Satu topik lagi yang jadi arena belajar ngomong bagi politisi Indonesia.
Segala macam tesis dan anti tesis keluar untuk menunjukkan yang satu lebih
pintar dari lainnya. Tapi persoalannya sendiri, dan para pelakunya tenang
saja tak terusik, salah satunya dengan alasan menunggu proses hukum, yang
berdasarkan pengalaman sebelumnya tidak pernah tuntas.
Padahal kalau ada iktikad menyelesaikan, atau istilah mas Amien : punya
sense of crises, cara yang perlu ditempuh sangat mudah.
Pejabat yang berkuasa di Depkeu, BPPN dan BI, hampir senada bahwa kerjasama
BB dengan EGP tidak benar, dengan segala argumentasinya.
Ya batalkan saja. Uangnya dikembalikan ketempat semula. Baru pelakunya
diusut secara hukum.
Dengan keputusan pengembalian uang itu, maka akan ketahuan, siapa sebenarnya
yang menerima atau menikmati uang itu. Nggak usah repot mencari akan muncul
sendiri, karena mereka (para maling itu) akan bertengkar sendiri.
Yang ideal BPPN yang memerintahkan pembatalan perjanjian dan pengembalian
uang ini. Kalau BB menolak, ancam dengan likuidasi.
Apa benar Pemerintah takut sama Rudi Ramli? Apa benar Pemerintah takut sama
Setya Novanto? Atau Djoko Tjandra? Jangan jangan mereka hanya kucing kurap
yang disuruh bossnya dengan sedikit upah. Jadi, apakah Pemerintah takut sama
boss yang menyuruh itu? Siapa sih dia? Jangan jangan dirinya sendiri.
SKANDAL BANK BALI hanya setetes noktah dilautan dunia korupsi Indonesia.
Kalau nggak berani menindak HMS itu masih masuk akal. Kalau nggak berani
menindak Andi Galib, bolehlah. Tetapi kalau nggak berani menindak Setya
Novanto? Nggak masuk akal kan? Kecuali kalau takut ditelanjangi oleh Setya
Novanto cs.
Yap
Sejak semula tahu : Golkar bauuuu
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!