Asyik juga menikmati perdebatan negara federal yang berpangkal dari indikasi
pemisahan diri dari negara Indonesia. Seolah semua yakin bahwa tujuan negara
dapat dicapai dengan bentuk negara tertentu, sistem kenegaraan tertentu.
Saya masih ingin ikut memahami jalan pikiran para pakar dimilis ini.
Tapi iseng iseng saya jadi ingat debat para analis sepakbola, ketika tim
nasional kita kalah melulu dibeberapa tahun yang lalu, sampai sekarang.
Lumayan deh sekarang masih bisa melanjutkan partisipasi di Piala Asia.
Perdebatan kala itu berkisar pada : sistem 4-4-2 (Jerman) lebih menjamin
kemenangan daripada 424 (Brasil) atau 433 (Belanda) dan seterusnya. Ternyata
penggantian sistem itu bolak balik hasilnya kalah juga. Padahal telah makan
energi besar. Lalu trial and error lagi. Diantaranya disadari bahwa
kemampuan dasar para pemain memang belum memadai, fisik kurang menunjang,
stamina kurang bagus, dan teknik dasar masih belepotan. Pelatih asing
diundang, tim yunior dikirim ke Italy untuk jangka panjang. Juga disepakati
bahwa kompetisi antar klub mesti digalakkan dan sebagainya, dengan sasaran
agar kemampuan individu meningkat baru kemudian disusun tim berdasarkan
materi pemain, seperti yang dilakukan Risnandar sekarang dan sedikit
berhasil. Berarti memang diperlukan kemampuan individu yang baik dan tim
yang disusun berdasarkan kemampuan nyata individu pemain.
Ibarat main sepakbola, sekarang para aktivis kita sedang getol berpikir
tentang bentuk negara, yang katanya paling cocok untuk mengatasi
disintegrasi. Ada yang bilang otonomi, ada yang bilang federasi, bahkan ada
yang lebih 'maju' perpisahan damai saja ala Aceh. Tetapi disangkal yang
lain, karena perpisahan dengan Timlo yang tadinya didisain menjadi
perpisahan damai juga berbuntut kekerasan juga.
Kalau sepakbola pemainnya cuma 11 orang, maka negara ini jutaan orang,
sehingga sedikit perobahan saja dampaknya sangat besar.
Pertanyaannya, apakah benar tujuan negara dapat dicapai hanya dengan
mengotak atik bentuk negara?
Apakah bentuk negara itu benar-benar akar masalahnya?
Katanya pengennya mencapai adil makmur bagi semua.
Apakah benar adil makmur itu harus berawal dari perumusan bentuk negara?
Jawabnya bisa ya bisa tidak. Artinya bentuk negara bukan awalan yang mutlak
untuk mencapai tujuan negara. Sementara merobah bentuk negara terbukti
memerlukan banyak energi nasional.
Mengapa bukannya energi nasional itu difokuskan untuk mencapai adil makmur
saja daripada diboroskan untuk sesuatu yang tidak signifikan?
Kalau kita mau berpikir jernih, nampaknya akan ketemu juga jalan kesana.
Marhaban Ya Ramadhan.
Yap
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, 10 December 1999 12:58 WIB
Subject: [wjseto] Re: [Kuli Tinta] Ibarat penyakit..
> Ah ... kang Marto ini.
> Orang jawa yang sampai ke Suriname, New Caledonia, atau bagian
> lain di Nusantara bukan karena bawah sadarnya bahwa mereka hendak
> menguasai dunia namun karena itu merupakan pilihan terbaik mereka
> sebagai orang-orang yang terpinggirkan oleh peradaban. Jadi
> budak, kuli, atau orang buangan gitu lho kang.....
>
> Kang Marto, dalam sejarah Nusantara, pusat-pusat pendidikan itu
> mulai berkembang dimana sih? Lalu siapa yang membangun Sriwijaya
> yang hebat dimasa itu?
>
> ��
>
> ----- Original Message -----
> From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: 10 December 1999 10:30
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Ibarat penyakit..
>
>
> Cak ��, negara kesatuan itu khan sudah paralel (cocok) dengan
> gelar-gelar
> raja Jawa, Hamengkubuwono / Mangkunegoro (yang memangku
> bumi/negara),
> Pakubuwono / Pakualam (sebagai paku atau pusat bumi/alam). Wajar
> saja kalau
> ada keinginan bawah sadar orang Jawa untuk memangku atau
> menjadikan sebagai
> pusat, jangankan Indonesia, bila perlu seluruh dunia. Juga yang
> mendukung
> paling keras NKRI selain TNI adalah kaum Nasionalis (Golkar/PDIP)
> yang
> pusatnya di Jawa.
>
> Memang juga harus diakui pusat-pusat kebudayaan di Asia Tenggara
> itu dulunya
> yang terbesar di P. Jawa (Sumatra jaman Sriwijaya saja).
>
> MB
>
> ----- Original Message -----
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, December 09, 1999 10:35 PM
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Ibarat penyakit..
>
>
> >
> > Ada satu kalimatnya yang agak mengurangi rasa respek saya
> > terhadap gelar doktornya. Kalimat itu adalah "percayalah Jawa
> > tidak akan miskin karena negara Federal...." Lho....,
> argumentasi
> > negara Federak koq nyeleweng ke masalah kekhawatiran Jawa
> (orang
> > Jawa?, penduduk Jawa?, suku Jawa?, pulau Jawa?)yang akan
> menjadi
> > miskin karena NKRI menjadi NFRI yang sebenarnya sunggfuh
> sangat
> > sulit dinalar.
> >
> ---------------------
> > Duh Gusti...., mengapa dulu Engkau membiarkan Belanda
> memusatkan
> > pemerintahan Hindia Belanda di Jawa............... Seandainya
> > saja sejarah pemerintah Hindia Belanda itu di luar Jawa maka
> > mungkin persoalan yang akan dihadapi oleh bangsa ini lebih
> > mudah........
> >
> > ��
> >
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
> langganan: [EMAIL PROTECTED];
> berhenti: [EMAIL PROTECTED]
> japri: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>
> ------------------------------------------------------------------------
> WeMedia.com, A Community Is Born
> http://clickhere.egroups.com/click/2095
>
>
>
> eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/wjseto
> http://www.egroups.com - Simplifying group communications
>
>
>
>
>
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!