sudah membahas di diskusi sebelumnya bahwa ini lebih menjurus ke
@>> mitos, bukan ilmiah.
@>Ini kecenderungan pemakai komputer karena dibuai oleh GUI-nya Windows,
@>dulu komputer itu sesuatu yang harus dipelajari, nggak sembarangan orang
@>yang make, juga Mac kita nggak sembarangan gonta-ganti device, pokoknya
@>user tinggal click.

Betul, kenyataan membuktikan bagi para pengguna awam, OS yang berbasis GUI
pun tetap sulit digunakan. Saya mengambil contoh kakek saya sendiri dimana
untuk dia DOS dan WS-nya jauh lebih 'user-friendly' dibandingkan Win dan MS
Word-nya. Untuk dia 'there is no such logical thing why he must "click" an
icon to run a program' ... dia lebih prefer 'type something' to run a
program... apakah berarti dia salah? back to the forum. 

@>> Jadi pepatah _kasar_ bahwa 'dumb user' dan 'dumb sysadmin' cuma layak
@>> dapat NT karena Unix itu cuma buat 'smart user' dan 'smart sysadmin' ada
@>> benarnya. atau kalau saya lihat di signature salah satu orang RedHat, Unix
@>> itu user friendly, cuma dia milih - milih saja dalam mengambil friend :-)
@>
@>Sekarang user biasa pun sudah mulai ngotak-ngatik lebih dalam OS yang dia
@>pasang, lama-lama dia tahu banyak bolongnya, ditambah informasi mengenai
@>Linux khususnya makin besar

Walaupun *tidak* semua user seperti itu. Ambil contoh kasar dimana seorang
sekretaris yang menelpon tech. support karena 'screen saver' nya jalan...
ini kenyataan yang bisa membuat kita tersenyum tetapi sekaligus juga 'miris'.
Dan jangan salah juga mengenai tingkatan 'dumb' dan 'smart' tersebut,
karena saya ambil contoh sebuah kasus kecil dimana lulusan D3 sebuah
jurusan teknik komputer di Perguruan Tinggi Negeri mendapatkan nilai 'A'
dengan skripsinya yaitu 'Menghubungkan komputer berbasis windows 95 dengan
server berbasis Netware'. Kasus ini membuat saya berpikir sebenarnya
standard apa sih yang berlaku dalam dunia IT?

@>> menurut saya mereka cuma perlu mendapat pengertian aspek - aspek bisnis
@>> dalam IT. terbukti dari perusahaan Multi Nasional misalnya, yang
@>> kebijakannya dari luar, mereka OS-nya beragam sesuai dengan kebutuhan,
@>> tidak seragam MS semua, tidak juga seragam Unix semua atau terminal semua.

Sesuai yang saya pernah bilang "the right tools for the right job",
menggunakan Linux *hanya* untuk mengetik ibarat memakai kampak untuk
memotong benang... bisa dilakukan tetapi terlalu berlebihan.

@>> kalau menurut saya kita hidup itu dengan kompromi, atau pakai istilah yang
@>> umum di reformasi sekarang, menghindari otoriter ataupun anarki :-) jadi
@>> kalau kerja di lingkunga MS semua atau campur aduk, ya nggak perlu kita
@>> langsung usul ganti semua, atau sebaliknya kita meninggalkan perjuangan
@>> untuk me-Linux-kan Indonesia :-) untuk yang pas pakai Linux, kenapa nggak
@>> usul diganti, kalau yang sudah optimal pakai AS/400 misalnya, kenapa tidak
@>> dibiarkan ?
@>
@>Ini masalah bisnis ... promosi dan portfolio sudah dipegang produk terkenal
@>seperti IBM, contoh jaringan Siskohat yang pake AS/400 dan  NT di seluruh
@>Indonesia ... apa Komunitas Linux mau mengganti sistemnya?
@>Pemerintah biasanya hanya berbisnis dengan yang punya NPWP

Berarti memang perlu sebuah lembaga *formal* untuk komunitas Linux? Disini
saya menaruh harapan besar terhadap KPLI-KPLI yang mudah-mudahan dapat
berkembang kearah sana.
Atau ada yang berminat berinvestasi di Caldera Indonesia?

Diskusi terus berlanjut....

Regards,
B. 'Avatar' Avianto
[EMAIL PROTECTED]
http://www.avianto.com
------------------------------------------------------------
Got Linux? 
------------------------------------------------------------


----------------------------------------------------------------------
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] 
Archive: http://www.vlsm.org/linux-archive/
Netiket autoresponder: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke