Nah, gitu dong mas, senang sekali kalau  sudah tergerak untuk merespons 
begini.

Sebelumnya saya ingin klarifikasi dulu mengapa saya bilang manajemen itu 
bersifat status-quo. Sekedar menyamakan visi dan meletakkan konteksnya agar 
proporsional.

Singkatnya pada point inilah sifat status-quo manajemen itu: Rencana kerja 
dan anggaran untuk periodetertentu yang telah disusun untuk mencapai suatu 
sasaran, dilaksanakandengan mengorganisir manusia dan peralatan yang ada. 
Untuk menjamin kebenaran alur dan kecepatan pelaksanaan dilakukan 
pengendalian danpengawasan secara berkala.

Sasaran manajemen adalah �getting things done�. Artinya sasaran (things) itu 
sudah ditetapkan lebih dahulu, dan skalanya relatif pendek. Karena itu 
dibuatlah perencanaan sesuai , yang pada hakekatnya merupakan pilihan 
terbaik dari segala alternatif yang tersedia pada saat itu. Untuk 
mengakomodasi kesamaan persepsi terhadap rumusan perencanaan, banyak orang 
menyajikannya dalam bentuk kuantitatif, sehingga perbedaan disiplin ilmu 
tidak menyebabkan perbedaan penafsiran.

Dengan demikian ketaatan pada perencanaan merupakan point penting dalam 
rangka pencapaian sasaran. Karena itu tidak boleh ada improvisasi, untuk 
peningkatan kualitas sasaran sekalipun, didalam pencapaian sasaran itu.

Secara eksplisit bung  Aswat juga menyatakan bahwa : Kepemimpinandibutuhkan 
agar proses manajemen itu berjalan sehingga tujuan bisa dicapai secara 
efisien dan efektif.

Dengan demikian yang boleh improvisatif adalah proses pelaksanaannya. Tetapi 
sendi sendi dasar yang telah diletakkan dalam perencanaan  harus ditaati, 
sehingga sasaran  yang telah ditetapkan dalam perencanaan dapat dicapai 
secara effisien dan effektip. Ketaatan pada azas yang telah ditetapkan 
sebelumnya inilah yang saya maksud dengan status quo.

Sangat berbeda dengan kepemimpinan, dimana bahkan sasaran itu masih dapat 
diharu biru, direvioew sepanjang perjalanan proses. Kepemimpinan tidak 
membutuhkan ketaatan pada perencanaan dan siap mengantisipasi perobahan yang 
timbul, termasuk perubahan rumusan sasaran. Karena itu kepemimpinan dinamis 
sifatnya.

Manajemen itu harus status-quo. Kata kuncinya keteraturan.
Begitu lho�

>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Wed, 15 Sep 1999 21:56:36 +0700
>
>Bung Yap dan Kuli Tintaer,
>
>Saya rasa manajemen dan kepemimpinan memang tidak harus dipertentangkan.
>Manajemen dalam pengertian umum adalah sebuah proses. Kepemimpinan
>dibutuhkan agar proses manajemen itu berjalan sehingga tujuan bisa dicapai
>secara efisien dan efektif. Silahkan melhat proposal para penyumbang
>Contingency Theory untuk melihat bahwa manajemen tidak cenderung status 
>quo.
>Lihat pula evolusi teori-teori manajemen yang saya posting.
>
>Saya melihat usaha Bung Yap untuk membandingkan antara Manajemen dengan
>Kepemimpinan justru malah mengaburkan esensi pembahasan.

Oh ya? Saya sama sekali tidak bermaksud mengaburkannya. Justru mengurai 
dengan data yang cukup mengapa hal itu berbeda. Dimana ya kekaburan itu 
terjadi? Fungsi-fungsinya jelas berbeda, karena itu saya melihatnya memang 
berbeda, sehingga tekanannya juga berbeda: yang satu keteraturan, satunya 
improvisatif. Yang satu status-quo, satunya dinamis.

>
>Kalau Proses
>Manajemen tu dipandang kaku dan cenderung status quo atau tidak berubah 
>maka
>justru didalam praktek, para praktisi sering mengacak-acak proses itu
>sehingga sebagai misal sering muncul reaksi yang bersifat reaktif atau 
>tidak
>terencana didalam menghadapi perubahan.

Nah, kalau diacak acak ya sudah tidak proporsional lagi. Barangkali ini juga 
salah satu pendorong saya untuk memperjelas bedanya. Sehingga diharapkan 
setiap pemain tahu dia sedang memainkan apa. Bukankah ketidah tahuan pada 
peran yang sedang dilakonkan ini menimbulkan hal hal yang kontra produktip?
Contoh yang paling terkenal adalah kebingungan masyarakat ketika seorang 
Ketua Lembaga Tinggi Negara (DPA) tiba-tiba berperan menjadi pelawak tanpa 
menanggalkan atribut Ketua DPA-nya.  Atau seorang anggota MPR yang 
berlindung dibalik Ijin Presiden ketika dipanggil polisi untuk masalah 
bisnisnya yang melahirkan mega skandal BB.
Lalu bagaimana kita harus melihatnya?

>
>Sebagai misal, Perencanaan dibuat
>namun proses untuk memonitor atau mengevaluasi apakah proses organisasi
>telah berjalan seperti yang direncanakan tidak dilakukan sehingga kemuncula
>sebuah masalah yang tidak terantisipasi dihadapi dengan solusi yang
>menyimpang dari kebijaksanaan umum organisasi.

Ini agak mengherankan, karena fungsi kontrol diabaikan sebegitu rupa. 
Kontrol biasanya dirumuskan dalam suatu prosedur baku dengan tujuan untuk 
menjamin bahwa semua kegiatan dalam organisasi itu berjalan seperti yang 
direncanakan.
Kalau dalam suatu organisasi terdapat kegiatan yang belum tercover dalam 
rumusan pengawasan, tentu agak mengherankan hal itu terjadi.
Tetapi kalau yang dimaksud adalah masalah yang terjadinya diluar kemampuan 
perencanaan, maka biasanya ditangani oleh crisis center. Tergantung besar 
kecilnya masalah.

Perubahan sasaran yang terjadi ditengah perjalanan pelkaksanaan, biasanya 
juga harus disahkankan dulu dalam bentuk revisi atau relokasi, sehingga 
termasuk dalam lingkup pertanggung jawaban pada akhir periode pelaksanaan.

Atau barangkali pura-pura tidak tahu, karena (mungkin) punya interest 
tertentu? Misalnya ketika Ketua BPK dengan sangat yakin menyatakan bahwa 
Laporan Hasil Pemeriksaan PwC tidak akan disampaikan kepada DPR. Ini kan 
luar biasa mengherankan, sekaligus pelecehan pada hukum dasar kita yang 
menyatakan bahwa Laporan BPK itu ya harus disampaikan kepada DPR. Gampangnya 
ngomong, yang membayar PwC sebesar Rp. 7.5 milyard itu kan rakyat. Masakan 
rakyat tidak boleh tahu hasilnya? Kalau begitu bayar aja pakai duit pribadi. 
Belum lagi bicara masalah pelecehan kepada  DPR (Contempt of the Parliament) 
yang sanksinya hukuman badan 1 tahun segera masuk. Yang salah sistemnya atau 
orangnya sih?
>
>Di sisi yang lain, management
>of change menyiratkan bahwa perubaan harus diantisipasi. Artinya, perubahan
>itu harus dihadapi secara terencana dan bukan secara reaktif.

Akur boss. Management of Change bertujuan memanajemeni cara menghadapi 
perubahan. Perubahan yang akan dihadapi itupun sudah dirumuskan. Kemudian 
dirumuskan cara mengantisipasinya. Ada unsur contingency disini, tetapi 
hal-hal itu juga tetap diinventarisir dan dibakukan dalam suatu prosedur 
tetap untuk menjamin keteraturan, kontrolabilitas dan akuntabilitas. Inilah 
yang membuat management of change sekalipun, adalah bersifat status quo, 
dengan pijakan sasaran yang akan dicapai dan  ketaatan pada perumusan baku 
lainnya didalamnya.
>
>Sebagai misal,
>menerapkan disain organisai organik ke dalam organisasi militer adalah
>bertentangan dengan prinsip-prinsip dan doktrin organisasi kemiliteran.

Yang ini saya bener-bener nggak ngeh. Maklum belum pernah melongok kedalam 
perut organisasi militer. Jelasin dong�

>Menarik orang yang suka bekerja di birokasi untuk bekerja dalam organisasi
>yang selalu mengahadapi perubahan adalah sebuah keputusan yang kurang bisa
>dipertanggungjawabkan.

Mengapa? Apakah karena pelaku manajemen (para birokrat) tidak terbiasa 
dengan perubahan itu?  Terbiasa dalam situasi status-quo?

Silahkan mengunjungi IBM dan Astra. Pelajaran apa
>yang kiranya bisa dipetik berkaitan dengan diskusi ini?
>
Setahu saya, IBM dan Astra adalah sedikit contoh penganut fanatik Total 
Quality Control. Mereka mendemonstrasikan dengan baik �continous 
improvement�. Tetapi secara over all, proses manajemennya masih tetap 
berpedoman kaidah baku, walaupun iklim kerjanya banyak mendorong lahir dan 
berkembangnya pemimpin. Citibank, Pepsi Cola, Burger King dan Saab company 
juga berada pada jalur yang sama. Begitu konon saya dengar. Atau ada fokus 
lain yang lebih menarik?

>Jadi, proses manajemen adalah sebuah proses yang dinamik dan selalu harus
>responsif terhadap perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal.
>Sedang Kepemimpinan dengan style tertentu dibutuhkan untuk membuat proses
>manajemen di lingkungan dan situasi tertentu itu berjalan.

Persis. Sikap responsif itu tercermin dalam perencanaan yang telah 
ditetapkan. Disini status quo-nya. Sementara leadershipnya bertugas carry 
out the described planning. Apabila perlu dengan segala improvisasi. Karena 
itu lebih dinamis.

>
>Seandainya Bung
>Yap bisa membentuk tim yang self managed dan terdiri dari manusia type X
>[McGregor] dengan disain organisasi yang Mekanik serta Kepemimpinan yang
>berorientasi pada output [Blake ang Mouton] maka itu akan menjadi sebuah
>disertasi yang menjungkalkan banyak teori yang telah ada.
>
Ah, masa sih nggak bisa? Bukankah kita boleh memandang setiap anggota tim 
kita sebagai the responsible adult? Yang type-X sekalipun. Cobalah mas, 
nggak besar kok risikonya, tetapi sangat besar manfatnya. Terutama pada 
alignment, paradigm-shift. Tetapi supaya message ini nggak terlalu panjang 
(hemat bandwidth), insya Allah akan saya tulis dalam message lain saja ya�

>��
>(senang memperoleh pencerahan)
>
Yap
(mari kita galakkan saling penjarahan� eh.. pencaharan� eh salah melulu� 
penceriaan)


>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke