Ketika saya menulis bahwa manajemen cenderung status quo dan kepemimpinan
lebih menjanjikan perobahan, ada nada protes, diantaranya karena situasi
kita saat ini segala sesuatu yang berbau status quo sedang tidak disukai.
Ekstrimya saya bisa dianggap melecehkan manajemen.
Untuk memberi klarifikasi yang agak lengkap, saya mencoba menyandingkan
kedua binatang ini, supaya jelas bedanya, tanpa harus mengatakan mana yang
lebih baik atau lebih buruk.
Manajemen cenderung dilalakukan untuk memelihara keteraturan jalannya proses
pencapaian sasaran, alurnya dari atas kebawah dengan pendekatan
pengendalian dan pengawasan. Rencana kerja dan anggaran untuk periode
tertentu yang telah disusun untuk mencapai suatu sasaran, dilaksanakan
dengan mengorganisir manusia dan peralatan yang ada. Untuk menjamin
kebenaran alur dan kecepatan pelaksanaan dilakukan pengendalian dan
pengawasan secara berkala, yang diantaranya juga diikuti pemecahan masalah
yang dihadapi. Semua keteraturan itu dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang
telah ditetapkan sebelumnya. Keteraturan dan ketaatan pada rumusan sasaran
yang telah ditetapkan sebelumnya inilah yang berbau status quo. Jadi tidak
jelek, karena memang harus begitu. Kalau terlalu banyak improvisasi pada
rumusan sasaran dan perencanaan tentu akan menimbulkan kebingungan dan
ketidak teraturan, sehingga menyimpang dari esensi penerapan manajemen.
Kepemimpinan cenderung dilakukan untuk mendorong kemandirian dan keberanian
melakukan perobahan dan inovasi, dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan
saling ketergantungan dengan jalan membangkitkan motivasi dan inspirasi.
Kepemimpinan memusatkan perhatian pada memberi arah, untuk jangka yang lebih
panjang, dengan memberi gambaran besar atau cita cita yang dituju, dengan
berbagai gambaran risiko dan nilai-nilai yang dikembangkan. Karena itu
kepemimpinan berusaha mengintegrasikan potensi yang ada untuk membentuk satu
�barisan � menuju arah yang dianggap benar dan menbangkitkan komitmen
bersama untuk menuju arah itu.
Itulah mengapa dalam kepemimpinan, masalah motivasi dan inspirasi menjadi
sangat penting, karena dalam perjalanan menuju arah yang telah dipilih itu
senantiasa ditumbuhkan suasana saling ketergantungan satu sama lain.
Dengan deskripsi diatas dalam kepemimpinan tidak ada pendekatan top-down
seperti halnya dalam manajemen. Juga tidak ada pengendalian dan pengawasan.
Yang ada inspirasi dan motivasi. Kepemimpinan tidak memerlukan planning dan
budgeting, tetapi menekankan pada penentuan arah. Kepemimpinan tidak
menekankan pada pengorganisasian dan pengisian staff, tetapi pada
penyelarasan gerak, agar semua potensi berintegrasi, menyatu menuju satu
arah dengan komitmen yang tinggi. Tumbuhnya rasa kemandirian dan keberanian
berinovasi lebih penting dalam mengukur keberhasilan kepemimpinan,
dibandingkan dengan manajemen yang lebih menekankan ketaatan dan
keteraturan.
Dengan kompetensinya pada pencapaian sasaran jangka panjang itulah, maka
untuk mengamankan tahapan yang telah dicapai dan menuju tahapan berikutnya,
diperlukan pemeliharaan dalam keteraturan manajemen. Apakah dengan demikian
kepemimpinan disebut inti masalah manajemen atau manajemen hanya bagian dari
kepemimpinan, itu hanya permainan kata kata yang tidak memberi kejelasan.
Adalah lebih beralasan memahami esensinya.
Yap
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!