hmmmm...Republika ?

At 11:11 AM 9/29/99 +0800, Sambodo, Prijo (KPC) wrote:
>Lho memangnya pada belom tau ya kalau Tanri Abeng, Baramuli,  itu khan
>orangnya PDI-P makanya .....!
>
>Hidup Wartawan REPUBLIKA yang cerdas .....!     Hidup koran REPUBLIKA......!
>hidup Baramuli .......!
>
>
>Paijo GombalTeles (yang bingung sama berita republika ini, mau nuduh kok
>mbingungi .....!  bingun aku binguuun...!)
>
>> -----Original Message-----
>> From:        Yap C. Young [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Subject:     [Kuli Tinta] Skandal Bank Bali
>> 
>> Kutipan berita Republika on line tentang skandal BB hari ini memberi info 
>> menarik:
>> 
>> Armin atau Hartojo (Rusli mengaku lupa) mengambil sebuah naskah dari
>> sakunya 
>> dan diserahkan kepada Panda Nababan, untuk difoto-copy. Itulah naskah yang
>> 
>> kelak dikenal sebagai ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli''.
>> Meski secara substansial Rudy tak menolak, bahkan mengatakan, sekitar
>> 90-95 
>> persen benar.
>> 
>> Rudy secara terang-terangan mengatakan, bahwa dirinya merasa dimanfaatkan 
>> oleh para petinggi PDI-P.
>> 
>> Rudy mengatakan  sama sekali tidak ada kesan Djoko Tjandra -- direktur PT 
>> EGP, mitra bisnisnya dalam transaksi cessie -- memiliki hubungan khusus 
>> dengan Presiden Habibie.
>> 
>> Rudy mengaku merasa tidak berdaya menghadapi Djoko Tjandra karena ada 
>> backing yang kuat, yaitu Tanri Abeng dan Baramuli.
>> 
>> + Kalau informasi diatas itu benar, berarti Baramuli dan Tanri Abeng
>> adalah 
>> petinggi PDI-P yang sengaja memanfaatkan Rudy Ramli, karena artikel ini 
>> akhirnya ditutup dengan :
>> 
>> Nah, tampaknya kian jelas, siapa saja yang harus ''digantung'' untuk 
>> menyelesaikan skandal yang sangat memalukan ini.
>> 
>> Untuk jelasnya, baca sendiri deh....(asa teu nyambung)
>> 
>> Republika on line 27 September 1999:
>> Pengakuan Lengkap para Aktor Bank Bali
>> Meski layar panggung sudah setengah digulung -- seiring dengan selesainya 
>> tugas Pansus -- tapi skandal Bank Bali sebenarnya belum akan berakhir. 
>> Bahkan, mulai pekan ini, pentas drama yang melibatkan banyak tokoh
>> terkenal 
>> itu akan memulai episode baru, yang diyakini bakal semakin panas.
>> Semua itu akan diawali dengan pemanggilan sejumlah aktor utama Bank Bali
>> -- 
>> yakni Rudy Ramli, Rusli Suryadi, dan Firman Soetjahja, ketiganya mantan 
>> direksi Bank Bali, serta dua orang direksi PT Era Giat Prima (EGP) Setya 
>> Novanto dan Djoko Tjandra -- oleh Kejaksaan Agung. Diharapkan, di sana 
>> mereka mau berbicara secara terbuka, apa adanya, dan sesuai fakta.
>> Kalau itu memang terjadi, bukan tak mungkin, akan terungkap, apa dan 
>> bagaimana peran para petinggi PDI-P. Manuver politik pengurus-pengurus
>> teras 
>> partai berlambang ''Banteng Gendut'' tersebut sebenarnya sudah diungkap 
>> sedikit oleh Rudy Ramli dan Rusli Suryadi.
>> Dalam pemeriksaan di hadapan anggota Pansus, Rudy secara terang-terangan 
>> mengatakan, bahwa dirinya merasa dimanfaatkan oleh para petinggi PDI-P.
>> Kala 
>> itu, cerita Rudy, di tengah kegundahannya, Rusli mengatakan kepada
>> dirinya, 
>> bahwa ia mempunyai banyak ''teman merah'' (maksudnya para pengurus PDI-P),
>> 
>> di antaranya adalah Theo Toemion.
>> Bermula dari rekomendasi Rusli inilah kemudian Rudy ''dijebak'' oleh 
>> orang-orang ''Banteng Gendut''. Skenario ''penjebakan'' itu sendiri -- 
>> berdasarkan pengakuan Rusli di hadapan anggota Pansus -- terjadi ketika
>> Rudy 
>> menerima saran Rusli agar dirinya menemui Theo, untuk meminta saran dan 
>> pendapat dalam mengatasi kemelut Bank Bali.
>> Namun, ternyata pertemuan dengan seorang Theo tadi diperluas menjadi 
>> pertemuan dengan tokoh-tokoh PDI-P pada 12 Agustus 1999, bertempat di
>> kantor 
>> Dimyati Hartono. Hadir dalam pertemuan itu, Kwik Kian Gie, Armin Aryoso, 
>> Theo Toemion, dan Panda Nababan. Saat itu, cerita Rusli, Armin atau
>> Hartojo 
>> (Rusli mengaku lupa) mengambil sebuah naskah dari sakunya dan diserahkan 
>> kepada Panda Nababan, untuk difoto-copy. Itulah naskah yang kelak dikenal 
>> sebagai ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli''.
>> Meski secara substansial Rudy tak menolak, bahkan mengatakan, sekitar
>> 90-95 
>> persen benar, tapi ia tak pernah membubuhkan tanda-tangan atau
>> mencantumkan 
>> namanya sendiri dalam dokumen tersebut -- artinya, naskah itu memang bukan
>> 
>> dia yang membuat. Bahkan, judul dokumen itu sempat ditip-ex olehnya. Rudy 
>> sendiri mengaku tak mempunyai kebiasaan membuat catatan harian.
>> Sampai di sini, Rudy agaknya belum sadar, kalau dirinya sedang dilibatkan 
>> dalam sebuah permainan politik tingkat tinggi oleh para pengurus PDI-P
>> tadi. 
>> Ia baru ngeh, setelah ''Catatan Penting/Harian Rudy Ramli'' tadi 
>> dipresentasikan oleh Kwik Kian Gie dalam sebuah konferensi pers yang
>> sengaja 
>> digelar di markas besar partai itu di Lenteng Agung.
>> ''Waktu itu Rudy sangat kaget, dan kecewa sekali. Ia sampai membatalkan 
>> secara sepihak surat kuasa sebagai pengacara atau penasihat hukum yang
>> telah 
>> diberikannya kepada Armin Arjoso,'' cerita Rusli, seperti diungkap dalam 
>> Laporan Pansus Pernyelidikan Kasus Bank Bali.
>> Sampai di sini, tampaknya, persoalan harus sedikit diperluas. Bukan cuma 
>> mengusut indikasi keterlibatan dan permainan politik uang yang dilakukan 
>> sejumlah menteri dan tokoh Golkar saja, tapi juga perlu mengungkapkan
>> semua 
>> manuver politik para petinggi PDI-P, yang secara etika dapat dianggap
>> berada 
>> di luar kadar kepatutan.
>> Pengusutan itu juga menjadi semakin penting, karena Rudy mengatakan sama 
>> sekali tidak ada kesan Djoko Tjandra -- direktur PT EGP, mitra bisnisnya 
>> dalam transaksi cessie -- memiliki hubungan khusus dengan Presiden
>> Habibie, 
>> orang yang selama ini diopinikan oleh banyak media massa sebagai ''dalang 
>> yang sesungguhnya'' dalam skandal ini.
>> Tapi, ''Rudy mengaku merasa tidak berdaya menghadapi Djoko Tjandra karena 
>> ada backing yang kuat, yaitu Tanri Abeng dan Baramuli,'' tulis laporan 
>> pengakuan Rudy Ramli di hadapan anggota Pansus.
>> Nah, tampaknya kian jelas, siapa saja yang harus ''digantung'' untuk 
>> menyelesaikan skandal yang sangat memalukan ini.
>> 
 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke