Kutipan berita Republika on line tentang skandal BB hari ini memberi info
menarik:
Armin atau Hartojo (Rusli mengaku lupa) mengambil sebuah naskah dari sakunya
dan diserahkan kepada Panda Nababan, untuk difoto-copy. Itulah naskah yang
kelak dikenal sebagai ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli''.
Meski secara substansial Rudy tak menolak, bahkan mengatakan, sekitar 90-95
persen benar.
Rudy secara terang-terangan mengatakan, bahwa dirinya merasa dimanfaatkan
oleh para petinggi PDI-P.
Rudy mengatakan sama sekali tidak ada kesan Djoko Tjandra -- direktur PT
EGP, mitra bisnisnya dalam transaksi cessie -- memiliki hubungan khusus
dengan Presiden Habibie.
Rudy mengaku merasa tidak berdaya menghadapi Djoko Tjandra karena ada
backing yang kuat, yaitu Tanri Abeng dan Baramuli.
+ Kalau informasi diatas itu benar, berarti Baramuli dan Tanri Abeng adalah
petinggi PDI-P yang sengaja memanfaatkan Rudy Ramli, karena artikel ini
akhirnya ditutup dengan :
Nah, tampaknya kian jelas, siapa saja yang harus ''digantung'' untuk
menyelesaikan skandal yang sangat memalukan ini.
Untuk jelasnya, baca sendiri deh....(asa teu nyambung)
Republika on line 27 September 1999:
Pengakuan Lengkap para Aktor Bank Bali
Meski layar panggung sudah setengah digulung -- seiring dengan selesainya
tugas Pansus -- tapi skandal Bank Bali sebenarnya belum akan berakhir.
Bahkan, mulai pekan ini, pentas drama yang melibatkan banyak tokoh terkenal
itu akan memulai episode baru, yang diyakini bakal semakin panas.
Semua itu akan diawali dengan pemanggilan sejumlah aktor utama Bank Bali --
yakni Rudy Ramli, Rusli Suryadi, dan Firman Soetjahja, ketiganya mantan
direksi Bank Bali, serta dua orang direksi PT Era Giat Prima (EGP) Setya
Novanto dan Djoko Tjandra -- oleh Kejaksaan Agung. Diharapkan, di sana
mereka mau berbicara secara terbuka, apa adanya, dan sesuai fakta.
Kalau itu memang terjadi, bukan tak mungkin, akan terungkap, apa dan
bagaimana peran para petinggi PDI-P. Manuver politik pengurus-pengurus teras
partai berlambang ''Banteng Gendut'' tersebut sebenarnya sudah diungkap
sedikit oleh Rudy Ramli dan Rusli Suryadi.
Dalam pemeriksaan di hadapan anggota Pansus, Rudy secara terang-terangan
mengatakan, bahwa dirinya merasa dimanfaatkan oleh para petinggi PDI-P. Kala
itu, cerita Rudy, di tengah kegundahannya, Rusli mengatakan kepada dirinya,
bahwa ia mempunyai banyak ''teman merah'' (maksudnya para pengurus PDI-P),
di antaranya adalah Theo Toemion.
Bermula dari rekomendasi Rusli inilah kemudian Rudy ''dijebak'' oleh
orang-orang ''Banteng Gendut''. Skenario ''penjebakan'' itu sendiri --
berdasarkan pengakuan Rusli di hadapan anggota Pansus -- terjadi ketika Rudy
menerima saran Rusli agar dirinya menemui Theo, untuk meminta saran dan
pendapat dalam mengatasi kemelut Bank Bali.
Namun, ternyata pertemuan dengan seorang Theo tadi diperluas menjadi
pertemuan dengan tokoh-tokoh PDI-P pada 12 Agustus 1999, bertempat di kantor
Dimyati Hartono. Hadir dalam pertemuan itu, Kwik Kian Gie, Armin Aryoso,
Theo Toemion, dan Panda Nababan. Saat itu, cerita Rusli, Armin atau Hartojo
(Rusli mengaku lupa) mengambil sebuah naskah dari sakunya dan diserahkan
kepada Panda Nababan, untuk difoto-copy. Itulah naskah yang kelak dikenal
sebagai ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli''.
Meski secara substansial Rudy tak menolak, bahkan mengatakan, sekitar 90-95
persen benar, tapi ia tak pernah membubuhkan tanda-tangan atau mencantumkan
namanya sendiri dalam dokumen tersebut -- artinya, naskah itu memang bukan
dia yang membuat. Bahkan, judul dokumen itu sempat ditip-ex olehnya. Rudy
sendiri mengaku tak mempunyai kebiasaan membuat catatan harian.
Sampai di sini, Rudy agaknya belum sadar, kalau dirinya sedang dilibatkan
dalam sebuah permainan politik tingkat tinggi oleh para pengurus PDI-P tadi.
Ia baru ngeh, setelah ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli'' tadi
dipresentasikan oleh Kwik Kian Gie dalam sebuah konferensi pers yang sengaja
digelar di markas besar partai itu di Lenteng Agung.
''Waktu itu Rudy sangat kaget, dan kecewa sekali. Ia sampai membatalkan
secara sepihak surat kuasa sebagai pengacara atau penasihat hukum yang telah
diberikannya kepada Armin Arjoso,'' cerita Rusli, seperti diungkap dalam
Laporan Pansus Pernyelidikan Kasus Bank Bali.
Sampai di sini, tampaknya, persoalan harus sedikit diperluas. Bukan cuma
mengusut indikasi keterlibatan dan permainan politik uang yang dilakukan
sejumlah menteri dan tokoh Golkar saja, tapi juga perlu mengungkapkan semua
manuver politik para petinggi PDI-P, yang secara etika dapat dianggap berada
di luar kadar kepatutan.
Pengusutan itu juga menjadi semakin penting, karena Rudy mengatakan sama
sekali tidak ada kesan Djoko Tjandra -- direktur PT EGP, mitra bisnisnya
dalam transaksi cessie -- memiliki hubungan khusus dengan Presiden Habibie,
orang yang selama ini diopinikan oleh banyak media massa sebagai ''dalang
yang sesungguhnya'' dalam skandal ini.
Tapi, ''Rudy mengaku merasa tidak berdaya menghadapi Djoko Tjandra karena
ada backing yang kuat, yaitu Tanri Abeng dan Baramuli,'' tulis laporan
pengakuan Rudy Ramli di hadapan anggota Pansus.
Nah, tampaknya kian jelas, siapa saja yang harus ''digantung'' untuk
menyelesaikan skandal yang sangat memalukan ini.
25399.htm - top
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!